Layakkah Demokrasi bagi Kita?

 
Di abad 21 ini dunia menggadang-gadang bahwa sistem terbaik adalah sistem demokrasi kapitalis. Sistem yang lahir dari kejeniusan akal manusia. Maka negara pengusung AS (Barat) mengimpor sistem ini ke penjuru dunia. Negara-negara dipaksa harus tunduk dan mengembannya. Coba kita perhatikan bagaimana Barat memaksa negara di wilayah timur tengah dan wilayah asia. Faktanya misi impor sistem demokrasi sudah dimulai sejak tahun 1990 an. Di kawasan timur tengah jazirah arab saja, sudah berapa nyawa manusia yang dibunuh yang ditumbangkan untuk menerapkan sistem ini. Dan kita lihat hasil penerapan dari sistem demokrasi kapitalis ini. Apakah ada dampak baiknya?

Di wilayah asia khususnya Indonesia, selama menerapkan sistem demokrasi kapitalis apakah menjadi lebih baik? Mari kita intip. Eksploitasi hutan yang tak kunjung henti untuk industri atas nama investasi. Indonesia  masuk dalam daftar 11 wilayah yang mengalami deforestasi hutan. Forest Watch Indonesia (FWI) mengungkapkan fakta mengejutkan dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar atau setara dengan tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta. Bagaimana dengan sekarang yang dengan lantang gembar gembor investasi. Bahkan sampai di buatkan undang-undangnya. Luar biasa bukan.

Dengan pandemi covid 19 kita bisa melihat sejauh mana kemampuan sistem buatan manusia dalam mengatasinya. Dan hasilnya? Masi berharap dengan demokrasi kapitalis? 

Di bidang ekonomi, apakah mampu mensejahterakan rakyat, mengentaskan kemiskinan? Data berbicara. Penduduk miskin Indonesia per Maret 2016 sebanyak  28,01 juta jiwa, katadata.co.id. Dan dengan diguncang resesi, mungkinkah penduduk miskin berkurang? Dan ternyata ibu kota kapitalis saja sedang kelimpungan menghadapi resesi.

Adanya pilpres di AS yang baru selesai. Ternyata banyak yang berharap kepada presiden baru yang terpilih. Mereka berharap bisa memperbaiki ekonomi. Bahkan diharapkan mampu memperbaiki kondisi muslim di berbagai belahan dunia.

Apakah  layak umat muslim menggantungkan harapan kepada sistem buatan manusia. Memang benar pada saat kampaye para kandidat berjanji ini dan itu. Hal itu wajarlah dalam sistem demokrasi. Karena dalam demokrasi, kampanye hanya alat mengumpulkan suara. Kampanye bukan janji yang bisa dimintai pertanggung jawaban. 

Sudah saatnya dunia mencari pandangan sistem lain. Sistem yang mampu memecahkan problematika umat manusia. Sistem yang sudah teruji dan mampu menyelesaikan probkematika selama berabad-abad diterapkan. Yaitu sistem Islam. Sistem yang pertama kali diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah dan terus berkembang meluas menguasai hampir dua per tiga dunia. Dan baru ditumbangkan pada tahun 1924 oleh agen Inggris yang bernama mushtafa Kemal .

 "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Maidah: 50).[]

Oleh: Agung Andayani

Posting Komentar

0 Komentar