+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Kekerasan Seksual pada Anak Marak di Tengah Pandemi: Ancaman Serius Nasib Generasi




TintaSiyasi.com-- Ironis. Hari Anak Sedunia 20 November 2020 diperingati di tengah pandemi Covid-19 yang diliputi luka bahkan trauma anak Indonesia. Secara nasional, angka kekerasan seksual terhadap anak di masa pandemi meningkat. 

Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) menyebutkan bahwa selama periode Januari-25 September 2020, terdapat 6.384 anak korban kekerasan, eksploitasi, penelantaran dan perlakuan salah lainnya. 58,59% atau sekitar 3.741 anak menjadi korban kekerasan. 2.174 di antaranya ialah korban kekerasan seksual (mediaindonesia.com, 5/10/2020). 

Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Nahar, menyebut secara umum total tindak kekerasan terhadap anak tidak mengalami kenaikan, namun jumlah tindak kekerasan seksual terhadap anak justru mengalami kenaikan signifikan (sinarharapan.co, 24/8/2020).

Berdasarkan data Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polda NTB, pada Januari-Oktober 2020 tercatat 121 kasus kekerasan terhadap anak. Mayoritasnya adalah kekerasan seksual. Menurut Kasubdit UPPA Ditreskrimum Polda NTB, AKBP Ni Made Pujewati, awal semester pertama tahun ini, kekerasan seksual meningkat. Berbeda dengan tahun lalu yang tidak begitu banyak. 

Ia berpikir dengan adanya pandemi ini anak-anak di rumah semakin mendapatkan pengawasan dan perlindungan dari orang tua. Tetapi nyatanya kasus kekerasan seksual semakin meningkat. Kasus serupa juga melanda berbagai wilayah lainnya.

Kekerasan seksual pada anak di atas mewujud pada pemerkosaan, pencabulan, pengiriman konten porno hingga terangsang melakukan sodomi terhadap anak lain, penawaran menjadi model dengan disuruh berbaju minim hingga bugil, memalak korban dengan ancaman penyebaran video/foto telanjang, chat sexting, dsb. 

Tempat kejadian perkara (TKP) pun beragam. Dari rumah korban, rumah pelaku, tempat umum, hotel, tempat wisata, hingga serambi masjid. Pelakunya dari orang terdekat seperti ayah kandung, orang dikenal seperti guru, pengelola panti asuhan tempat korban diasuh, hingga orang asing.
 
Maraknya kasus ini terlebih di masa pandemi, tentu menambah derita berkepanjangan. Tak hanya efek jangka pendek, dampak bagi korban mungkin dirasakan selama hayat dikandung badan. Maka, tragedi memilukan ini harus segera diakhiri. Jika tidak, akan mengancam keberlangsungan nasib generasi di negeri ini.


Kekerasan Seksual pada Anak Marak di Tengah Pandemi, Tragedi Sistemik Merusak Generasi

Menurut Erlinda (Sekretaris Jenderal KPAI), kasus kekerasan seksual terhadap anak ibarat fenomena gunung es. Dapat dikatakan bahwa satu orang korban yang melapor, di belakangnya ada enam anak bahkan lebih yang menjadi korban tetapi tidak melapor. Betapa dunia kian tak aman bagi anak. Masa kanak-kanak yang seharusnya terisi keceriaan, pembinaan dan penanaman kebaikan, berbalik menjadi potret buram dicekam ketakutan.

Secara umum, pengertian kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan seorang anak dalam segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi, sebelum anak mencapai batasan umur tertentu yang ditetapkan oleh hukum negara yang bersangkutan, di mana orang dewasa atau anak lain yang usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari anak, memanfaatkannya untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual (CASAT Programme, Child Development Institute; Boyscouts of America; Komnas PA). 

Sementara Lyness (Maslihah, 2006) mengartikan kekerasan seksual terhadap anak meliputi tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak, tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkan media/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainya. Undang-Undang Perlindungan Anak memberi batasan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang terbagi dua kategori berdasar identitas pelaku, yaitu: 

1. Familial abuse.  
Termasuk  incest, yaitu kekerasan seksual di mana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah, menjadi bagian dalam keluarga inti. Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, pengasuh atau orang yang dipercaya merawat anak. 

2. Extra familial abuse.
Ialah kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban. Pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh anak dan telah membangun relasi dengannya, kemudian membujuk sang anak hingga terjadi pelecehan seksual, sering memberikan imbalan yang tidak didapatkan anak di rumahnya.

Adapun meningkatnya kekerasan seksual pada anak di tengah pandemi, menurut praktisi perlindungan anak  dipicu oleh:

1. Ditiadakannya sekolah tatap muka. Akibatnya, ruang gerak anak lebih leluasa. Ditambah kejenuhan menyikapi lamanya pandemi dengan segala efeknya, mendorong anak melakukan aktivitas yang dianggap ‘having fun.’

2. Minimnya pengawasan orang tua. Di satu sisi, anak tidak masuk sekolah, di sisi lainnya, orang tua tetap bekerja (meski ada yang dari rumah) atau beraktivitas lainnya sehingga pengawasan orang tua minim. Terlebih sebelum pandemi, orang tua biasa dibantu sekolah (guru) dalam mendidik dan mengawasi anak sehingga sebagiannya gagap mengelola aktivitas anak.

3. Penggunaan HP dan media sosial yang tidak terkontrol. Sejak pandemi, HP menjadi kebutuhan utama belajar secara online. Sebagian orang tua mampu membelikan HP untuk anaknya. Namun mereka tidak mengontrol apa yang dilakukan anak melalui HP, bahkan ada yang tidak bisa mengoperasikannya. Dalam banyak kasus, awalnya anak berkenalan dengan orang lain melalui media sosial. Setelah bertemu satu hingga dua kali, akhirnya terjadilah kasus kekerasan seksual.

Berdasarkan data dan analisis praktisi, situasi yang melingkupi pandemi memang menjadi pemicu meningkatnya kekerasan seksual pada anak. Namun jika ditelisik lebih dalam, fenomena ini bukanlah problem yang berdiri sendiri. Berulangnya kasus ini menandakan tidak bersifat kasuistik, melainkan perkara sistemik. 

Minimnya pengawasan orang tua memang berkontribusi dalam meningkatnya kekerasan seksual pada anak. Tetapi bukan hanya faktor tersebut. Sejatinya, sistem sekularisme kapitalis liberal memiliki andil besar atas sederet problem masyarakat termasuk kekerasan ini. 

Pengadopsian sekularisme (paham pemisahan agama dari kehidupan) sebagai landasan sistem pendidikan di negeri ini telah mencabut ruh keimanan dalam diri pelajar. Pembelajaran ilmu umum tidak dipadukan dengan aspek agama. 

Pendidikan agama diajarkan sebatas ibadah ritual dengan metode sekadar transfer pengetahuan dalam waktu minimalis per perpekannya. Ketika makna agama disempitkan maka iman takwa pun tak diizinkan mewarnai aktivitas di luar ibadah ritual. Wajar jika output pendidikan sarat dengan nilai liberal, menjadi pribadi serba bebas dan liar.

Di luar lingkungan sekolah, anak berinteraksi dengan berbagai produk kapitalis yang mengumbar adegan kekerasan seperti games, video dan tayangan lain yang mudah diakses melalui perangkat digital. Gaya hidup hedonisme yang bertumpu pada kesenangan materi sebagai tujuan hidup dan asas tindakan menambah keliaran.

Sistem ekonomi neoliberal saat ini juga mendukung terjadinya kasus ini. Liberalisasi ekonomi dari hulu ke hilir berdampak pada kemiskinan struktural. Untuk dapat bertahan hidup tak hanya ayah yang bekerja, kaum ibu turut serta dalam pusaran dunia kerja. Pengasuhan dan pengawasan anak pun berjalan ala kadarnya. 

Terlebih di masa krisis pandemi. Di tengah kian beratnya beban ekonomi dan problematika penbelajaran jarak jauh, orang tua dituntut membentengi anak dari berbagai pengaruh merusak. Lamban dan gagapnya pemerintah dalam penanganan Covid-19 turut memperburuk keadaan. Kita saksikan bahwa kehendak penguasa menyelesaikan pandemi tidak bermuara pada kemaslahatan rakyat. Melainkan berbasis pada perhitungan ekonomi dan investasi. Bukan prioritas keselamatan nyawa dan kesehatan jiwa. 

