TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kemenangan Joe Biden: Benarkah Akan Mendatangkan Angin Segar Bagi Umat Islam?




Sebagaimana yang kita ketahui, negeri Paman Sam, Amerika Serikat saat ini telah selesai melakukan ajang pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Dilansir dari tirto.id yang mengutip laporan New York Times, Sabtu (7/11/2020) waktu setempat, Joe Biden yang berpasangan dengan Kamala Harris akhirnya menang serta terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-46, mengalahkan pasangan Donald Trump dan Mike Pence.

“Joseph Robinette Biden Jr. terpilih sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat pada Sabtu berjanji memulihkan normalitas politik dan semangat persatuan nasional untuk menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi, serta menjadikan Donald J. Trump sebagai presiden satu masa jabatan setelah 4 tahun keributan di Gedung Putih,” demikian tulis New York Times. 

Euforia dan riak-riak pilpres Amerika Serikat ini juga dirasakan oleh sebagian masyarakat dan media Indonesia untuk mengikuti perkembangan demi perkembangan hasil pilpres tersebut. Dikatakan, Joe Biden memenangkan Pilpres AS 2020 dengan raihan 290 electoral votes. Adapun Donald Trump hanya memperoleh 214 suara (Tirto.id 8/10/2020).

Sementara itu Sindonews.id 8/10/20 melansir sebuah berita bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih dari Partai Demokrat itu juga berjanji akan memenuhi kebutuhan dan konsern terhadap kekhawatiran komunitas Muslim Amerika atas adanya diskriminasi selama pemerintahan Trump.

Dalam acara online yang dipandu oleh Emgage Action, Biden memuji Islam dan mengatakan Islam adalah salah satu agama terbaik. Ia juga memberikan komentar setelah dia disurati oleh beberapa pemimpin Muslim Amerika untuk menjadi Presiden. Dia berharap bahwa Islam yang lebih umum disebarkan di sekolah-sekolah seperti yang dikatakan Biden kepada hadirin dari jutaan konstituen Muslim.

Mantan wakil presiden AS itu bersumpah untuk menghapus kebijakan Presiden Trump yang menargetkan negara-negara mayoritas Muslim yang telah berlaku selama tiga tahun. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai kebijakan keji. Akankah kemenangan Joe Biden ini benar-benar akan membawa angin segar khususnya bagi umat muslim di Amerika, dan dunia Islam secara global? 


Mencermati Sepak Terjang Politik AS di Tengah Independensi Bangsa

Berbicara tentang politik Amerika Serikat, tentu saja dengan berpijak pada kepentingan nasionalnya. Anthony Lake menggariskan tujuh aspek kepentingan nasional Amerika Serikat pasca Perang Dingin, yaitu: 
(1) mempertahankan Amerika Serikat, warga negaranya di dalam dan luar negeri, serta para sekutunya, dari berbagai bentuk serangan langsung; 
(2) mencegah timbulnya agresi yang dapat mengganggu perdamaian internasional; 
(3) mempertahankan kepentingan ekonomi Amerika Serikat; 
(4) menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi; 
(5) mencegah proliferasi senjata nuklir; 
(6) menjaga rasa kepercayaan dunia internasional terhadap Amerika Serikat; 
(7) memerangi kemiskinanan, kelaparan dan pelanggaran terhadap HAM (Lake, 1995).

Dalam merealisasikan tujuan kepentingan nasionalnya Amerika Serikat memiliki kekuatan yang berasal dari ideologi yang diembannya, yakni ideologi Liberal Kapitalisme. Perwujudan ideologinya tersebut diimplementasikan dalam tiga pilar, aspek politik, ekonomi maupun militer, selain dari aspek sosial dan budayanya yang hingga kini berhasil menghegemoni negara-negara di seluruh dunia yang menginduk kepada Amerika dalam tiga pilar tersebut.

