Partai Islam Jadilah Ideologis, Jangan Pragmatis


Satu persatu partai Islam lahir jelang pemilu. Ada partai Ummat yang dideklarasikan Amien Rais, mantan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN). Ada pula Partai Masyumi Reborn dideklarasikan oleh pendiri Partai Bulan Bintang (PBB) KH Ahmad Cholil Ridwan. Keduanya mengikrarkan dan mengklaim diri sebagai partai Islam. Jika Partai Ummat menjadikan bentuk Perisai Tauhid, yakni kalimat Tauhid yang disebut sebagai kalimatut tahrir (kalimat pembebasan) sebagai lambang identitas keislaman. Sementara Partai Masyumi Reborn bermaksud menghidupkan kembali Partai Masyumi yang pernah menjadi partai kaum muslimin terbesar di Indonesia di masa lalu. 

Di tengah fenomena ini mantan wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoal agar partai Islam introspeksi diri, terkait banyaknya masyarakat memilih Habib Rizieq untuk menyuarakan aspirasinya dan tidak percaya dengan partai Islam. Hal ini tentu tidak aneh terjadi. Sebab kemunculan partai baru hakikatnya hanya berganti baju. Mengganti label dengan yang baru tetapi sepak terjang mereka, muatan maupun isinya, sama saja. Membawa baju Islam untuk meraih simpati umat muslim yang mayoritas, namun menanggalkannya saat dirasa ‘suara’ Islam sudah tak dibutuhkan. Islam cukup jadi pemanis jalan kemenangan parpol dalam Pemilu. Tetapi giliran umat menggulirkan opini, menginginkan penerapan Islam kaffah. Tuntutan mereka diabaikan begitu saja. Ibarat kacang lupa akan kulitnya.

Mengusung Islam sebagai bahan baku politisasi agama bukan hanya dilakukan parpol yang melabeli dirinya sebagai partai Islam, tetapi juga oleh hampir semua parpol berhaluan nasionalis yang ada dalam sistem sekarang. Seperti hasil temuan PPIM UIN Jakarta melalui platform twitter dan youtube. Bahwa dalam rentang waktu 2009-2019 narasi politisasi agama telah menjadi pemicu faham konservatisme keberagamaan di media sosial. 

Berkaitan dengan isu hangat ini pula, ketua umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, TGB Muhammad Zainul Majdi mengingatkan akan dampak buruk dan bahaya politisasi agama. Ia menggambarkan adanya sekelompok kekuatan politik yang menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk mendapat simpati sebagai bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik (republika.co.id,19/11/2020). Maka wajar, jika dalam pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019 lalu pengamat politik Islam Universitas Indonesia (UI) Doktor Yon Machmudi berpesan agar agama hendaknya menjadi kekuatan moral dalam menjalankan politik adiluhung, bukan sekadar komoditas politik murahan (antaranews, 10/8/2018)

Keberanian parpol menggunakan politisasi agama sebagai jaminan kemenangan dalam pertarungan politik sesungguhnya adalah pola lama, jadul dan tanpa pencerahan. Sejak zaman si kuning, Golkar suara umat Islam ditampung melalui barisan ‘satker ulama’. Demikian pula partai bergambar Banteng yang terkenal berseberangan dengan Islam. Tak ingin kehilangan peluang, PDI-P ini memilih ‘baitul muslim’ sebagai camp pengumpul suara umat Islam. Janggal?. Tentu tidak. Sebab dalam sistem demokrasi tak ada musuh dan kawan abadi. Karena yang abadi hanyalah kepentingan. 

Politisasi agama untuk merebut simpati umat Islam sesungguhnya hanyalah strategi pelemahan dan pemecah belahan. Karena faktanya, pasca pemilu partai Islam tidak pernah sungguh-sungguh memperoleh kemenangan. Suara mereka dipermainkan. Tak lebih sekedar alat meraih kepentingan politik semu ala demokrasi. Lalu kemanakah gelombang suara umat Islam harus diarahkan agar mampu meraih kemenangan hakiki?.

