Kepulangan Imam Besar dan Kepemimpinan Berfikir Islam



Seperti informasi yang beredar, Imam Besar FPI akan kembali ke Indonesia hari Senin tanggal 9 November 2020 jam 19.30 waktu KSA. Berangkat dari bandara Kota Jeddah dengan menggunakan pesawat Saudia Airlines. Imam Besar FPI insyaAllah, akan tiba di Bandara Cengkareng hari Selasa jam 09.00 wib.

Pengumuman yang dilakukan secara langsung oleh Imam Besar FPI (HRS) tersebut menunjukkan keberanian sekaligus ketulusan beliau. Beliau tidak suka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi meski itu bisa dilakukan.

Tidak seperti kebiasan Jokowi yang suka mengambil kebijakan sembunyi-sembunyi ditengah malam, seperti menaikkan BBM berkali-kali; mensyahkan berbagai peraturan perundangan yang mencederai rasa keadilan public seperti UU Omnibus law, UU KPK, UU MK, UU Minerba juga dilakukan dengan minim informasi publik.

HRS ingin kepulangannya diketahui oleh seluruh masyarakat, baik yang suka atau tidak tidak. Yang suka menyambutnya gagap gempita. Belum lagi beliau pulang sebagian masyarakat sudah tidak sabar hingga menumpahkan perasaan gembira dengan turun ke jalan. Yang tidak suka akan mencibir, mencaci maki, dan ucapan-ucapan yang tidak pantas diucapkan oleh manusia apalagi ditujukan pada dzurriyah Nabi. 

Negara yang mestinya berfungsi mendamaikan berbagai pertengkaran ditengah masyarakat, malah ikut memperburuk situasi. Hal ini terlihat dari statement menkopolhukam Mahfudz MD diberbagai media elektronik. Mahfudz bilang akan “menyikat” kalau terjadi kerusakan. 

Suatu kalimat yang hanya pantas diucapkan oleh preman pasar, tidak pantas diucapkan oleh sekelas Menteri Koordinator. Artinya ada pihak-pihak yang tidak ikhlas dengan kepulangan HRS. 

HRS dianggap menjadi simpul energi umat, tokoh sentral perlawanan terhadap kedzoliman. Status beliau sebagai Iman Besar menegaskan hal ini. Sangat berdasar jika umat kemudian menuding hanya pelaku kezaliman yang tidak suka kepulangan beliau. Sehingga muncul berbagai kekhawatiran dan analisis seputar kepulangan HRS.  

Berbagai kemungkinan dapat saja terjadi dengan pribadi Habib, mulai dari “pembiaran”, artinya umat Islam dan HRS dapat melepas rindu setelah lama berpisah. Bisa juga dihadapkan pada berbagai kasus hukum; hingga penangkapan langsung begitu HRS turun dari pesawat di Bandara Soeta.

Apapun yang terjadi kepulangan Habib pastinya akan memperkuat ghirah umat. Habib dibiarkan saja dengan agendanya ghiroh umat akan meningkat. Lebih-lebih lagi jika HRS dihadapkan pada kasus hukum atau ditangkap, akan membuat ghiroh umat tumbuh berlipat.

Pada titik ini, umat harus memiliki konsep kepemimpinan berfikir Islam. Agar ghiroh yg tumbuh besar tetap terkendali dalam koridor hukum syara'. Andai HRS tiada sekalipun mereka tetap solid dibawah kepemimpinan berfikir Islam. 

Dengan kepemimpinan berfikir Islam, umat tidak bisa dieksploitasi oleh berbagai agenda yang akan menjauhkan mereka dari tujuan perjuangan. Mulai dari skenario pembenturan diantara komponen umat hingga eksploitasi recehan dari para politisi busuk untuk mendukung agenda politik pragmatis.

Kalau kesabaran rasa-rasanya umat sudah sangat teruji. Meski jumlahnya mayoritas tapi umat tidak terprovokasi oleh perilaku bejat oknum yang menyerang Islam. Mulai dari penyerangan ulama, vandalisme musholla, ujaran kebencian yang hingga kini ada sekitar 40 kasus yang belum diproses secara hukum. 

Sangat berbeda jika perilakunya adalah pengkritik rezim, hukum begitu cepat bekerja. Atau jika perilaku vandalisme adalah mereka yang memelihara jenggot, stempel teroris akan segera melekat. Atau yang diserang adalah pemuka agama selain Islam, barangkali akan menjadi headline berita berhari-hari.

Karena itulah selain kesabaran, umat juga harus berpegang teguh pada kepemimpinan berfikir Islam. Yakni menjadikan Aqidah sebagai penuntun kehidupan; menolak semua ajaran tentang cara hidup yang tidak sejalan dengan Islam; menerima berbagai perbedaan pandangan jika itu berakar dari aqidah Islam; tidak kompromi dengan pandangan yang tidak lahir dari aqidah Islam seperti Kapitalis-Demokrasi, Sosialis-komunis dan segala derivasinya. Menjadikan aturan Islam secara totalitas sebagai satu-satunya pengatur kehidupan.

Sesungguhnya, jika umat tidak menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berfikir, maka kepemimpinan berfikir tersebut akan diganti oleh kepemimpinan berfikir selain Islam. Yang sudah terbukti melahirkan berbagai kerusakan, kebangkrutan tatanam alam, kemerosotan moral, eksploitasi kekayaan alam, kemiskinan, pecah belah, jauh dari kata solid, dll.

Kepemimpinan berfikir Islam akan membuat umat menjadi satu meski suku, ras, bahasa bahkan organisasinya berbeda. Sebab yang ada dipikiran mereka adalah usaha-usaha untuk membesarkan dan memenangkan Islam yakni menjadikan Islam sebagai penentu berbagai kebijakan dan keputusan. 

Keberadaan kepemimpinan berfikir Islam dalam diri umat akan membuat umat mudah mendeteksi berbagai pemikiran yang tidak Islami meski ucapan tersebut keluar dari mulut orang yang mengenakan jubah dan berjenggot. Saat ini, betapa banyak orang yang memakai jubah dan berjenggot tapi menyeru pada kebathilan. Umat tidak akan mudah “dikibuli” oleh topeng kehidupan seperti gelar, harta, kekuasaan, dan jabatan. 

Kepemimpinan berfikir Islam akan mencetak tokoh umat lebih banyak. Tokoh-tokoh umat yang Ikhlas akan bermunculan jika kepemimpinan berfikir Islam sudah menancap didiri umat.

Umat tidak lagi alergi dengan perbedaan organisasi. Sebab yang mereka inginkan bukan berkuasanya "orang Islam". Tapi yg mereka inginkan adalah kemenangan Islam yakni tegaknya kepemimpinan Islam, yang menjalankan peraturan Islam secara kaffah. Wallahu'alam.[]

Oleh: Dr. Erwin Permana

Posting Komentar

0 Komentar