Ketimpangan Gender? Ustazah Iffah Sebut Justru Ini Eksploitasi Peran Perempuan



TintaSiyasi.com--  Menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait penurunan partisipasi pekerja perempuan yang akan membuat ketimpangan gender semakin meningkat di Indonesia, Aktivis Muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah membantahnya. Menurutnya, bukan ketimpangan gender tapi dorongan perempuan bekerja adalah bentuk  eksploitasi dan pengabaian peran strategis perempuan.

"Menyelesaikan masalah kaum perempuan dan memuliakannya di masyarakat bukan dengan mendorongnya ke dunia kerja atas nama pemberdayaan ekonomi. Ini justru eksploitasi dan pengabaian terhadap peran strategis perempuan sebagai pendidik generasi," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Kamis (19/11/2020).

Menurutnya, cara pandang Menkeu lebih melihat kaum perempuan sebagai aset ekonomi. Ia mengatakan, penurunan jumlah perempuan bekerja saat pandemi bermakna penurunan pergerakan ekonomi dan perolehan materi yg dihitung sebagai modal pertumbuhan. Selain itu, ia sebut hal itu bermakna pengurangan pemasukan pajak negara dari barang dan jasa yang dihasilkan. 

"Maka komentar Bu Menteri, bahwa penyebabnya adalah ketimpangan gender merupakan dorongan agar kaum perempuan diberi 'perhatian khusus' agar banyak yang bisa kembali bekerja," jelasnya.
 
"Padahal semestinya, Bu Sri memiliki kepekaan dan mengakui bahwa dengan dorongan bekerja bagi perempuan berarti beban perempuan makin berat. Karena perempuan tak mungkin melepas jati diri sebagai istri dan ibu," imbuhnya.

Menurutnya, perempuan semestinya ditolong agar bisa menjalankan fungsi keibuannya secara optimal di era pandemi dan waktu-waktu berikutnya, karena pendidikan anak era pandemi lebih menuntut perhatian. Ia menegaskan cara menolong perempuan adalah dengan membebaskannya dari tuntutan memperoleh materi dan bekerja. 

"Yakni dengan menjamin setiap suami dan wali mampu menafkahi setiap anggota keluarga secara layak. Juga dengan menghapus komersialisasi air, BBM, transportasi umum dan listrik. Juga menggratiskan layanan publik berupa kesehatan dan pendidikan," bebernya. 

Ia memaparkan, begitulah cara Islam memuliakan dan menyejahterakan perempuan. Ia mengandaikan apabila langkah menolong kondisi perempuan dilakukan sebagaimana rekomendasi Islam di atas, maka tidak ada perempuan yang menyoal jumlahnya setara laki-laki atau tidak di dunia kerja. "Tidak akan lagi laku kampanye kesetaraan gender," pungkasnya. [] Dewi Srimurtiningsih dan Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar