TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Moderasi Tangkal Radikalisme, Perlukah?


Isu radikalisme tak pernah berhenti walaupun ditengah pandemi. Berbagai kegiatan dilakukan oleh pemerintah untuk membendung radikalisme, baik di pusat maupun daerah. Untuk Kalimantan Selatan sendiri, kegiatan sosialisasi mengenai radikalisme dan menangkalnya juga giat dilakukan. Contohnya saja adalah mencegah paham radikalisme di sekolah. Sebagaimana dikutip pada laman klikkalsel.com (30/10/2020) disampaikan bahwa memahami ajaran agama secara tidak ekstrim diperlukan moderasi (tidak radikal) di masyarakat, terutama di lembaga pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan (Kalsel), Aliansyah Mahadi yang didampingi Kabid Agama, DR Zulkifli Musaba pada acara “Internalisasi nilai-nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Moderasi Beragama” di hadapan para guru PAUD, TK, SD/MI dan SMP/MTs di Hotel Dafam Banjarbaru, Jumat (30/10/2020).

Selain melakukan sosialisasi, pemerintah juga merekrut anak-anak muda menjadi Duta Damai BNPT untuk menangkal radikalisme. Sebagaimana dikutip pada laman https://rri.co.id/banjarmasin/ (8/10/2020), KBRN, Banjarmasin: Regional Kalimantan Selatan mendapat giliran untuk melakukan pelatihan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya, yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT pada tanggal 5 hingga 8 oktober 2020.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari tersebut, sebanyak 50 orang generasi potensial dari Kalsel berhasil direkrut. Ketua Pelaksana Regenerasi Duta Damai Regional Kalsel Eka Wahyu Sholeha mengatakan, kegiatan ini bertujuan menjaring anak muda dari berbagai kalangan untuk menyebarkan pesan perdamaian agar konten didunia maya dipenuhi dengan konten positif dan pesan toleransi.

Upaya moderasi terus digaungkan oleh pemerintah untuk menangkal radikalisme. Namun sebenarnya  perlukah upaya moderasi tersebut ?
Isu radikalisme bukanlah isu baru hari ini. Label radikalisme juga sering dipasangkan dengan orang-orang yang memperjuangkan penegakkan syariah Allah dimuka bumi dan berlawanan dengan pemerintah. Upaya framing negative ini tak lepas dari upaya musuh islam dalam menghadang penegakkan islam dimuka bumi. Melalui mereka juga moderasi islam ditawarkan kepada umat islam dengan dalih mencegah radikalisme. Sehingga tanpa sadar, umat islam sendiri lah yang terjebak untuk jauh dari islam yang kaffah. 

Sesungguhnya para musuh islam sangat takut ketika islam tegak dimuka bumi, karena hal tersebut dapat menghancurkan peradaban mereka, yang sejatinya bukan peradaban manusiawi. Sehingga berbagai upaya mereka lakukan untuk mencegah hal ini. Seperti menyebarkan  dan menyematkan radikalime pada islam kaffah dan menyebarkan moderasi beragama untuk mencegahnya.

Upaya moderasi yang digaungkan hari ini justru menjadi masalah besar yang akan mengakibatkan umat jauh dari ajaran islam kaffah. Moderasi bagian makar yang dibuat oleh musuh islam untuk mencegah penegakkan islam dimuka bumi. Bahkan melalui lembaga pemikiran yang ada di Amerika Serikat, yaitu Rand Corporation, mereka telah membagi islam menjadi empat kelompok. Diantaranya ada islam radikal/fundamentalis, islam modernis, islam tradisional, dan islam sekuler/moderat. Islam radikal/fundamentalis adalah islam yang harus diwaspadai dan dicegah penyebarannya.

Mengetahui hal tersebut, seharusnya umat paham dan sadar bahwa kita tidak boleh terjebak dalam jebakan yang dibuat oleh musuh islam. Upaya dakwah harus kita lakukan ke tengah umat agar umat menyadari bahwa ajaran islam kaffah  bukan radikal. Islam kaffah adalah islam yang rahmatan lil ‘alamiin. 

Dakwah yang kita lakukan haruslah mencontoh pada Rasulullah SAW, yaitu dengan pemikiran dan tanpa kekerasan. Dakwah yang dimaksud juga memiliki tujuan untuk menegakkan sendi-sendi kehidupan berdasarkan aqidah islam dibawah satu kepemimpinan, yaitu dalam naungan khilafah islamiyah. Melalui khilafah islamiyah atau kepemimpin islam inilah, syariah Allah dapat diterapkan dalam segala bidang kehidupan dan menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia. Wallahu’alam.[]

Oleh: Sarinah A, Pegiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar