Khamr adalah Ummahatul Khabaits, Lindungi Umat Darinya



Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol masuk dalam Prolegnas DPR RI 2019-2022 dan menyita perhatian publik. RUU ini mengalami penundaan berulang kali sejak pertama kali diusulkan pada 2015. Padahal Polri mencatat ada ratusan kasus pidana di mana pelakunya dipengaruhi minuman beralkohol. Selama tiga tahun terakhir, mulai 2018 sampai 2020 sebanyak 223 kasus. Data tersebut menggambarkan bahwa betapa banyak terjadi tindak kriminal dan amoral disebabkan karena pelakunya berada di dalam pengaruh miras.

Khamar, Ummahatul Khabaits

Islam adalah agama fitrah (QS. Ar-Ruum: 30). Islam mengatur manusia untuk berjalan pada perintah dan hukum Allah. Hal-hal yang dilarang oleh Islam, yang merupakan induk dari segala kejahatan (ummahatul khabaits) antara lain adalah: (1) minum minuman keras/khamr, (2) menggunakan narkoba, (3) berzina, (4)mencuri, (5) makan makanan yang haram, riba dan syuhbat.

Khabaits adalah suatu keburukan bagi manusia, melemahkan, merusak, merugikan dan membahayakan manusia. Kelima kejahatan tersebut merupakan pelanggaran terhadap fitrah manusia. Oleh karena itu, tepat jika kita menyebut miras sebagai induk dari kejahatan (ummahatul khabaits). 

Islam dengan tegas mengharamkan khamr. Firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90). 

Pada ayat di atas, sudah nyata dan jelas Allah melarang orang-orang beriman untuk minum khamar karena ia merupakan perbuatan setan nan keji. Miras diserupakan dengan khamr karena sifatnya yang memabukkan. Maka, sedikit atau banyak tidak boleh dikonsumsi. Karena yang menjadikannya haram adalah dzatnya, bukan sedikit atau banyaknya. Maka, seorang muslim sejati semestinya berupaya tidak berurusan dengan barang haram tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sungguh mengerikan. Jika produksi miras dibiarkan berarti kita menantang laknat Allah. Dan tentu kita tak ingin negeri ini menjadi negeri yang mendapat azab-Nya karena melakukan maksiat secara nyata. Maka dibutuhkan kerjasama dari seluruh komponen masyarakat untuk memberantas miras hingga tuntas. 

Pertama, harus ada ketakwaan yang terbentuk di setiap diri individu. Dengan takwa, seseorang tentu tak akan berani ‘menyentuh’ miras. Ia paham bahwa miras adalah haram.

Kedua, adanya kontrol masyarakat. Masyarakat tidak boleh bersikap apatis dan individualistik. Harua peduli terhadap sekitar. Apabila melihat kemungkaran di sekitarnya, termasuk mengetahui tempat-tempat peredaran miras, maka wajib melapor kepada aparat. Jangan diam. Sebab diamnya kita hanya akan menumbuhsuburkan peredaran miras yang berarti juga menghalalkan azab Allah atas negeri ini.

Ketiga, penerapan hukum oleh negara inilah yang utama. Negara sebagai benteng terakhir penjaga umat, sudah selayaknya memiliki power dalam rangka mewujudkan masyarakat bertakwa dan beradab. Maka negara harus tegas dalam menindak segala bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah, salah satunya miras. 

Negara harus memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terlibat baik dalam produksi, konsumsi, maupun distribusinya. Bukan sebaliknya, negara membiarkan miras tetap diproduksi dengan alasan mendapatkan pemasukan pajak besar dari penjualannya. 

Permasalahan miras harus disikapi serius, sebab sejatinya miras membuka peluang lahirnya kejahatan -kejahatan lainnya di negeri ini. Seperti pembunuhan, pemerkosaan, tabrak lari, dll. Kebanyakan semuanya berawal dari mengonsumsi miras. Dan bisa dibayangkan, bagaimana wajah negeri ini di masa depan jika para generasi muda akalnya telah dirusak oleh miras?

Sungguh perlu adanya penerapan hukum yang terintegrasi dari pusat hingga daerah. Sehingga permasalahan miras dapat betul-betul diselesaikan. Dan hal tersebut tentu tidak akan mungkin terwujud selama sistem yang diterapkan di negeri ini adalah kapitalisme. Di mana segala komoditas akan tetap dipertahankan, meski agama mengharamkannya, selama memberikan devisa bagi negara.

Ingatlah sabda Rasulullah Saw berikut: “Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barangsiapa meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya dan saudari ayahnya.

Allah telah memberi petunjuk (dengan jelas) mana atau apa-apa yang haram. Itulah salah satu rahmat dari Nya. Adapun terhadap hal-hal yang syubhat (suatu persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia), sikap yang diharuskan oleh Islam adalah sikap berhati-hati, yaitu dengan 
menjauhi dan menghindarinya, karena yang syubhat itu mendekati haram, sehingga dengan menjauhi syubhat kita tidak akan terseret kepada yang haram.

Demikianlah, konsekuensi logis dari khamar ummahatul khabaits. Pelakunya akan mendapatkan kehidupan yang sempit di dunia dan azab di akhirat. "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Taahaa: 124)

Marilah kita hindari azab dari Allah, marilah kita hindari ummahatul khabaits. Dari ummul mukminin Zainab binti Jahsyin r.a. Berkata; "Ya Rasulilah apakah akan diturunkan pada kami semua bencana sedang di tengah-tengah kami ada orang-orang sholeh?" Jawab Rasul SAW: "Ya apabila kebejatan moral (kekejian) 
merajalela."

Wallahu a'lam.[]


Oleh: Imanda Amalia (Dosen, Founder @RumahSyariahInstitute) 

Posting Komentar

0 Komentar