Walhasil, meningkatnya angka kekerasan seksual terhadap anak memang dipicu oleh pandemi. Namun sejatinya lebih sebagai akibat penerapan sistem sekularisme kapitalis liberal. 


Dampak Kekerasan 
Seksual pada Anak Begitu Memilukan

Kekerasan seksual terhadap anak dapat dilihat dari sudut pandang biologis dan sosial, yang berdampak psikologis pada anak. Secara biologis, sebelum pubertas, organ-organ vital anak tidak disiapkan untuk melakukan hubungan intim. Jika dipaksakan, tindakan tersebut akan merusak jaringan. Ketika terjadi kerusakan secara fisik, maka telah terjadi tindak kekerasan. 

Sedangkan dari sudut pandang sosial, karena dorongan seksual dilampiaskan secara sembunyi-sembunyi, tentu saja pelaku tidak ingin diketahui orang lain. Ia akan berusaha membuat korban ‘tutup mulut’. Salah satu cara yang paling mungkin dilakukan adalah melakukan intimidasi. 

Ketika anak diancam, secara alami tubuh anak melakukan pertahanan atau penolakan. Secara biologis, saat  tubuh anak menolak, maka paksaan tersebut akan kian menimbulkan cedera dan kesakitan. Saat itu berarti terjadi kekerasan. Rasa sakit dan ancaman ini tentu menjadi pengalaman traumatis bagi anak. 

Anak akan selalu mengalami perasaan tercekam sampai ia mengatakannya. Sedangkan untuk mengatakan, anak selalu dihantui intimidasi dari pelaku. Karena itu, rasa sakit dan intimidasi juga menjadi kekerasan psikologis bagi anak. 

Adapun dampak kekerasan seksual terhadap anak dari berbagai aspek adalah: 

1. Fisik.
a. Penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala.
b. Tidak nyaman di sekitar alat vital.
c. Beresiko tertular penyakit menular seksual.
d. Luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan.
e. Kehamilan yang tidak diinginkan. 

2. Psikologis.
a. Powerlessness, merasa tidak berdaya dan tersiksa ketika mengungkap peristiwa pelecehan seksual.
b. Timbul perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri.
c. Stres, depresi, goncangan jiwa.
d. Mimpi buruk, insomnia.
e. Keinginan bunuh diri.
f. Gangguan kepribadian.
g. Konsentrasi  menurun sehingga prestasi akademik rendah.
h. Gangguan psikis yang menghambat tumbuh kembang anak.
i. Dampak jangka panjangnya antara lain: fobia hubungan seks atau justru terbiasa dengan kekerasan sebelum berhubungan seksual, berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual di kemudian hari.

3. Sosial.
a. Menjadi pribadi tertutup dan tidak percaya diri.
b. Rasa takut berhubungan dengan orang lain.
c. Tidak bersosialisasi dengan dunia luar. 

Dampak negatif kekerasan seksual terhadap anak begitu beragam dan memilukan.  Terlebih terjadi di tengah kemelut pandemi yang tak berkesudahan. Kepedihan bagi korban dan keluarga tentu berlipat.  


Strategi Islam Menghindarkan Anak dari Kekerasan Seksual

Masa kanak-kanak adalah di mana anak sedang dalam proses tumbuh kembangnya. Ia wajib dilindungi dari segala bentuk kekerasan terutama kekerasan seksual. Begitu pentingnya upaya perlindungan anak demi kelangsungan masa depan sebuah komunitas, baik komunitas terkecil yaitu keluarga, maupun komunitas terbesar yaitu negara. 

Dengan demikian, untuk menghindarkan anak dari kekerasan seksual, perlu adanya sinergi antara keluarga, masyarakat dan negara. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Sinergitas adalah keniscayaan.

1. Keluarga.

Sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) dimana orang tua menjadi guru pertama dan utama, tugas orang tua adalah:
a. Membekali anak dengan aspek fundamental kehidupan yaitu iman dan takwa.
b. Mengajarkan tentang tarbiyah jinsiyah (pendidikan seksual) ala Islam. Misalnya tentang tata pergaulan dengan lawan jenis, memperlakukan tubuhnya, dst.
c. Mengawasi, mendampingi dan memastikan bahwa anggota keluarga berada di jalur yang benar sesuai aturan agama dan hukum yang berlaku.
d. Menjaga dan menghindarkan anak dari segala bentuk kekerasan.