Sebagai negara kapitalisme global, Amerika memiliki prinsip-prinsip pokok dalam kebijakan politik luar negerinya yang akan mempertahankan eksistensi dan kepemimpinannya dalam kancah internasional yang mengusung ideologi kapitalisme. Prekonomian Amerika Serikat dianggap salah satu yang hal terpenting di dunia. Banyak negara telah menjadikan dolar Amerika Serikat sebagai tolok ukur mata uangnya. Dengan kata lain, berharga-tidaknya mata uang mereka ditentukan oleh dolar Amerika. Sejumlah negara menggunakan dolar sebagai mata uangnya. Bursa saham Amerika Serikat dipandang sebagai indikator ekonomi dunia. 

Ekonomi Amerika menggunakan pendekatan model neoklasik, yaitu ekonomi pasar (market economy) yang kompetitif. Dengan model ini, individu diharapkan dapat memaksimalkan kepentingan pribadi mereka dalam mencapai kesejahteraan, dengan memaksimalkan kepentingan pribadi mereka, dan korporasi bisnis diharapkan memaksimalkan pencapaian keuntungan (Gilpin, 1987: 150-151). Sistem itulah yang hingga kini mendominasi sistem perekonomian yang dianut oleh negara-negara di dunia.

Amerika Serikat yang juga telah berpuluh kali berganti kepemimpinan itu mempunyai strategi pendekatan yang berbeda dari masing-masing masa kepemimpinannya sebagai manuver politik dalam menguasai seluruh negara internasional dan memerangi negeri-negeri kaum muslimin. Dengan cara soft dan hard. Seperti George W. Bush dan Donald J. Trump dikenal dengan pendekatan hard. Sedangkan Obama dikenal dengan pendekatan soft.

Sebagai negara superpower induknya negara demokrasi dan dengan segala tujuan kepentingan nasionalnya, sejatinya Amerika telah menunjukkan berbagai kebobrokan. Lihat saja bagaimana keberpihakannya terhadap Israel, standar ganda dalam penilaian HAM dan penerapan demokratisasi, eksploitasi ekonomi atas negara-negara Dunia Ketiga dan negeri-negeri muslim, hancurnya moral warganya yang liberal dan segudang kerusakan yang tidak patut dicontohkan oleh sebuah negara adikuasa.

Napas dari politik luar negeri Amerika sejatinya adalah penjajahan, baik dari secara ekonomi, politik, militer, maupun sosial budaya. Melalui rezim-rezim boneka di negeri-negeri muslim sebagai kaki tangannya dalam melakukan penjajahan dan teror terhadap dunia Islam. 

Terakhir di bawah kepemimpinan Donald Trump citra AS di mata dunia pun kian berantakan. Trump sering menggunakan retorika rasis selama masa kepresidenannya, terutama saat ketegangan rasial meningkat. 

Kebijakan "tanpa toleransi" Trump terhadap penyeberangan perbatasan ilegal telah menyebabkan pemisahan setidaknya 5.000 keluarga dan anak-anak ditempatkan di dalam kurungan. Trump dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan melanggar hukum internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dengan sejumlah fakta buruknya sepak terjang politik Amerika Serikat tersebut, maka sudah sepatutnya negara-negara di dunia tidak lagi menginduk kepada Amerika dalam tiga pilar, politik, ekonomi dan sosial budayanya yang akan mengokohkah Amerika Serikat di tengah Independensi bangsa. 


Dampak Kemenangan Joe Biden Terhadap Perkembangan politik, Budaya dan Kehidupan Agama Khususnya Islam di Indonesia

Kini tinggal menghitung hari mungkin jam Joe Biden akan dilantik sebagai presiden AS, resmi menggantikan kedudukan Donald Trump di gedung putih . Namun, ada yang menarik sekaligus menjadi polemik khususnya bagi umat Islam, pasalnya sebagaimana yang kami sebutkan di pengantar di atas, dalam salah satu kampanyenya, di depan komunitas muslim Amerika Serikat Biden memberikan harapan kepada warga muslim Amerika Serikat dengan menawarkan kebijakan yang lebih bersahabat dengan umat Islam. Biden berjanji akan mengakhiri kebijakan larangan masuk bagi imigran muslim yang selama ini dibuat oleh Donald Trump. 

