Membaca di Balik Narasi Busuk Barat



Adanya asumsi buruk dewasa ini mengenai terorisme dan radikalisme yang selalu dikaitkan dengan Islam, sejatinya bukan hal yang baru. Kebencian-kebencian semacam ini masih terus dirawat dan dikumandangkan oleh kaum pembenci Islam. Meminjam kerangka Erwad Said, dengan gemilang dirinya berhasil membangun kesadaran dan menguliti orientalisme sebagai wacana ilmiah yang didorong oleh motif-motif kekuasaan (kolonialisme) yang amat buas.

Dunia barat selalu bicara bahwa budaya ketimuran (Islam) dengan narasi negatif. Barat telah melakukan stereotipe atau stempel buruk untuk dunia timur terkhusus Islam dengan ucapan fundamentalis, radikalisme, terorisme dan ekstremis. Barat melakukan hal tersebut untuk menghambat dakwah Islam dan kebangkitan Islam. 

Untuk itu, Said Hadir membongkar misteri orientalisme barat. Baginya orientalisme itu gaya barat untuk mendominasi, menata kembali dan menguasai timur. 

Robet Lacey, penulis buku The Kingdom, Arabia and the House of Sau'd pernah mengomentari perseteruan barat yang membuat karikatur ejekan bagi orang Arab, yang sembahyang di sebelah menara pengeboran minyak. Pesan yang ingin disampaikan barat: kehadiran industri modern di Arab tidak berhasil mengangkat penduduknya dari keprimitifan mereka yang digambarkan masih sempat sembahyang di tengah-tengah mesin industri. Namun, bagi Robert justru karikatur itu mengisyaratkan meskipun orang Arab mengalami modernisasi, mereka bertahan dengan budaya mereka. Suatu hal yang baginya sungguh mengagumkan.

Tentu masih banyak kecurangan yang harus dibantah secara  fair dan adil. Dalam hal ini, penulis menarik pelatuk analisis buku Success with Word a Guide to the America Language. Hasil kajian ini menunjukkan pengakuan akan peranan bangsa Arab dan ajaran Islam bagi kemanusiaan dan peradaban dunia. Terdapat berbagai peristilahan dalam pengetahuan modern yang dipinjam dari bahasa Arab, misalnya, dalam bahasa Inggris, Alcheury, alcohol, algorism, alkali, azimuth, calibre,apher, elixer, mousoon, nadir, zenith dan zero. Artinya kenyataan ini menjadi bukti sederhana menyangkut ilmu pengetahuan dan teknologi di barat.

Bahkan istilah jahiliyah yang dilayangkan kepada bangsa Arab sebelum Islam seperti sekarang ternyata tidak seburuk dan sejahat yang dibicarakan. Tulisan Muhhib al Din al Khatib membantah dengan mengatakan "Tidak dapat diragukan bahwa Bangsa Arab adalah penyembah berhala. Tetapi makna dari kalangan bangsa-bangsa yang ada pada waktu Islam muncul, yang bukan penyembah berhala dalam berbagai pengertianya? Bahkan sesungguhnya orang-orang arab adalah penganut al Hanafiyyah, ajaran ibrahim dan Ismail."

Dari gambaran singkat ini, ketinggian kebudayaan dan peradaban Islam yang ada pada bangsa Arab  menjadi penunjang kemajuan barat. Untuk mengakhiri tulisan ini saya mengutip firman Tuhan, "Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah. Sungguh Allah Maha luas, Maha mengetahui." (Qs. 2: 115).

Oleh: Anja Hawari Fasya



Posting Komentar

0 Komentar