Lelah dengan Janji Palsu, Umat Butuh Perubahan Hakiki


Lebih dari delapan bulan lamanya dunia diterjang gelombang dengan wabah virus Corona yang berasal dari Wuhan, China. Baik negara tingkat bawah, berkembang dan negara maju sekalipun terkena dempak yang sangat besar. Misalnya saja negara super Power Amerika serikat, gagal dalam menangani pandemi ini. 

Sampai dengan 22 November 2020, sudah tercatat 58.5 juta jiwa terinfeksi covid 19 di dunia dan 1,39 juta jiwa melayang. Di Indonesia pun demikian, dengan jumlah kasus covid sebanyak 498 Ribu kasus dan angka kematian mencapai 15.884 orang. Hal ini menjadi bukti gagalnya penanganan Pandemi secara sistemis. Bukan hanya itu, bahkan ekonomi dunia telah menuju resesi. 

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan jika pemulihan ekonomi global akan berjalan lambat dan lambat, sehingga akan memicu kemiskinan yang meningkat. Pada tahun ini, diperkirakan ekonomi dunia menyusut 4,4 persen. Dan ditahun 2022 dan 2025 melambat sekitar 3,5 persen. 

Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi RI pada kuartal II tahun 2020 minus 5,32 persen. Paling rendah sejak krisis 1999 dan memperparah kondisi ekonomi Indonesia. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 hanya mencapai 2,97 persen. Angka itu jauh dari target kuartal I yang diharapkan mencapai kisaran 4,5-4,6 persen.(Kompastv.com)

Selain itu, dengan alasan ekonomi pula, banyak buruh diberhentikan sepihak oleh perusahaan dan tidak sedikit juga perusahaan kecil yang gulung tikar. Jelas ini juga salah satu penyebab terjadinya peningkatan kriminalitas demi memenuhi kebutuhan hidup.

Bukan hanya dalam bidang ekonomi, kegagalan dalam menangani pandemi menambah keruwetan permasalahan yang sudah mengakar sejak lama. Belum lagi masalah ketidakadilan, sosial, kesehatan, kesejahteraan dan lain sebagainya. Menambah panjang catatan kebobrokan sistem saat ini.

Sistem kapitalisme dan sekularisme gagal menyelesaikan masalah kehidupan

Sistem yang berlandaskan pemisahan agama dari kehidupan, sehingga mengambil solusi alternatif dari kejeniusan manusia. Manusia adalah bagian dari makhluk yang diciptakan oleh Allah yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan.

Sistem ini menjadikan manfaat sebagai asas dalam kehidupan. Sistem yang menjunjung Kebebasan, baik kebebasan dalam beragama, berpendapat, kepemilikan, perilaku atas segalanya.

Korporasi mengambil alih berbagai peran yang mestinya dilakukan oleh negara. Kesehatan, pendidikan, pelayanan publik yang lainnya adalah lahan basah untuk meraup keutungan. Akibatnya rakyat menanggung beban yang sangat berat. Jangankan untuk mendapatkan falisilitas kesehatan dan pendidikan yang layak, untuk memenuhi kebutuhan perut saja terpaksa harus memeras keringat.

Bersamaan dengan itu, lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kaffah menjadi salah satu faktor utama hal ini terjadi. Islam hanya dipahami sebatas agama ritual semata, sehingga tidak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga, maupun dalam interaksi masyarakat dan bernegara. Kondisi semacam menuntut adanya perubahan mendasar. 

Perubahan Tidak Dicapai dengan Demokrasi

Perubahan hakiki tidak bisa diwujudkan melalui mekanisme demokrasi. Semboyan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tak ada pembuktian. Yang ada dari penguasa oleh penguasa untuk kalangan tertentu. Perlu alternatif lain untuk mewujudkannya. 

Berkaca pada kisruh disahkannya RUU Omnibus Law menjadi UU, walaupun banyak penolakan dari elemen masyarakat baik dari parpol, tokoh, ormas, buruh mahasiswa, pelajar maupun juga masyarakat, pemerintah seolah menutup mata dan telinga tak bergeming dengan suara rakyatnya.

Terbukti dengan adanya teken yang dilakukan oleh presiden Joko Widodo pada tanggal 2 November 2020 dengan jumlah halaman 1.187 lembar, dan tanda tangan presiden pada halaman 769, meluluh lantakkan usaha yang dilakukan olah rakyat untuk memperjuangkan hak mereka.

Seyogianya kita belajar bahwa bahaya sekuler demokrasi ini tidak bisa kita hindari atau kita hentikan kecuali dengan perubahan sistem ke arah Islam.

Butuh Usaha Untuk Menggapai Perubahan

“ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri .” (TQS: Ar Rad: 11)
Taghyir artinya perubahan, untuk melakukan perubahan perlu ada amal insan, yaitu aktivitas manusia untuk mengupayakan adanya perubahan. Namun perkara soal hasil ada di tangan Allah SWT.

Perubahan hakiki bukan sekedar kebutuhan, selayaknya kebutuhan jasmani. Melainkan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap manusia yang menginginkan adanya sebuah perubahan. Beralih dari darul kufur menuju darul Islam.

Perubahan hakiki tak akan terwujud jika kita tidak bergerak atau hanya terdiam. Perubahan akan terwujud jika kita mengambil pandangan hidup yang benar dan aturan yang benar. Yaitu aturan yang bersumber dari sang pencipta dan Maha pengatur, Allah SWT.

Khilafah Wujudkan Perubahan Hakiki

Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum Muslimin yang akan menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh alam. Sistem inilah yang secara empirik pernah menaungi umat Islam bahkan non Muslim selama belasan abad. Dan di masa itu, kesejahteraan, keadilan, persatuan hakiki pun terwujud dalam kadar yang tak pernah ada bandingannya. Hingga umat Islam pun mampu tampil sebagai umat terbaik, memimpin peradaban cemerlang sekaligus menebar rahmat ke seluruh alam.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem batil ini dicampakkan. Dan umat Islam bersegera kembali menerapkan hukum-hukum Allah yang dipastikan akan membawa keberkahan. Yakni dengan berjuang menegakkan institusi penerap syariat Islam, yang tidak lain adalah sistem khilafah. Wallahu a'lam bish showab.[]


Oleh: Siti Mustaqfiroh
(Aktivis Muslimah Papua Barat)

Posting Komentar

0 Komentar