Biden menyampaikan akan mengisi sebagian jajaran stafnya dari orang muslim, Biden berharap Islam lebih banyak diajarkan di sekolah. Karena menurutnya Muslim salah satu agama terbesar yang diakui keberadaannya di Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung Biden pun sampai mengutip salah satu bunyi hadits nabi Muhammad SAW. Dengan bahasa Inggris:

"A hadith from the Prophet Muhammad SAW instructs, whomever among you sees a wrong, let him change it with his hand, if he is not able, then with his tongue, if he is not able, then with his heart" (artinya : Hadith nabi Muhammad SAW menyatakan, barang siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lidahnya, jika tidak mampu juga maka ubahlah dengan hatinya). Tidak cukup sampai di situ Biden juga melafazkan kalimat "In syaa Allah" (artinya : Dengan izin Allah) dalam orasi kampanyenya. 

Atas dasar itulah kemudian banyak dari umat Islam atau komunitas muslim yang tampak seakan menaruh harapan kepada Biden, seperti timbul keyakinan bahwa Biden tidaklah sama dengan Donald Trump yang selama ini begitu nampak kebenciannya terhadap Islam. Umat Islam akhirnya turut mendukung serta berbahagia atas menangnya Biden dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Namun, menurut kami, sikap rangkulan yang ditunjukkan Biden terhadap umat muslim tersebut hanyalah sebuah kamuflase dari kepentingan pemilunya, sebagai upaya untuk meraup suara dan mendapat dukungan dari komunitas umat muslim di Amerika yang berjumlah kurang lebih 1 juta jiwa. 

Perlu diketahui cara berkampanye seperti tersebut di muka lazim dilakukan dalam negara demokrasi. Bukan hanya di Amerika tapi memang sudah menjadi tabiat dan watak para calon atau pemimpin di dunia dalam demokrasi, rela melakukan apa saja demi hajat dan kepentingannya terpenuhi. Terlebih-lebih Biden adalah berasal dari golongan bangsa Nasrani yang di dalam Quran ditegaskan Alloh bahwa sejatinya mereka tidak akan pernah ridha terhadap Islam sebelum orang Islam mengikuti jalan mereka.

Dalam penggalan QS Al Baqarah:120 Allah SWT telah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al-Baqarah: 120)

Lalu dampak apa yang akan terjadi dari menangnya Biden terhadap perkembangan politik, budaya dan kehidupan agama khususnya Islam di negeri-negeri muslim seperti Indonesia? Berikut pengamatan singkat kami terkait hal itu:

Pertama, dalam hal perkembangan politik

Bergantinya kepemimpinan baru tidak serta merta akan mengubah sistem politik Amerika Serikat yang pemerintahannya berazaskan sekulerisme demokrasi. Pada dasarnya sekularisme dan demokrasi tercipta jelas tidaklah sejalan dengan prinsip negeri-negeri muslim. Namun sayangnya, sistem politik sekuler demokrasi itulah yang dianut dan tetap akan sama diikuti oleh Indonesia. Amerika tetaplah akan menjadi kiblat bagi Indonesia sebagai pemilik instrumen dunia perpolitikan dalam dan luar negeri yang bermain di panggung besar kapitalisme global.

Segala kebijakan yang diambil Indonesia diperkirakan tidak akan pernah terlepas dari bayang-bayang AS oleh para penguasa boneka di negeri kaum muslimin. Dalam sistem perekonomian maupun penegakan hukumnya, negeri ini tetap akan sama saja dibawa kendali dan intervensi kapitalis kaki tangan Barat. Pengeksploitasian terhadap sumber daya alam (SDA) melalui legitimasi oleh tangan penguasa masih akan tetap berlangsung terutama di bidang migas dan energi. Begitu pula dengan landasan hukum maupun peraturan perundang-undangannya, tetaplah akan bernafas liberal sekulerisme kapitalistik melalui mekanisme demokrasi dalam kendali asing.

