Menolak Lupa, Demokrasi Telah Mati



Baru-baru buku How Democracies Die karangan Steven Levitsky and Daniel Ziblatt ramai diperbincangkan di media sosial. Bagaimana tidak? Gubernur DKI  Jakarta melalui akun official di Twitter @aniesbaswedan mengunggah fotonya yang mengenakan baju putih dan sarung sedang duduk santai membaca buku  How Democracies Die. Tanggapan publik beraneka ragam. 

Jika melihat fakta yang terjadi tak dipungkiri memang demokrasi telah mati. Demokrasi yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, mendadak membisu untuk suarakan hati nurani rakyat. Banyak kebijakan pro oligarki kapitalis disahkan, jeritan rakyat dibiarkan tak direspon. Demi memenuhi kepentingan golongan (oligarki) tak segan-segan pemerintah menunjukkan keakuannya. Contohnya, UU Minerba, UU Covid, UU Omnibus Law, dan lain-lain yang ditolak rakyat tetap saja disahkan. 

Yang baru saja ditemui, seperti polemik pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja memicu gerak gemas rakyat turun ke jalan. Pelajar, mahasiswa dan buruh tani serentak teriak menolak, karena kebijakan ini dinilai lebih condong berpihak kepada oligarki kapitalis asing aseng. Di fase ini, menurut Kuntowijoyo ķrisis legitimasi disebabkan tidak ada exemplary center, artinya hilangnya panutan yang bisa dicontoh yang seharusnya diberikan oleh mereka yang berada di pucuķ kekuasaan.

Akhinya, vandalisme kata-kata kotor bagi parlemen marak disuarakan, di dinding-dinding, jalan atau bahkan media sosial. Naasnya, suara itu coba dibungkam, turun ke jalan dihajar gas air mata, demonstran diciduk ke penjara tanpa belas kasihan. Hal demikian itu, seperti Mao Zedong katakan "Kekuasaan datang dari laras dan bedil." Kita melihat aparat  sebagai lakon utama yang ditakuti setiap kali demonstrasi terjadi. Dalam buku sejarah, Bhayangkara merupakan pasukan patih Gajah Mada yang ditugaskan untuk menjaga keamanaan kerjaaan. Mereka menangkap siapapun yang berpotensi mengganggu kerajaan. Namun, meski begitu, mereka yang lemah, yang tertindas selalu punya siasat bertahan dan melawan segala bentuk kezaliman.

Kejadian demi kejadian seolah telah menegaskan, kekuasaan yang katanya untuk rakyat menjadi beraroma otoritarianisme. Inilah salah satu indikator yang ada di buku How Democracies Die. Demokrasi mati bukan di tangan jenderal atau siapa, tapi mati ketika penguasa sudah berlaku otoriter tidak mempedulikan suara rakyat lagi. Melalui kekuasaannya dia bungkam suara rakyat, inilah saat dikata demokrasi telah mati

Untuk mengingat ini, kita berterima kasih kepada Goenawan Mohamad yang sudah memperkenalkan karya Milan Kundera, ‘’The Book of Laugther and Forgetting.‘’ Kalimat yang beliau kutip ‘’Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.’’(‘’The struggle og memories against forgetting’’). Istilah melawan lupa menjadi terkenal dan terus dikumandangkan sebagai bentuk perlawanan.[]

Oleh: Anja Hawari Fasya

Posting Komentar

0 Komentar