+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Membunuh Penista Nabi, Ajengan YRT: Begini Penjelasan Hukumnya...

TintaSiyasi.com--Menanggapi kasus pemuda Muslim Chechen yang membunuh seorang guru di Prancis karena telah menista Nabi Muhammad SAW, Mudir Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna (YRT) menjelaskan kedudukannya dalam Islam sebagai berikut.

"Hal itu dijelaskan secara panjang lebar oleh al-Allamah al-Qadhi Iyadh dalam kitab al-Syifa bi-Ta'rif Huquq al-Musthafa pada bagian ke-4 dari kitab tersebut. Saya berikan beberapa kesimpulan," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Jumat (06/11/2020).

Pertama, ia menilai keagungan dan kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu, dijelaskan dalam al-Quran dan banyak riwayat. "Umat Islam wajib menunaikan hak-hak Rasulullah, diantaranya untuk mengimani, menaati, meneladani, mencintai, memuliakan, dan bershalawat kepadanya," ujarnya.

Kedua, menurutnya, menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diancam dengan azab yang pedih dan hukumnya haram. Hukum bagi orang yang secara sengaja menghina, mencaci, dan yang menganggap Nabi ada kekurangan adalah hukuman mati (wajib dibunuh). Perkara ini sudah termasuk ijma (konsensus para ulama). Tidak ada perbedaan di kalangan ulama. "Dalil terkait hukuman mati bagi penghina Nabi adalah al-Quran, al-Hadits dan Ijmak Shahabat," ungkapnya.

Ketiga, jika pelakunya orang kafir harbi seperti Perancis, maka ia menegaskan kepada pelaku bukan hanya terkena hukum bagi penghina Nabi, namun lebih daripada itu, harus ditegakkan hukum perang, karena hubungan dengan mereka adalah perang (jihad). "Negara Islam harus mengumumkan perang (jihad) kepada kafir harbi penghina Rasulullah," tegasnya.

Keempat, menurutnya, jika pelakunya kafir dzimmi (dalam naungan negara Islam), maka ditegakkan hukum mati karena atas mereka sudah tidak ada lagi dzimmah (perlindungan). "Jadi, mereka dibunuh karena kekafiran mereka. Apalagi, status dzimmah tidak menghalangi ditegakkannya hadd atas mereka," ujarnya.

Kelima, jika pelakunya adalah orang muslim, maka ia menilai, mereka juga dijatuhi hukuman mati. Namun para ulama berbeda pendapat apakah karena termasuk pelanggaran atas hadd atau karena kekufuran (murtad). "Jika termasuk pelanggaran salah satu hudud Allah, maka pertaubatannya tidak diterima. Ini pendapat Malikiyyah dan Hanabilah. Namun jika dihukumi murtad (riddah), maka diberlakukan hukuman atas orang murtad dan pertaubatannya diterima. Ini pendapat Hanafiyyah dan Syafi’iyyah," bebernya.

Sementara itu, bagi sang pembunuh penghina Nabi SAW di Prancis yang langsung dibunuh oleh aparat kepolisian Prancis bisa dikatakan mati syahid? Beliau memberi penjelasan sebagai berikut:

Pertama, menurutnya hukuman kepada penghina Nabi bisa ditegakkan oleh individu tanpa harus menunggu negara khilafah, kecuali pada tiga keadaan yakni pertama, pada konteks hukuman mati atas pelaku muslim yang dihukumi murtad (dimana dalam madzhab Syafi’i diterima pertaubatannya), maka harus ada qadhi atau khalifah. Artinya jika ditetapkan hukuman karena hadd (pendapat jumhur), maka bisa langsung dieksekusi. "Kedua, pada keadaan hukuman bagi orang yang samar/multitafsir dalam ungkapannya yang diduga menghina Rasulullah, maka harus ada qadhi/hakim (yang diangkat oleh khalifah/imam) dalam melakukan pembuktian dan eksekusi dan ketiga pada keadaan memobiliasi jihad (futuhat) kepada negara kafir harbi," terangnya.

Kedua, ia menilai, apa yang dilakukan pemuda tersebut yang melakukan pembunuhan karena pembelaan dan kecintaannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah tindakan kriminal. "Para penghina Nabi-lah yang sesungguhnya melakukan kejahatan yang harus dihukum mati. Apalagi yang dibunuh adalah warga negara kafir harbi," tegasnya.

Ketiga, apakah pemuda yang langsung dieksekusi tersebut mati syahid? Ia menyerahkan kepada Allah. "Jika pemuda tersebut melakukan pembunuhan karena pembelaan dan kecintaannya kepada Nabi, semoga Allah memberikan rahmat kepadanya. Karena seseorang akan bersama dengan yang dicintanya," ujarnya.

Terakhir, menurutnya ini kenyataan yang menyakitkan yakni penghinaan yang terus berulang kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, itu karena kita pada posisi lemah secara politik. "Mereka tidak kunjung jera, karena tidak ada yang menghukum mereka. Tidak ada negara yang memberikan pembelaan kepada kehormatan Nabi. Negara tersebut tiada lain adalah al-Khilafah," pungkasnya.[] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar