Pemuda Dilarang Kritis, Belajar saja di Rumah



Bukan pemuda namanya kalau ia antipati. Pemuda erat kaitannya dengan istilah kritis, berani, pantang menyerah, dan berdaya jelajah tinggi. Dalam berbagai kesempatan pemuda selalu dilibatkan. Pemuda adalah pihak terpenting dalam estafet kepemimpinan suatu negeri. Namun apa jadinya bila daya kritis pemuda diredam, suaranya dibatasi ?

Seperti yang dilakukan oleh pemerintah, pembatasan suara pemuda dilakukan melalui surat edaran Dikti Kemendikbud No 1035/E/KM/2020 perihal 'Imbauan Pembelajaran secara Daring dan Sosialisasi UU Cipta Kerja'. Mahasiswa, yang sejatinya pemuda istimewa dan calon pemimpin masa depan negara, diredam daya kritisnya oleh pemerintah, dikarenakan para pemuda mahasiswa diminta agar dalam menyampaikan aspirasinya tidak lewat parlemen jalan, tapi lewat jalur akademis terstruktur saja.

Maraknya aksi demo penolakan pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang disuarakan di berbagai daerah, malah dicurigai pemerintah bahwa aksi tersebut didanai oleh oknum tertentu. Dan salah satu upaya pemerintah meredam aksi demo adalah dengan mengamputasi peran pemuda, pihak yang paling lantang menyuarakan penolakan Omnibus Law serta paling aktif turun ke jalan membela hak rakyat.

Tak tanggung-tanggung, surat edaran dikti kemendikbud untuk pemuda mahasiswa bisa mengancam hingga pemuda mahasiswa tersebut dapat kehilangan statusnya sebagai mahasiswa jika masih tetap keukeuh turun ke jalan dan lain-lain.

Potensi besar para pemuda dengan semangat juang pantang menyerah membela hak rakyat harus berakhir tragis dibawah dikte-dikte sistem demokrasi-kapitalis. Dalam sistem ini, ketika daya kritis pemuda menentang kepentingan penguasa dan pengusaha, maka yang dilakukan adalah pembungkaman dan pembungkaman.

Sebaliknya, potensi besar tersebut dimanfaatkan sebagai roda kekuasaan pemulus jalan kepentingan. Lihatlah, bagaimana sistem pendidikan dibawah komando Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dengan program “Merdeka Belajar”nya mencetak intelektual bermental buruh dengan kurikulum berbasis ekonomi-sekuler, otomatis akan menghasilkan intelektual berdaya saing pasar. Sehingga output pendidikan hari ini hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi.

Potensi pemuda dalam sistem demokrasi-kapitalis dinilai berdasarkan pundi-pundi materi. Alhasil, idealisme pemuda selalu dibenturkan dengan masa depan pendidikannya. Sistem ini mendesain masa depan pendidikan adalah kesejahteraan materi, tak ada tempat bagi yang bernama “idealisme”.

Sebab dalam sistem ini, idealisme dan pendidikan tak pernah jalan beriringan. Artinya tak ada tempat bagi pemuda untuk kritis dan peduli pada nasib bangsanya. Pemuda harus memilih, sukses pendidikannya (dalam artian berhasil meraup materi dengan title dan ilmu) atau mempertahankan idealismenya (menjadi pecundang yang dipandang sebelah mata). Demikianlah kroni hidup dalam sistem kapitalis. Bertentangan dengan naluri dan tak manusiawi.

Dalam sistem Islam, nasib pemuda tak akan sedemikian memiriskan. Karena sistem islam memastikan potensi pemuda sejalan dengan idealisme dan output pendidikannya. Asas pendidikan Islam yang berbasis aqidah Islam akan membangun sistem pendidikan yang berdasarkan ketakwaan kepada Allah.

Pemuda akan didorong untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan demi mendapatkan ridho Allah, persis firman Allah dalam QS. Adz-Dzariat: 56. Sehingga, pemuda dengan potensi besarnya akan diarahkan untuk membangun sistem Islam yang akan menyejahterakan umat sekaligus sebagai penjaga sistem Islam.

Pemuda adalah aset berharga suatu bangsa. Karena para pemudalah yang akan membawa pada perubahan dan yang akan membawa negeri menuju pada masa depan. Arah perubahan dan masa depan suatu bangsa tergantung pada idealisme pemudanya. Syariat Islam mengarahkan idealisme pemuda hanya pada Allah SWT semata. Dan pergerakan pemuda yang beridealisme Islam akan membawa bangsanya menjadi bangsa yang memiliki peradaban gemilang  yang tiada duanya di dunia.

Sehingga output pendidikan Islam akan mencetak generasi pemuda pejuang Islam seperti para sahabat di masa Rasulullah SAW serta seperti pejuang janji Allah SWT, Muhammad Al-Fatih. Semua ini akan sangat mungkin diwujudkan hanya jika umat bersepakat diatur oleh syariat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu’alam bi ash-shawwab.[]

Oleh: Nurhayati
Komunitas Revowriter


Posting Komentar

0 Komentar