Kedua, dampak dalam hal berbudaya

Pengakuan Biden atas kepeduliannya terhadap Islam dan umat Muslim di Amerika, sama sekali tidak akan menghentikan penjajahan budaya barat terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Budaya liberal tetap akan tumbuh subur mendominasi kehidupan masyarakat di negeri-negeri muslim seperti halnya Indonesia. Melalui sistem pendidikan yang tetap dalam kendali barat yang berkurikulum sekulerisme. Sistem pergaulan anak muda maupun masyarakat pada umumnya tetaplah saja akan membebek dengan gaya hidup dan perilaku liberal yang jauh dari Islam.

Di bawah kepemimpinan Biden yang mencitradirikan dirinya bersahabat dengan Islam, justru akan berpotensi menjadikan Islam sebagai alat atas dalih dalam melindungi Para pelaku LGBT, penganut faham feminisme, seks bebas, pengeksploitasian terhadap kaum perempuan dan segala hal yang datang dari budaya barat dapat dilegalisasi atas nama Islam yang memelihara toleransi. Apalagi kesemua itu merupakan agenda yang sudah tersistematis, tanpa sadar semakin membuat hancur generasi dan masyarakat negeri ini.

Ketiga, dampak untuk kehidupan beragama khususnya Islam di Indonesia

Pendekatan pertama Biden terhadap umat Islam tampak dengan cara yang lebih soft, itu justru lebih berbahaya dengan pendekatan ala Donald Trump yang secara terang-terangan membenci dan memerangi Islam. Dampak sejatinya, Amerika pun tetaplah akan menjadi negara adidaya yang diprediksikan akan memerangi Islam dan kaum Muslimin dengan mengatasnamakan perang melawan terorisme atau perang melawan radikalisme.

Keberpihakan Amerika Serikat terhadap eksistensi penjajah Yahudi di Palestina tetaplah tidak akan membawa kesadaran bagi umat Islam di Indonesia untuk peduli dengan saudara seimannya, karena sudah dalam kendali propaganda maupun opini buruk yang dihembuskan terhadap dunia Islam khususnya umat muslim di Timur Tengah yang diidentikkan dengan peperangan dan pemberontakan. 

Melalui tangan penguasa yang dzalim dan otoriter, politik belah bambu di negeri ini masih akan senantiasa terjadi karena hal tersebut merupakan agenda AS dalam mencerai beraikan persatuan umat Islam. Mengadu domba kelompok-kelompok Islam, merangkul kelompok-kelompok islam moderat yang sejalan dengan kepentingan Amerika. Mereka akan lebih giat lagi dalam menghalangi dan mepersekusi kelompok-kelompok yang konsisten melakukan perjuangan penegakan syariat Islam secara kaffah, melalui stigma-stigma negatif dengan isu radikalisme yang dihembuskan melalui penguasa-penguasa represif di negeri muslim.

Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan tidak akan ada dampak perubahan yang mendasar bagi kehidupan politik, budaya dan agama di negeri ini, atas pergantian presiden AS. Antara Biden dan Trump layaknya dua sayap yang berada pada burung yang sama. Artinya, Amerika tetaplah Amerika yang akan tetap sama dalam memusuhi Islam. Maka, umat tidak perlu berharap apa-apa dari sosok baru presiden Amerika yang konon berpihak kepada umat Islam tersebut.

Strategi Islam untuk Mengatur Kehidupan Politik di Bawah kendali Negara Adikuasa Amerika

Sistem politik demokrasi adalah akar permasalahan paling mendasar, mengapa hingga kini kehidupan politik negeri-negeri muslim, tampak tidak mempunyai kekuatan dan selalu dalam kendali dan tekanan asing. Karena eksistensi sebuah negara bergantung pada aktivitas politik yang dijalankan. Terbukti dari Indonesia ataupun mayoritas negeri muslim di dunia yang selama ini cenderung mengekor kepada Barat, dalam sistem berpolitiknya, secara nyata mengalami kemunduran dan kemerosotan. Baik itu dari aspek politik sendiri, ekonomi, sosial dan budayanya. 