2. Masyarakat.

Masyarakat juga wajib melindungi anak-anak dari kekerasan seksual. Hal-hal yang bisa dilakukan adalah:
a. Menguatkan fungsi kontrol dan meningkatkan kepedulian, ikut mengawasi perilaku anggota masyarakat lainnya.
b. Melakukan amar makruf nahi mungkar.
c. Jika ada kekerasan atau tampak ada potensi kemunculannya, masyarakat mencegah atau melaporkan pada pihak berwenang.

3. Negara.

Negara harus hadir dalam mencegah dan menangani kasus yang menimpa aset generasi ini. Tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah kekerasan anak jika yang melakukannya hanya individu atau keluarga. Negara berfungsi sebagai pengayom, pelindung dan benteng bagi keselamatan seluruh rakyatnya, termasuk anak. Negara adalah benteng sesungguhnya yang melindungi anak-anak dari kejahatan. 

Mekanisme perlindungan ala Islam dilakukan secara sistemik, melalui penerapan berbagai aturan, yaitu:

a. Penerapan sistem ekonomi Islam.

Beberapa kasus kekerasan anak terjadi karena fungsi ibu sebagai pendidik dan pengawas anak kurang berjalan. Tekanan ekonomi memaksa ibu untuk bekerja meninggalkan anaknya. Padahal terpenuhinya kebutuhan dasar merupakan masalah asasi manusia. Karenanya, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja agar para kepala keluarga dapat bekerja dan menafkahi keluarga. Sehingga tidak ada anak terlantar karena para ibu akan fokus pada fungsi mendidik dan menjaga anak, serta tidak dibebani tanggung jawab nafkah.

b. Penerapan sistem pendidikan.

Negara wajib menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang melahirkan individu bertakwa. Individu yang melaksanakan seluruh kewajiban dari Allah dan terjaga dari kemaksiatan apapun yang dilarang-Nya.
 
c. Penerapan sistem sosial.

Negara wajib menerapkan sistem sosial yang menjamin interaksi laki-laki dan perempuan berlangsung sesuai syariat. Di antara aturan tersebut adalah: perempuan diperintahkan menutup aurat dan menjaga kesopanan, menjauhkannya dari eksploitasi seksual, larangan memperlihatkan dan menyebarkan perkataan serta perilaku yang mengandung erotisme dan kekerasan (pornografi dan pornoaksi) serta akan merangsang bergejolaknya naluri seksual. Ketika sistem sosial Islam diterapkan, tidak akan muncul gejolak seksual liar pemicu kasus kekerasan seksual pada anak.

d. Pengaturan media massa.

Berita dan informasi yang disampaikan media hanyalah konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Dilarang penyebaran konten yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran.

e. Penerapan sistem sanksi.

Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap pelaku kekerasan seksual. Hukuman tegas akan berefek jera dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Dalam proses penerapan aturan di atas, masyarakat juga wajib mengontrol peran negara sebagai pelindung rakyat. Jika ada indikasi negara abai terhadap kewajibannya atau tidak mengatur rakyat berdasarkan aturan Islam maka masyarakat akan mengingatkannya.

Semestinya, negara kini bertanggung jawab menghilangkan biang kerok terjadinya kekerasan seksual terhadap anak, yaitu penerapan ekonomi kapitalis, penyebaran budaya liberal, serta politik demokrasi. Pun, segenap elemen umat Islam bahu-membahu memperjuangkan tegaknya institusi penerap Islam kafah yaitu khilafah ala minhajin nubuwah. Tegaknya akan mengantar rahmat, yaitu membawa kebaikan dan menghilangkan keburukan. []


Oleh: Puspita Satyawati
Analis Politik dan Media
Dosen Online UNIOL 4.0 Diponorogo


PUSTAKA

Noviana, Ivo, Kekerasan Seksual terhadap Anak: Dampak dan Penanganannya,Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI, 10 Maret 2015

Achmad, Dedeh Wahidah, Islam Melindungi Anak dari Kekerasan dan Kejahatan, muslimahnews.com, 14 Januari 2019

Posting Komentar

0 Komentar