Kemiskinan Sistematik Bukan Kebetulan



TintaSiyasi.com-- Ayah adalah sosok yang berkewajiban untuk melindungi keluarganya. Dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab tak hanya urusan dunia, tapi juga urusan akhirat. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk  keluarganya. Namun, berbeda dengan yang dialami keluarga dari Andreas Pati, seorang ayah yang tinggal di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Agustus 2020, bapak dari dua anak laki-laki ini tega menghabisi nyawa kedua anak kandungnya dengan cara yang keji. Kedua anaknya ditemukan tewas dengan luka tusukan di bagian leher. 

Setelah melakukan aksinya, seperti yang diberitakan Kompas.com (06/08/2020), pelaku memanjat pohon kelapa dan tak mau turun, sampai-sampai polisi dan warga harus menebang pohon tersebut dan akhirnya berhasil meringkus Andreas. Kepada polisi ia mengaku bahwa himpitan ekonomi adalah motif utamanya sehingga ia tega membunuh anak kandungnya. Andreas mengatakan bahwa sudah tak sanggup lagi menghidupi kebutuhan hidup keluarganya. 

Kisah serupa juga pernah terjadi di Balaraja, Kabupaten Banten. Pada Juni 2020 seorang bapak ditemukan tewas gantung diri di rumahnya setelah sebelumnya membunuh dua anak laki-lakinya. Robi, laki-laki yang berusia 37 tahun itu tega membunuh anak pertamanya yang berumur 14 tahun dengan cara menjerat lehernya dengan tali tambang. Kemudian ia membunuh anak keduanya yang berumur 3 tahun dengan menenggelamkannya ke dalam tong air di dalam kamar mandi dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Kemudian ia pun mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Menurut kesaksian tetangga dan kerabat pasangan suami istri ini memang kerap bertengkar, alasannya tak jauh dari masalah ekonomi. Pekerjaan Robi sebagai pengumpul barang bekas dirasa tak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Diakui sang istri yang saat kejadian sedang berada di rumah orang tuanya dikarenakan ia kesal dengan suaminya sehingga ia memilih untuk pergi dari rumah. Sang ibu tak sanggup menahan pedih dan rasa sesal karena meninggalkan rumah tanpa mengajak anak-anaknya.

Kisah ini sangat memilukan, mengingat bahwa sosok ayah harusnya mampu melindungi anak-anaknya, namun kedua ayah ini tega menghabisi nyawa anaknya karena masalah ekonomi. Lagi-lagi masalah ekonomi menjadi alasan dasar atas sebuah tindak kejahatan. Bahkan pada masa pandemi Covid-19 ini angka kriminalitias semakin tinggi. Beban hidup yang sangat berat, hilangnya pekerjaan, menurunnya daya beli masyarakat membuat roda perekonomian negara karut-marut.

Pukulan ekonomi yang bertubi-tubi membuat banyak orang nekad melakukan apa saja demi urusan perut, sehingga tak heran kasus kejahatan jadi semakin tinggi. Dari kejadian yang diuraikan sebelumnya juga membuktikan bahwa ketakutan tak bisa memenuhi kebutuhan pokok bagi keluarganya membuat para ayah ini mengambil keputusan nekad dan tanpa pikir panjang. 

Meningkatnya kemiskinan di Indonesia bukan kemiskinan yang terjadi secara kebetulan saja. Saat ini kemiskinan yang menimpa rakyat lebih merupakan kemiskinan sistemik, yaitu kemiskinan yang diciptakan oleh sistem yang diberlakukan oleh penguasa. Sistem Kapitalisme inilah  yang dianut oleh penguasa kita saat ini, yang membuat kekayaan milik rakyat dikuasai oleh segelintir orang saja. Penguasa juga seolah tidak peduli dengan rakyatnya karena membiarkan mereka  menanggung beban hidupnya sendiri. 

Di bidang kesehatan misalnya, rakyat diwajibkan membayar BPJS setiap bulan yang artinya warga menjamin sendiri biaya kesehatan mereka, bukan negara. Kenyataan ini sungguh berbanding terbalik dengan cara Islam mengentaskan kemiskinan.

Pertama, secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah baik untuk dirinya maupun untuk keluarga yang menjadi tanggungannya. Jika seorang miskin, ia diperintahkan untuk sabar dan tetap bertawakal seraya tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. Serta haram baginya berputus asa dar rahmat Allah SWT.

Kedua, secara jama’i atau kolektif. Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu.” ( HR ath-Thabrani)

Ketiga, Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw bersabda: “Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus ( HR. Bukhari)

Penguasa juga wajib mengelola kekayaan alam untuk kepentingan umat bukan dikuasi oleh segelintir golongan saja.

Di Madinah, sebagai kepala negara, Rasulullah menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada masa beliau ada ahlus-shuffa dan mereka tergolong kaum dhuafa, mereka diizinkan tinggal di Masjid Nabawi dan diberi santunan dari kas negara. 

Saat menjadi Khalifah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab biasa memberikan intensif untuk setiap bayi yang baru lahir demi menjaga dan melindungi anak-anak. Beliau juga pernah berjanji untuk tidak makan daging dan mentega selama umat Muhammad masih ada yang kelaparan. 

Pada masa kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah sakit yang lengkap dan canggih pada masanya untuk melayani masyarakat secara gratis. Inilah sebagian contoh kebijakan penguasa pada masa pemerintahan islam untuk mensejahterakan rakyatnya.

Oleh sebab itu, sudah saatnya kita mencampakan sistem selain Islam yang seperti kita ketahui hanya mendatangkan musibah demi musibah bagi kita semua. Sudah saatnya kita kembali pada syariah Islam yang berasal dari Allah SWT. Hanya syariah-Nya yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia dan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.[]


Oleh: Dian Salindri, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok


Posting Komentar

0 Komentar