TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Layakkah Umat Islam Berharap Pada Joe Biden?


Joe Biden resmi memenangkan pemilu AS dan akan menjadi presiden Amerika Serikat ke-46. Kemenangan Biden menyita perhatian publik terutama umat muslim. Pasalnya jika menang dan terpilih Joe Biden berjanji akan memperlakukan agama islam sebagaimana mestinya.

Joe Biden mengungkapkan pernyataan itu, melalui kanal YouTubenya. "Saya berjanji kepada Anda sebagai presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Saya sungguh-sungguh bersungguh-sungguh," kata Joe Biden.

Selain itu, secara mengejutkan dalam video tersebut Biden juga mengutip hadist Nabi Muhammad SAW. "Hadist Nabi Muhammad memerintahkan siapa pun di antara kamu melihat kesalahan biarkan dia mengubahnya dengan tangannya jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya," kata Joe Biden.

Joe Biden juga menegaskan, suara umat muslim Amerika juga akan menjadi bagian dari pemerintahan jika ia sudah resmi menjabat jadi Presiden AS.

"Suara Muslim Amerika akan menjadi bagian dari pemerintahan jika saya mendapatkan kehormatan menjadi presiden saya akan mengakhiri larangan (Travel ban) bagi muslim pada hari pertama," tambah Biden dalam video tersebut. (JakbarNews.com 7/11/2020)

Janji-janji ini seperti membawa angin segar dan harapan bagi kaum muslim pada perubahan yang lebih baik, terlebih selama ini Trump dinilai anti islam dan secara tegas mengungkapkan kebenciannya terhadap umat islam. Layakkah umat islam berharap perubahan pada Joe Biden?

Kampanye Biden terkait sikap terhadap islam dan muslim tidak menjadi sandaran perubahan kebijakan. Kampanye seperti itu lazim dimuka umum dalam negara demokrasi seperti Amerika. Dalam demokrasi, kampanye hanya alat untuk mengumpulkan suara. Kampanye bukan janji yang bisa dimintai pertanggung jawaban.

Sejak awal Amerika Serikat adalah negara adidaya yang berideologi Kapitalis yang lekat dengan materialistik. Ideologi ini akan melahirkan para pemimpin yang berjiwa kolonial (penjajah). Kapitalisme yang berasaskan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) mustahil memihak pada kaum muslim. Dengan bergantinya presiden baru kebijakan AS terhadap Islam, dimungkinkan berubah  gaya/style dan pendekatan. Namun watak kolonialis akan tetap menjadi wajah permanen kebijakan AS.

Dengan demikian, dapat disimpulkan tidak akan ada dampak perubahan yang mendasar bagi kehidupan politik, budaya dan agama di negeri ini atas pergantian presiden AS selama sistem yang digunakan masih kapitalisme. Amerika tetaplah Amerika yang akan tetap sama dalam memusuhi Islam. Maka, umat islam tidak perlu berharap apa-apa dari sosok baru presiden Amerika yang konon berpihak kepada umat Islam tersebut.

Sistem islam dalam bingkai Khilafahlah yang bisa memperbaiki kondisi umat islam diberbagai belahan dunia saat ini . Khilafah sudah terbukti selama kurang lebih 14 abad memuliakan kaum muslim dan agama islam . Sudah seharusnya kita sebagai umat muslim memperjuangkan tegaknya Khilafah dan kembali kepada politik islam . Dengan tegaknya khilafah kemuliaan islam akan terwujud. Wallahu'alam.[]

Oleh: Nurul Afifah

Posting Komentar

0 Komentar