Partai Islam dalam Selubung Demokrasi
Munculnya partai Islam dalam selubung demokrasi haruslah diapresiasi. Sebab ini adalah bukti, bahwa tubuh umat Islam masih bereaksi. Masih ada idealitas dan kepercayaan diri memberi mimpi besar perubahan. Mengganti wajah kedzaliman dan kesewenang-wenangan, dengan keadilan dan kesejahteraan versi Islam.

Tetapi jerat-jerat demokrasi nyaris tak dapat dihindari. Sehingga kehadiran partai-partai Islam terjegal. Belum mampu berjuang secara jujur dan hakiki. Mengutamakan kemaslahatan rakyat dan menjauhkan kepentingan pribadi ataupun golongan. Karenanya para aktor Islam hanya bisa memainkan sandiwara politik sesuai tuntunan sistem demokrasi. Terjebak dalam retorika politik praktis, hingga rela mencampakkan idealisme Islam dan menganggapnya usang. Berbalik arah dan memilih berkompromi dengan keadaan. Sebab faktanya dari pemilu ke pemilu elektabilitas parpol Islam semakin suram. Penyebabnya adalah terlalu keukeuh berpegang pada identitas Islam. Padahal sudah tak laku di pasaran. Maka jika ingin menang, tak perlu terlalu militan, apalagi ikut-ikutan menyambut penerapan syariah Islam. Ini terlalu berbahaya, menentang arus. Tak sesuai dengan prinsip keberagaman, dan tidak cocok dibawa di negeri Indonesia yang plural. Walhasil aroma kompromi semakin kental. Tak ada lagi perjuangan atas dasar ideologi. Tak ada lagi suara partai yang memihak pada kebenaran hakiki. Kebenaran dari Dzat yang mencipta alam semesta, yakni Allah swt. 

Akibatnya tak bisa dibedakan mana partai Islam, mana partai sekuler. Keduanya sama-sama menjadi alat perebutan kekuasaan demi kepentingan segelintir orang. Sungguh memprihatinkan. Maka wajar jika umat hilang kepercayaan. Bingung memilih diantara dua jalan, ikut golongan Islam atau golongan sekuler. Akhirnya tak sedikit yang memilih golongan putih karena sedih, apatis atau pun alasan ideologis. Demikianlah realitas politik kekinian parpol Islam dalam selubung demokrasi. Tak mampu berkutik kecuali bersikap pragmatis. Mereka dibungkam dan mati aspirasi. Tunduk pada keputusan hukum ideologi sekuler kapitalisme yang menghegemoni. 

Tak cukup berhenti di sini. Secara internal parpol Islam juga memiliki cacat bawaaan. Hal ini diungkap dalam kitab at Takattul al Hizbiy milik Syekh Taqiyuddin An-Nabhani. Dengan lugas dikatakan, parpol Islam sekarang sekedar menjadi tempat ngumpul dan bersenang-senang. Menyatukan orang-orang yang dianggap mampu menjadi representasi seluruh komponen, kelompok, dan elemen masyarakat atas dasar persamaan ras, suku, kebangsaan, kedaerahan, profesi, instansi, bisnis, atau sekedar ngefans pada publik figure yang sengaja dipilih sebagai pemikat massa. Tapi sayang, partai kosong dari konsepsi, ide, atau pemikiran yang jelas. Bahkan orang-orang di dalamnya tidak mampu menggambarkan pemikiran apa yang sejatinya diusung partainya, karena gagasan partai belum mengkristal pada diri individu-indvidu di dalamnya. Berkumpulnya mereka sekedar berbekal perasaan dan semangat yang bertumpu pada jargon-jargon yang berlandaskan kepentingan sesaat. Kacau dan tidak jelas. Cenderung mengunggulkan sosok tertentu yang memiliki kekuatan fisik atau finansial sebagai pemegang kendali partai. Sedangkan massanya mengambang (floating mass), mudah terombang-ambing oleh isu politik dari media, terlalu gampang menjadi kutu loncat, berpindah dari satu partai ke partai lainnya. Mendamba peningkatan status sosial melalui partai, mencari penghidupan dari partai bukan menghidupkan partai.  

