Maulid Nabi Mewajibkan Muslim Punya Qiyadah Fikriyah Islam




Momentum maulid menjadi kebahagiaan tersendiri bagi muslim seluruh dunia. Beragam ekspresi berpijar dari aktivitas kaum Muslimin memperingati kelahiran Nabi besar Muhammad SAW. Mulai dari lantunan kalimat-kalimat cinta dan rindu pada Baginda,  sampai semangat tinggi menghidupkan sunnahnya dengan harap bertemu dan bersama. Besok mendapat syafaatnya fi yaumil qiyamah. Sungguh ini bukan sembarang rasa yang muncul tiba-tiba. Tapi wujud iman yang terpancar beriak penuh makna. Cinta nabi karena cinta Allah Azzawajalla.

Mencintai Nabi bukan perkara mudah sebagaimana hubungan darah sebab dari rahim yang sama. Tidak harus diajari, ia tahu kemana cinta harus bertabur. Tapi mencintai Nabi dikarenakan tuntutan aqidah, menuntut cara yang benar agar tidak setengah hati, apalagi salah kaprah. Boleh jadi banyak dari kita asyik bersuka ria hanya mencukupkan dengan qasidah, sedekah, ceramah, tapi lupa bahwa kelahiran Beliau adalah rahmah. Rahmat yang menghantarkan kita Muslim sebagai "khairu ummah, ta' muruuna bil ma'ruf wa tanhawna 'anil mungkar" (QS Ali-Imran, 104).

Cinta kepada Allah dan rasulNya dalam bahasa ulama di antaranya: Al-Azhari berkata, "Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan rasulNya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan rasulNya". Al-Zujaj berkata, "Cintanya manusia kepada Allah dan rasulNya adalah menaati keduanya dan ridla terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW". Al-Baidhawi berkata, Cinta adalah keinginan untuk taat". (Pilar-pilar pengokoh nafsiyah islamiyah, Syaikh Abu Rasytah, hlm. 36)

Dari uraian di atas, bisa ditarik benang merahnya bahwa kebahagiaan menyambut kelahiran nabi harus seiring ghirah ketaatan akan risalahNya. Mencintai Beliau dengan segenap ketaatan kepada syariah Allah Sang Pencipta dan Pengatur segala. Begitulah cinta. Cinta yang tidak cukup dalam qasidah, tapi lebih luas dari itu. Yaitu samudera qiyadah-mabdaiyah yang membentang bahkan mengangkasa yakni mahabbah syar'iyah. Cinta yang terwujud dengan melaksanakan seluruh syariahNya. Syariah yang dimaknai sebagai "Seruan pembuat hukum (Allah) yang berkaitan dengan perbuatan hamba" (Mafahim Hizb ed. Terjemah, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, hlm. 24).

Lihatlah bagaimana momentum maulid ini telah dijadikan Shalahuddin al Ayyubi (panglima perang khilafah) untuk membakar semangat berislam kaum muslimin. Sehingga dengan pertolongan Allah tentara salib bisa dikalahkan dan menyerah.  Sebuah sejarah lahirnya maulid yang tidak hanya identik dengan perayaan tahunan semata, tapi menjadi tonggak perjuangan bersama. Bersemangat menegakkan syariatNya. Mengubur kebesaran manusia dan menggantikannya dengan kebesaran Allah semata.

Hari ini, maulid tahun ini, ketika umat Islam tenggelam dalam cinta nabinya, mereka dibuat terhentak oleh ulah para pembencinya. Kita bersama telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bagaimana sebuah negara yang menjunjung tinggi kebebasan bertingkah semaunya. Menyatakan perang kepada agama mulia ini. Karikatur Nabi dibuat tontonan gratis dengan penjagaan ektra protektif. Pemimpin kafir Macron, presiden Prancis berteriak kepada dunia bahwa konsekuensi apapun, dia akan terus dengan sikap kebebasan yang dianutnya. Macron berbuat sekehendaknya sekalipun melabrak prinsip keyakinan kaum Muslim, yakni dengan memperlihatkan kebenciannya memajang karikatur Nabi di kantor pemerintahannya. Ini menunjukkan penistaan terpimpin atas kemuliaan Nabi Muhammad saw. (Cordova Media, 26 Oktober 2020).

Peristiwa menyakitkan ini bukan pertama kali dilakukan oleh negeri dengan pemeluk Islam terbanyak di Eropa, yaitu Prancis. Tapi telah kesekian kalinya dengan terus menerus mempromosikan kebencian dan penghinaan ke seluruh dunia terhadap Islam. Sepertinya menjadi penyakit warisan yang menjadi ciri negeri Napoleon itu. Nenek moyangnya dahulu gagal mementaskan teater yang menghina Nabi. Hari ini ketika umat Islam tak lagi punya pemimpin, mereka begitu lancang melakukan penghinaan kepada Islam dan kaum Muslimin. Umat Islam sudah cukup bersabar menerima banyak penghinaan atas agamanya, sementara mereka semakin berani berbuat lancang. Sayang, keadaan umat Islam hari ini pada posisi seperti sekumpulan manusia tanpa pelindung. Merana!

Tentu kita tidak mau terus-menerus berada dalam kehinaan, kebodohan, kemiskinan, dan kemunduran. Kaum Muslimin harus berjuang menjaga kehormatan sekalipun tanpa perlindungan. Bangkit dengan semangat juang penuh. Penghinaan berulang harus memantik ghirah Islam untuk berdaya upaya menunjukkan kepada dunia akan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Tidak lagi bersikap kompromi kepada mereka yang telah menghina kemuliaan Nabi. Kecam, usir dan katakan tidak untuk seluruh apapun yang terkait dengan Prancis. Apakah itu produk barang atau produk pemahaman (sekularisme, liberalisme dan isme-isme lainnya). Karena bersikap toleransi pada sesuatu yang prinsip adalah kelemahan yang akan membuat gagal untuk bangkit memimpin.

Yang paling utama dari seluruh upaya menjaga kehormatan Islam dan kaum Muslimin adalah hadirnya pemimpin yang siap memberi pembelaan. Sebagaimana pembelaan kehormatan oleh Sultan Abdul Hamid, Khalifah Turki Utsmani. Respon Khalifah yang diikuti ultimatum sebagai pemimpin institusi Islam benar-benar telah membuat kecil nyali penguasa Prancis kala itu. Mereka gagal mementaskan teater yang menghina Nabi (Serial Payithat, sumber dari catatan harian Sultan Abdul Hamid). Karena bagi Muslim, visualisasi fisik Nabi adalah larangan harga mati. Siapapun yang berani melanggarnya akan segera merasakan bagaimana Muslim mengekspresikan cintanya kepada nabi mereka.

Maka menjadi penting kita belajar pada peristiwa masa lampau yang berwibawa. Bergegas menyambut pertolongan Allah dengan merealisasikan sabda Rasul yang mulia, "Innamal Imamu junnatun yuqaatalu min waraaihi wa yuttaqa bihi."

Artinya: "Seorang imam (khalifah) adalah perisai/pelindung, dimana orang-orang berperang  di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya " (HR. Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dll).

Hanya dengan begitu kemuliaan Islam dan kaum Muslimin bisa diraih kembali. Wallahu a'lam.[]


Oleh: Liza Khairina

Posting Komentar

0 Komentar