Tidak terkecuali dari aspek militernya, Indonesia dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya tampak tidak memiliki kekuatan militer apa-apa ketika seharusnya dapat dikirimkan untuk menyelamatkan umat Islam ke negara-negara kafir penjajah yang secara terang-terangan menindas umat Islam melalui penjajahan secara fisik, meskipun memiliki kapasitas militer yang cukup besar.

Idealnya kehidupan politik sebuah negara seharusnya tidaklah bisa dilepaskan dari agamanya. Maka dalam hal berpolitik, Islam telah memberikan panduan bagaimana mengatur perpolitikan melalui aktivitas politik Islam. Aktivitas politik Islam yang juga ditopang dengan kekuatan ideologinya, yaitu ideologi Islam bukan ideologi liberal kapitalisme. Yang menjadikan hukum-hukum Allah sebagai pengatur segala urusan, baik urusan individu, urusan masyarakat, maupun kenegaraan. Aktivitas politik luar negerinya yaitu dalam rangka mendakwahkan Islam, menyebarkan ideologinya serta menjaga eksistensi dan melindungi Islam dari bahaya dan konspirasi musuh.

Dengan membentuk opini umum tentang Islam yang tujuannya adalah agar manusia tertarik untuk masuk Islam, sehingga Islam mampu menancapkan pengaruhnya, serta meniscayakan penyebaran pemikiran Islam ke seluruh penjuru dunia dengan berbagai cara dan sarananya. Jadi, hanya dengan mengikuti cara berpolitik Islam itu sajalah negeri-negeri muslim di dunia, termasuk Indonesia bisa terlepas dari karakter sebagai negara pengekor dalam mencapai target-target politiknya. Karena predikat sebagai negara super power tidak mungkin diraih kecuali bila sebuah negara tersebut memiliki posisi tawar yang tinggi dan disegani di hadapan bangsa lain sehingga ia bisa mendikte bangsa lain sesuai dengan tujuannya.

Kendati demikian, sistem demokrasi saat ini telah sedemikian rupa menjadikan umat Islam meminggirkan ajarannya ke sudut yang paling belakang. Sistem sekulerisme demokrasi, telah menyingkirkan peran Allah SWT untuk mengatur umat manusia, khususnya dalam kehidupan berpolitik dan bernegara. Umat telah dibuat merasa asing terhadap syari'at-Nya, pesimis dan tidak bergairah untuk menerapkan hukum Islam sebagai pengatur kehidupan individu, masyarakat hingga ke tatanan negara. Akibatnya kehidupannya semakin mundur dan terpuruk dalam hegemoni kepentingan dan budaya Barat.

Lalu apa yang harus dilakukan? Umat Islam di seluruh dunia hendaklah segera bangkit. Bangkit dengan apa dan seperti apa? SyekhTaqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nidzamu al-Islam menyatakan bahwa kebangkitan yang hakiki harus dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyiru al-afkar) secara mendasar (asasiyan) dan menyeluruh (syamilan) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya.

Pemikiran yang membentuk pemahaman (mafahim) akan mempengaruhi tingkah laku. Akan terwujud tingkah laku Islamy bila pada diri seorang muslim tertanam pemahaman Islam. Dengan demikian kebangkitan umat Islam, khususnya di negeri ini adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam dirinya dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam, baik dalam kehidupan individu, bermasyarakat dan bernegara.