Terhadap partai politik Islam semacam ini umat pun kesulitan mencerna jalan ideologi mereka. Sebab partai tidak mampu membumikan apa yang diembannya di tengah-tengah kehidupan. Pemikiran dan gagasan partai Islam kerapkali diaplikasikan secara serampangan, bahkan nyaris tanpa persiapan, sehingga tampak kacau, kabur, tidak tepat sasaran. Belum mampu menjadi solusi atas problematika yang muncul di tengah kehidupan umat Islam. Ujung-ujungnya partai mudah berkompromi dengan keadaan. Terjebak dalam tawar menawar politik dan kekuasaan, terperangkap dalam politik uang, berkoalisi dan kerjasama dengan partai yang tidak sehaluan.

Maka partai semacam ini alih-alih mampu membangkitkan umat, justru sibuk dengan urusan perut sendiri. Membuat umat semakin frustasi, patah semangat, dan mati spirit perjuangannya.

Partai Ideologis, Pelabuhan Umat
Tidak bisa dinafikan bahwa sejatinya umat membutuhkan partai Islam yang berdaya guna mengantarkan pada kebangkitan. Mengentaskan mereka dari keterpurukan dan kejahiliyahan. Tapi adakah partai yang demikian?. Partai yang tegak di atas asas dan pemikiran Islam. Memiliki konsepsi shahih yang menjadi landasan kuat untuk membangun platform partai ideologis dan penentu arah perjuangan. Partai yang mampu mendidik umat dengan tsaqofah Islam, serta dapat menjelaskan pemikiran dan tujuan-tujuan yang diupayakan, juga bisa mentransformasikan apa yang telah diimani dan dipelajarinya kepada masyarakat. Partai yang mampu menjelaskan khittah-nya serta petunjuk pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan Allah swt dan RasulNya. Sehingga umat memahami dan tercerahkan bahwa tidak ada perkara yang paling urgen bagi umat kecuali mengembalikan hukum-hukum Allah swt sebagai pengatur kehidupan. Inilah satu-satunya jawaban dan solusi menuju arah perubahan baru yang hakiki. Perubahan revolusioner dari sistem demokrasi sekuler kepada sistem Islam.

Keanggotaan individu-individu di dalam partai ideologis sangat kredibel, militan, dan konsisten dalam ikatan-ikatan kepartaian yang berlandaskan akidah Islam. Memiliki semangat yang kuat untuk berjuang bagi umat, berhati bersih dan ikhlas tanpa tendensi. Sampai-sampai sekalipun mereka tidak ingin ikhlas, mereka tidak mampu untuk tidak ikhlas dalam perjuangan. Maka partai semacam inilah yang mampu memikul tugas-tugas berat yang dibebankan kepadanya. Mampu mewujudkan impian besarnya dengan langkah-langkah pasti. Mustahil dibelokkan dengan mudah dari tujuan-tujuan yang diyakininya. Juga tidak gampang dipalingkan dengan perkara-perkara yang bersifat parsial akibat kesulitan-kesulitan hidup sesaat. Tak mudah dilemahkan oleh bujukan dan rayuan baik harta, maupun kekuasaan. Partai akan teguh dan sabar menghadapi rintangan yang menghalangi jalannya untuk meraih tujuan. 

Maka parpol Islam ideologis seperti inilah yang layak menjadi pelabuhan umat. Karena Partai dapat melebur bersama umat. Memadukan berbagai pemikiran, pendapat, dan keyakinan partai serta menjaga kemurnian umat dari segala gagasan dan ide yang mencemari. Pendapat-pendapat yang lemah, serta keyakinan-keyakinan yang batil, merusak dan menyebabkan kemunduran umat sebagaimana yang terjadi pada sistem sekarang ini. Maka atas dasar kesatuan ini, partai ideologis yang shahih akan mampu meraih kepemimpinan umat, mewujudkan kemenangan dan kebangkitan hakiki, serta mengemban risalah Islam hingga tersebar ke penjuru alam. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al qur’an:

“Demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.” (TQS Al Baqarah 143).[]

Oleh: Azizah, S.PdI, Penyuluh Agama Islam

Posting Komentar

0 Komentar