Partai Islam Butuh 'The Ultimate Why'



Kelahiran partai-partai baru bernafas Islam akhir-akhir ini diharapkan mampu membawa perubahan berarti. Jangan sampai hanya berganti bendera dan baju parpol, namun tetap minim visi. Sebab partai itu lahir dari partai lama yang dianggap keluar dari lintasan aksi. Sehingga kekurangan-kekurangan partai lama bisa jadi ikut diwarisi. Alhasil, rakyat bakal kecewa dan gigit jari.

Simon Sinek menjelaskan The Golden Circle dalam bukunya Start With Why, bahwa kesuksesan itu bisa diraih jika pribadi atau organisasi mengawali aksinya dari why (alasan dan tujuan), kemudian merumuskan how (cara meraih tujuan), dan membentuk what (produk, hasil yang akan ditawarkan ke masyarakat).

Begitu pun dengan partai. Partai Islam itu butuh tak sekedar why, tapi the ultimate why. Yakni alasan akhir dan benar mengapa partai harus ada dan tujuan mulia yang hendak dicapai. Selama tidak memiliki the ultimate why, maka posisinya tak ada beda dengan partai-partai yang ada. Sebanyak apapun jumlah kadernya, sebanyak apapun pendukungnya, pada akhirnya akan menemui kegagalan.

Bisa kita tengok bagaimana partai-partai Islam berusaha meraih dukungan masyarakat. Adakalanya partai mengambil langkah manipulasi, dimana istilah manipulasi ini tidak selalu berkonotasi negatif. Adakalanya partai juga mengambil jalan menebar inspirasi. 

Menurut Sinek, manipulasi bisa diwujudkan melalui promosi dan uang, menciptakan ketakutan, dan memberi aspirasi. Apakah partai Islam mengambil langkah demikian? Faktanya, setiap partai berebut menjalin kedekatan dengan tokoh dan public figure dengan harapan bisa mendongkrak suara partai. Mereka ditawari posisi istimewa jika mau bergabung dalam partai. Setiap musim kampanye, tak sedikit masyarakat yang mendapat bingkisan, sumbangan, dan sebagainya. Inilah cakupan kekuatan promosi dan uang.

Selain itu, ada pula oknum partai yang getol menghembuskan sugesti buruk jika masyarakat memilih abstain dalam pemilihan. "Kalau golput, nanti suaranya diambil sama partai sekuler, loh," semacam itu dalihnya. Sugesti ini bisa mempan, bisa juga tidak. Namun bagaimana masyarakat akan mendukung kalau yang terindera oleh masyarakat, mereka itu sama saja dengan partai sekuler. Dan pada akhirnya mereka juga berkoalisi dengan partai-partai sekuler. Yah. Publik kecewa jadinya.

Partai juga terjebak dalam memberikan aspirasi melalui slogan-slogan receh, semisal slogan partai nasionalis religius. Padahal kalau ditelaah lebih lanjut, slogan itu menampakkan rasa canggungnya menyandang predikat sebagai partai Islam. Wajar kalau akhirnya partai Islam berkubang dalam kekalahan demi kekalahan.

Ketika menebar inspirasi, partai Islam berusaha menjelaskan aspek "mengapa/why", yakni alasan berdirinya partai dan tujuan yang hendak diraih. Sayangnya partai-partai Islam tak mampu meyakinkan publik akan why yang mereka bawa. Sebab partai seringkali muncul dari semangat klise, ketidakpuasan terhadap kinerja partai lain yang lebih dulu ada. Juga tak memiliki arah jelas yang hendak dituju. Semisal, ingin membawa ajaran dan syariat Islam agar sejalan dengan aturan yang berlaku. Tak tergambar jelas syariat mana yang hendak dibawa dan malah menempatkan Islam agar tunduk pada aturan buatan manusia.

Dengan why yang kabur, mustahil partai akan mampu merumuskan how (tata cara dalam mewujudkan tujuan) dengan benar. Partai Islam malah menjadikan demokrasi sebagai jalan perubahan. Lagi-lagi, sugesti negatif dihembuskan. "Kalau ga pakai demokrasi, nanti lama sampai ke tujuannya," begitu kilahnya. Padahal berjuang lewat demokrasi itu sudahlah lama, melelahkan, pasti gagal, berdosa pula. Sebab menyelisihi tuntunan Rasulullah yang mulia.

Karenanya, partai Islam butuh the ultimate why. Yakni, melangsungkan kehidupan Islam dan kewajiban berdakwah serta amar ma'ruf nahy munkar. The ultimate why akan membentuk the ultimate how. Dengan cara menjadikan metode Rasulullah sebagai panduan dalam mengubah masyarakat, seraya membuang jauh tawaran demokrasi sebagai kendaraan perjuangan. Perpaduan the ultimate why dan the ultimate how akan melahirkan the ultimate what, yaitu diterapkannya syariah dan Khilafah dalam kehidupan.

Cukuplah kita belajar dari kegagalan partai Refah di Turki dan FIS di Aljazair. Mereka sibuk menjual what (produk/hasil), tapi lupa memahamkan why. Mereka fokus menawarkan ekonomi kerakyatan, mendukung terwujudnya kehidupan yang lebih Islami, dan demokratisasi. Tapi masyarakat tidak dipahamkan mengapa mereka harus memperjuangkan Islam bersama partai. Akibatnya ketika FIS dan Refah dinyatakan sebagai partai terlarang, masyarakat tak bisa memberi pembelaan. Bahkan meninggalkan partai itu berjuang sendirian.

Berbeda halnya jika partai itu terus memahamkan "why" kepada masyarakat. Partai Rasulullah dan para shahabat misalnya. Ketika pemboikotan dan segala bentuk penghadangan dakwah terjadi, justru mereka meraih dukungan dan simpati. Hingga Allah memberikan kemenangan dengan tegaknya daulah Islam di kota Madinah.[]

Oleh: Wati Ummu Nadia

(Insight ini disusun berdasarkan materi dan diskusi bedah buku One Week One Book asuhan Ustadz Yudha Pedyanto)

Posting Komentar

0 Komentar