Ketika Nabi Dihina



Ada yang berbeda dengan masjid di Pantin, timur laut Kota Paris. Bangunan berbentuk seperti hanggar pesawat terbang dengan jendela kecil bertengger tinggi di dindingnya yang bergelombang, kini kosong dan ditutup. Pemberitahuan di luar gedung menyatakan bahwa penutupan paksa tersebut karena dianggap ada keterlibatan dengan kekuatan Islam.

Sebelumnya, tujuh orang, termasuk dua siswa, telah didakwa atas pemenggalan kepala Samuel Paty, guru di Prancis, pada 16 Oktober di dekat Paris. Peristiwa ini berbuntut panjang. Visualisasi Nabi Muhammad oleh sang guru, adalah pelanggaran serius bagi umat. Islam secara tegas melarang gambar Rasulullah dan Allah subhaanahu wata'ala. 

Berbeda dengan Prancis. Sekularisme negara atau laïcité, adalah identitas nasional Prancis. Membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, kata negara, merusak persatuan negara. Diduga karena mendekati musim pemilu, maka Macron perlu menunjukkan jati dirinya, yaitu identifikasi yang jelas untuk membedakannya dengan lawan politiknya. (Bbcindonesia, 27/10/2020).

Meski begitu, selama masa jabatannya, Macron sangat berhati-hati dalam membedakan antara ancaman keamanan dan sekularisme. Tetapi kini dia menampakkan warna aslinya. Keberpihakannya pada karikatur Nabi, menyakiti hati umat di seluruh dunia. Bukti bahwa kebebasan berekspresi yang diagung-agungkan barat, selalu menginjak hukum syara'.

Maka tak ayal ribuan orang protes di Libya, Bangladesh dan Jalur Gaza, bersamaan dengan seruan untuk boikot produk Perancis oleh sejumlah perusahaan ritel Kuwait dan Arab. Protes terjadi di dunia maya dan nyata. Perang kata-kata pun kemudian berkembang, antara Pemerintah Perancis dengan Turki. (Detiknews.com, 27/10/2020)

Kemarahan umat bukan tanpa sebab. Musuh kembali menghina Rasulullah. Setelah seluruh atribut kepribadian Islam dilucuti habis, melalui upaya-upaya sistemik kepemimpinan kufur, kini teladan umat yang keberadaannya bersama Allah, wajib kita cintai melebihi kecintaan terhadap keluarga, harta dan lainnya, pun menjadi bulan-bulanan penguasa kufur.

Inilah negara yang tegak di atas akidah batil, menegasikan Allah dalam kehidupan sehari-hari, dan berpijak di atas akal manusia. Menghina Rasulullah shollallaahu alaihi wassalam pun adalah hal biasa bagi mereka. Islamofobia merasuki Barat, sehingga berbagai ekspresi kebencian terhadap Islam, terus menerus ditampilkan.

Ini bukan kali pertama, dahulu Prancis dan Inggris pernah mengadakan teater komedi karya Voltaire untuk menghina Rasulullah. Dengan pakaian kebesarannya, Khalifah Abdul Hamid II memanggil kedua duta besar negara tersebut, kemudian mengancam mereka dengan keras untuk menghentikannya, atau jika tidak, pasukan Daulah akan menyerang.

Di kisah lain disebutkan, Pemerintah Prancis akhirnya menutup drama teater di Paris, besutan seniman bernama Marquis de Bouine, anggota The Académie Française pada akhir 1800-an. Juga mengasingkan banyak aktornya ke Inggris untuk menenangkan hati Khalifah, setelah menerima surat ultimatum.

Maka setelah beberapa waktu, tatkala drama yang sama diselenggarakan di London, Sultan Abdülhamid II pun menulis surat pada Pemerintah Inggris dengan ultimatum serupa. Khalifah menyatakan bahwa pertunjukan tersebut telah dilarang di Prancis. Namun Pemerintah Inggris bersikeras, menanggapi surat Sultan dengan menyatakan, "Ini bukan Prancis. Kami memiliki kebebasan di perbatasan kami."

Sultan Abdülhamid II kemudian menulis tanggapan yang cukup keras kepada Inggris dan menyatakan, “Nenek moyang saya memberikan nyawa mereka tanpa ragu demi kebaikan Islam. Dalam urusan ini, saya dengan tegas akan menyiapkan perintah kepada Umat Muslim di seluruh dunia dan memberi tahu mereka tentang sikap angkuh dan kepongahan anda, jika terus melanjutkan dan membiarkan drama tidak sopan ini terjadi. Anda perlu mempertimbangkan apa akibat besar atas keputusan yang anda perbuat!"

Tidak hanya itu, Prancis pun pernah membuat ulah yang lain, yaitu mengadakan dansa antara para laki-laki dan perempuan. Saat itu Sulaiman Al Qonuni rohimahulloh menghentikannya. Khalifah mengirim surat kepada Raja Prancis:

"Telah sampai padaku berita bahwa kalian membuat dansa mesum antara laki-laki dan perempuan. Jika suratku ini telah sampai padamu, pilihannya: kalian hentikan sendiri perbuatan mesum itu atau aku datang dan menghancurkan negeri kalian." Setelah terkirimnya surat tersebut dansa di Prancis berhenti selama 100 tahun.

Perancis dan Inggris bertekuk lutut kala itu. Khalifah menunjukkan kedigdayaannya. Islam bertaji dengan Daulah Khilafah. Kekuatan negeri adi daya membuat negara lain tidak berani mengangkat wajah arogan mereka. Namun tidak demikian halnya ketika terjadi sebaliknya. Tanpa junnah, umat tidak berdaya. 

Mengandalkan keberanian para pemimpin negeri muslim bagaikan mimpi di siang bolong. Hanya Erdogan yang bereaksi, itu pun hanya sebatas kata. Tidak ada pengerahan militer sebagaimana Khalifah menyelesaikan perkara penghinaan terhadap Islam. Sementara presiden yang lain pun hanya sebatas mengecam, atau bahkan diam seribu basa. Bisa jadi karena mereka tunduk di bawah kendali Prancis.

Barat tahu benar, kaum muslim tidak memiliki kekuatan politik yang mampu beradu tanding dengan mereka. Bahkan untuk membela nabinya sendiri pun, tidak mampu. Tidak ada mobilisasi pasukan, tidak ada sanksi. Karenanya tanpa khilafah, umat akan selalu menjadi pesakitan, menjadi bulan-bulanan kekuatan kufur. Tidak hanya menyerang pemikiran, nyawa bahkan akidah pun akan dilibas habis. 

Padahal sangat keras hukuman bagi penghina nabi. Menurut al-Qadhi Iyadh rahimahullah, hukuman bagi orang yang menista atau menghina Nabi shollallaahu alaihi wassalam adalah dengan membunuhnya. Hal tersebut dijelaskan secara panjang lebar oleh al-'Allamah al-Qadhi Iyadh dalam Kitab al-Syifa bi-Ta'rif Huquq al-Mushthafa,   halaman 760-884, Cet Dar al-Basya'ir al-Islamiyyah. Salah satu kutipan:

"Ketahuilah, semoga kita diberi hidayah taufiq bahwa siapapun yang menistakan Nabi, menghina beliau, atau menganggap beliau tidak sempurna pada diri, nasab, dan agama beliau, atau di antara akhlak beliau, atau menandingi beliau, atau menyerupakan beliau dengan sesuatu untuk menistakan beliau, atau meremehkan beliau, atau merendahkan kedudukan beliau, atau menjatuhkan beliau, atau menghinakan beliau, maka ia termasuk orang yang menistakan beliau. Hukum yang berlaku atasnya adalah hukum pelaku penistaan, yaitu dihukum mati sebagaimana yang akan kami jelaskan ini." (Sumber: al-'Allamah al-Qadhi 'Iyadh, al-Syifa bi-Ta'rif Huquq al-Mushthafa. 1425)

Oleh sebab itu, perlu adanya kepemimpinan umat, sebuah kekuatan yang menolong. Institusi yang berdiri tegak melindungi umat dari berbagai serangan yang merusak. Dengannya umat berjaya, kemuliaan Islam pun dikembalikan di posisinya yang tertinggi. Tidak ada satupun yang berani menghina nabi, baik itu dengan gambar, karikatur, drama, atau lisan, sebab Khalifah sang penjaga hukum Allah akan turun tangan menuntaskannya. Tsumma takuunu khikafatan ala minhajin nubuwwah.[]

Oleh: Lulu Nugroho
Pengemban dakwah dari Cirebon

Posting Komentar

0 Komentar