Kekerasan Pada Anak Terus Berulang, Negara Lepas Tangan



Delapan bulan terlewati dengan kondisi masyarakat yang hingga kini masih terancam kesehatannya oleh Covid 19. Sebagian besar masyarakat juga tengah menghadapi ancaman lainnya ditengah pandemi, seperti PHK, naiknya harga kebutuhan pokok, bahkan ancaman keretakan rumah tangga. Tak terkecuali pada anak, mereka juga merasakan dampak wabah. Saat beraktivitas diluar rumah ada virus yang mengintai namun tetap berada dirumah nyatanya tak dapat menjamin rasa aman bagi anak.

Sebagaimana yang dialami seorang anak perempuan kelas 1 SD di Tangerang. Ia di aniaya ibu kandungnya sendiri lantaran sang ibu jengkel saat membersamai pembelajaran daring hingga berakibat hilangnya nyawa anak (sindonews.com 8/10/2020).  

Di Riau, RFZ bocah 10 tahun disiksa ayah kandungnya sendiri. Dengan tega sang ayah mencabut kuku kaki dan tangannya menggunakan tang dan memukul RFZ 2x dengan kursi kayu, bahkan mengancam akan memotong kakinya dengan kampak (kompas.com 2/10/2020).  

Hal serupa juga terjadi di Malang, seorang anak berusia 8 tahun dicambuk oleh ibunya sendiri tersebab kesal sang anak tak kunjung memahami penjelasan yang ia berikan terkait pelajaran matematika (tribunnews.com 3/9/2020)k 

Kekerasan anak juga terjadi di Medan (Sumatera Utara), IF (10) dan RA (5) tewas mengenaskan di tangan ayah tirinya. Menurut penyelidikan, kedua anak malang itu mengalami luka parah di bagian kepala. Sementara ayah tiri korban mengaku menghabisi nyawa kedua anaknya lantaran sakit hati atas ucapan mereka (kompas.com,23/6/2020).

Berdasarkan catatan Kemensos RI kasus terkait anak merangkak naik di tengah pandemi, mulai anak yang berhadapan dengan hukum, kekerasan pada anak, anak korban kejahatan seksual dan kasus anak korban penelantaran. Dalam 3 bulan terakhir terhitung sejak Juni hingga Agustus telah dilaporkan total kasus sebanyak 8.259 pada bulan Juni, 11.797 kasus di bulan Juli dan bertambah menjadi12.855 kasus tercatat di bulan Agustus (republika.co.id 14/10/2020). 

Padahal telah diberlakukan Pasal 28 B ayat 2 UU yang berbunyi “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh ddan berkembang serta berhak atas perlindungan dar kekerasan dan diskriminasi”. Namun kebijakan tersebut nyatanya tak menjamin anak mendapatkan kehidupan yang aman. Bahkan kasus kekerasan anak diinformasikan terus meningkat tanpa ada perubahan signifikan untuk menanggulangi kekerasan yang terjadi.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Leny Nurhayati Rosalim mengatakan kekerasan terhadap anak meningkat selama pandemi disebabkan orang tua yang mengalami stres. Orang tua kehilangan sumber pendapatan, cemas tidak mampu membayar tagihan, dan banyak yang tidak mampu mengelola mentalnya (nasional.tempo.co, 16/5/2020). Hal senada juga dinyatakan Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB, Yulina Eva Riany “stres orang tua inilah yang menjadi cikal bakal munculnya amarah, rendahnya tingkat kesabaran, dan tingginya tensi orang tua terhadap berbagai masalah yang muncul” (sindonews.com 8/10/2020).

Bila dicermati program pemerintah lebih banyak mengembalikan tanggung jawab perlindungan anak dari kekerasan kepada orang tua dan keluarga. Tanggung jawab pemerintah seolah cukup mewujudkan dengan pemberian sanksi yang lebih berat pada pelaku kejahatan dan pemberian fasilitas agar korban kekerasan mendapatkan bantuan pengobatan dan pemulihan kondisi mental. Ditambah lagi kesenjangan sistem ekonomi kapitalis membuat masyarakat kebingungan bagaimana harus bertahan hidup saat PHK besar-besaran di tengah pandemi. Ibaratnya sudahlah pusing mencari kerja anak istri minta uang jajan dan untuk masak juga kebutuhan sekolah daring yang mahal, semua serba berpajak membuat kepala keluarga tertekan dan mudah melakukan kekerasan fisik. Kondisi ini juga berpeluang besar membuka keran eksploitasi anak seperti pelacuran, anak jalanan, anak mengemis, anak putus sekolah, hingga anak terlantar. Semua ini karna pemerintah abai akan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat dan hanya memindahkan tanggung jawab negara pada individu. 

Inilah tabiat pemerintah dalam sistem kapitalisme yang hanya memikirkan materi, pemerintah sibuk membangun insfrastruktur dan mencari investasi, mereka enggan memenuhi kebutuhan dasar rakyat secara cuma-cuma dan sukarela. Bahkan kebijakan yang diambil nergara berasas kapitalisme sekuler hanya menguntungkan sekelompok orang /korporasi. Pemernitah menyerahkan pemanfaatan SDA pada swasta yang berujung pada kecilnya penyerapan tenaga kerja oleh negara. Wajar nasib keluarga terutama anak dalam negara demokrasi kapitalis tak pernah cerah.

Dalam Islam, negara wajib menyediakan lapangan kerja yang layak agar setiap kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Sehingga tidak ada anak yang telantar, krisis ekonomi yang memicu kekerasan anak oleh orang tua yang stres bisa dihindari, para ibu akan fokus menjalankan fungsi keibuannya dalam mengasuh, menjaga, dan mendidik anak karena tidak dibebani tanggung jawab mencari nafkah. Negara akan menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang melahirkan individu bertakwa. Salah satu hasil dari pendidikan ini adalah kesiapan orang tua menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak, serta mengantarkan mereka ke gerbang kedewasaan. Masyarakat juga wajib melindungi anak-anak dari kekerasan dengan melakukan amar makruf nahi mungkar. Tidak akan membiarkan kemaksiatan terjadi di sekitar mereka. Negara juga tak luput dari kontrol masyarakat, jika ada indikasi negara abai terhadap kewajibannya berdasarkan aturan Islam, maka masyarakat akan mengingatkannya.

Penyebab utama kekerasan pada anak tidak lain adalah penerapan ekonomi kapitalis, penyebaran budaya liberal, serta politik demokrasi. Sudah seharusnya menghilangkan sumber masalahnya dengan menerapkan Islam dalam naungan Khilafah. Khilafah akan menjamin keberlangsungan kehidupan manusia, sejahtera, serta aman dari segala tindakan kekerasan pada setiap individu rakyatnya. Sudah saatnya kita mencampakkan sistem Sekuler-Liberal yang rusak dan merusak sendi-sendi kehidupan manusia dan mengambil Islam sebagai solusi yang menenangkan jiwa serta menjaga anak-anak dari berbagai bahaya yang mengancam. Wallahua’la bissawab.[]


Oleh: Agustin Pratiwi S.Pd (owner Mustanir Courses)

Posting Komentar

0 Komentar