TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kemuliaan Islam Tuntaskan Para Penghina Nabi


Sebagian besar pemimpin di negeri muslim mengecam tindakan Prancis yang secara terbuka melakukan penghinaan terhadap Rasulullah SAW. Pemimpin Indonesia juga melakukan hal yang sama meskipun bisa dikatakan terlambat jika dibandingkan dengan negeri muslim lainnya. Pada 31 Oktober 2020 Presiden RI, Joko Widodo dalam pidatonya menyampaikan bahwa Indonesia mengecam tindakan Prancis yang menghina Nabi Muhammad SAW dengan menggambar karikatur manusia paling mulia ini, sekaligus mengecam perkataan Presiden Prancis yang dinilai dapat memecah belah umat. 

Tindakan yang dilakukan oleh semua negeri muslim terhadap penghina Rasulullah SAW selalu sama sejak dahulu. Mereka selalu menyampaikan kecaman terhadap para penghina, intinya menyampaikan ketidaksukaan. Ini seperti sudah menjadi pilihan di setiap negeri muslim untuk mengecam tindakan penghinaan terhadap Rasulullah atau mengancam akan mengusir duta besar Prancis dari negeri mereka.

Apakah dengan mengecam saja sudah cukup dapat membuat mereka para penghina ketakutan? Nyatanya sejak dahulu para penghina nabi tidak pernah kapok dengan kecaman yang diberikan oleh negeri-negeri muslim. 

Tentu kecaman akan memberikan efek terhadap negeri yang dikecam. Jika sebuah negara yang mengecam memiliki kekuatan maka dapat menjadi pertimbangan karena akan menjadi kerugian atau bahkan bahaya bagi negara yang dikecam. Namun sebaliknya, jika sebuah negara yang tidak memiliki kekuatan tentu tidak akan berdampak apapun bagi negeri yang dikceam. Saat ini kita tahu bahwa negeri-negeri muslim di seluruh dunia bergantung pada barat, sehingga sebuah kecaman seperti ini tidak akan memberikan efek bagi barat, apalagi Prancis. Kita negeri muslim tidak sebanding dengan barat bahkan jauh di bawah mereka, sehingga kita berbicara apa bisa jadi tidak didengar. 

Apabila kita melakukan cara lain selain mengecam seperti melakukan boikot tentu ini hanya akan dilakukan saat momen penghinaan ini terjadi, selebihnya kita tetap membutuhkan produk mereka. Kita masih bergantung pada mereka, bahkan pemimpin kita berdiri di posisi mereka saat ini bisa jadi atas restu, dukungan dan sponsor dari barat. Para pemimpin di negeri muslim saat ini hanya berperan sebagai penjaga jajahan barat, sehingga tidak akan mampu melindungi penghinaan terhadap Sayyidina Muhammad SAW. 

Agar efektif untuk mengubah penghinaan terhadap nabi maka kita harus mengubah fakta kaum muslimin terlebih dahulu. Kaum muslimin haruslah merdeka, mandiri, dan memimpin sehingga bisa berkuasa atas negara lain. Sesungguhnya kemuliaan hanyalah milik Allah, dimana hanya dengan tuntunan syariat-Nya secara kaffah dalam suatu negara, kita bisa merdeka dengan hakiki.

Dan bukan sembarang negara melainkan Negara berbasis Al-Quran As-Sunnah Khilafah Islam, barulah kaum muslimin dapat memiliki negara yang berkuasa bahkan bisa menjalankan perannya untuk berdakwah ke luar negeri. Kita tentu tidak boleh memberikan jalan terhadap kaum kafir termasuk celah sedikitpun bagi kafir untuk menguasai kita karena jika ada sedikit saja celah akan berbahaya bagi kaum muslim, haram hal itu kita lakukan, seperti yang dijelaskan dalam QS An-Nisa ayat 141 berikut:

.... وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“...Dan sekali-kali Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisâ '[4]: 141).

Apabila fakta kaum muslimin sudah merdeka, mandiri, dan memimpin baru kita bisa mengecam kaum kafir yang menghina Sayyidina Muhammad SAW. Terlebih lagi jika kita memiliki militer hebat dengan semangat jihad yang mampu menggoyahkan pertahanan mereka. Tentu kecaman kita akan berdampak pada mereka dan bisa menjadi pertimbangan. Inilah kecaman negeri muslim yang berkuasa dan akan memberikan pengaruh, satu-satunya negara yang mampu mengembalikan kemuliaan Allah dan Rasulullah SAW: Khilafah Islam yang berjalan atas petunjuk Nabi Muhammad.[]

Oleh: Nida'ul Haq
(Mahasiswa FKM Unair)

Posting Komentar

0 Komentar