Untuk mencapai hal itu, memang umat harus terus-menerus membutuhkan dakwah, dakwah pemikiran yang dapat mengeluarkan mereka dari kemunduran seperti sekarang. Dengan demikian Umat Islam juga wajib memiliki agenda perjuangan sendiri, yang tumbuh di atas asas akidah Islam, yang bervisi menegakkan syariat Islam. Hingga Islam mampu diterapkan ke dalam sebuah institusi pemerintahan yang bernama Khilafah Islamiyah. Yaitu sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia, bertujuan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan mengemban dakwah Islam keseluruh penjuru dunia.

Mengapa khilafah sebagai srategi mondial? Hanya dengan sistem kehalifahan umat akan mampu membangun sebuah negara super power yang berdaulat dalam segala aspek serta membebaskan umat dan bangsanya dari segala macam penghambaan kepada makhluk dan materi, akan tetapi penghambaan yang hakiki hanya kepada Allah dan hukum-hukum-Nya. Dan patut dicatat adalah dengan adanya Khilafah, umat Islam tidak perlu lagi ada yang berharap secara berlebihan apalagi tunduk di bawah kendali negara adidaya sekuler seperti Amerika Serikat, ataupun negara sekuler lainnya.

Berdasar problem serta uraian pembahasan di muka, dapat diajukan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama. Sepak terjang Amerika sebagai negara superpower dengan segala tujuan kepentingan nasionalnya, sejatinya Amerika telah menunjukkan berbagai kebobrokan. Lihat saja bagaimana keberpihakannya terhadap Israel, standar ganda dalam penilaian HAM dan penerapan demokratisasi, eksploitasi ekonomi atas negara-negara Dunia Ketiga dan negeri-negeri muslim, hancurnya moral warganya yang liberal dan segudang kerusakan yang tidak patut dicontohkan oleh sebuah negara adikuasa. Nafas dari politik luar negeri Amerika Serikat sejatinya adalah sangat terkesan sebagai bentuk penjajahan (imperialisme gaya baru), baik dari secara ekonomi, politik, militer, maupun sosial budaya. Melalui rezim-rezim boneka di negeri-negeri muslim sebagai kaki tangannya dalam melakukan penjajahan dan teror terhadap dunia Islam. 

Kedua. Kemenangan Joe Biden bagi perkembangan politik budaya dan agama di Indonesia sejati tidak akan membawa dampak lebih baik, segala kebijakan yang diambil di negeri ini tidak akan pernah terlepas dari bayang-bayang AS oleh para penguasa boneka di negeri kaum muslimin. Dalam sistem perekonomian maupun penegakan hukumnya, negeri ini tetap akan sama saja dibawa kendali dan intervensi kapitalis kaki tangan Barat. Pengeksploitasian terhadap sumber daya alam (SDA) melalui legitimasi oleh tangan penguasa masih akan tetap berlangsung terutama di bidang migas dan energi. Begitu pula dengan landasan hukum maupun peraturan perundang-undangannya, tetaplah akan bernafas sekulerisme kapitalistik melalui mekanisme demokrasi dalam kendali asing.

Ketiga. Strategi Islam untuk mengatur kehidupan politik di Bawah kendali Amerika adalah dengan kembali kepada politik Islam dan bangkit secara pemikiran. Karena hanya dengan cara berpolitik Islam itu sajalah negeri-negeri muslim di dunia, termasuk Indonesia bisa terlepas dari karakter sebagai negara pengekor dalam mencapai target-target politiknya. Selain dari itu, umat Islam juga wajib memiliki agenda perjuangan sendiri, yang tumbuh di atas asas akidah Islam, yang bervisi menegakkan syariat Islam. Hingga Islam mampu diterapkan ke dalam sebuah institusi pemerintahan yang bernama Khilafah Islamiyah. Karena itulah, patut dicatat bahwa dengan adanya Khilafah, umat Islam tidak perlu lagi ada yang berharap apalagi tunduk di bawah kendali negara adidaya sekuler seperti Amerika Serikat atau pun negara sekuler lainnya. Tabik. []

Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum dan Liza Burhan
Dosen Online UNIOL 4.0 Diponorogo
#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst

Posting Komentar

0 Komentar