Kekerasan Anak Mengintai, Apakah Salah Pandemi?



Pandemi COVID-19 yang hingga kini masih belum terkendali di Indonesia, memaksa masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas di rumah. Hal ini dilakukan oleh pemerintah untuk menekan laju penyebaran virus, dengan cara menetapkan kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah. Namun kondisi semacam ini ternyata memunculkan polemik baru di ranah keluarga. Alih-alih anak mendapatkan perlindungan dari penyebaran virus COVID-19, anak-anak justru banyak menjadi korban kekerasan dari keluarga dekat selama pandemi.

Data yang dihimpun dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) dari tanggal 1 Januari sampai 23 September 2020 menunjukan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di tanah air sebanyak 5.697 kasus dengan 6.315 korban (kompas.com, 14/10/2020). Dengan sumber yang sama, tahun 2019 angka kekerasan pada anak sebanyak 8.488 kasus.

Tren peningkatan kekerasan terhadap anak disinyalir karena adanya perubahan drastis rutinitas sehari-hari yang berakibat timbul kejenuhan, kebosanan serta emosi ketika mendampingi belajar anak selama Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Maka tidak jarang hal itu menyebabkan terjadinya konflik antar anggota keluarga.

Dosen IPB untuk Fakultas Ekologi Manusia (Fema), Dr Yuliana Eva Riany, menjelaskan penelitian yang menunjukkan bahwa mayoritas tindak kekerasan terhadap anak terjadi pada keluarga dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah. Kekerasan pada anak sering terjadi karena tekanan sosial-ekonomi seperti terlilit utang, rendahnya kemampuan ekonomi, dan berbagai faktor lain yang menjadi penyebab tingginya tingkat stress pada orangtua. Kondisi semacam ini kemudian memicu para orang tua untuk melampiaskan ledakan emosinya kepada orang terdekat mereka, termasuk anak-anak.

Tingginya kenaikan angka kekerasan pada anak di berbagai wilayah Indonesia pada akhirnya semakin mengkonfirmasi bukti kegagalan sistem kapitalis sekuler dalam melindungi rakyat terutama anak-anak. Bibit generasi yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan keamanan justru menjadi tumbal sistem yang rusak, terutama di masa pandemi. Sistem kapitalis sekuler yang diagungkan oleh rezim nyatanya membuka lebar pintu keburukan bagi generasi umat.

Kekerasan yang terjadi pada anak sesungguhnya disebabkan oleh banyak faktor, terutama dalam aspek sosial-ekonomi. Dalam aspek ekonomi misalnya, negara tidak mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat selama pandemi. 

Terjadinya PHK besar-besaran akibat dari pengurangan jam kerja di kala pandemi COVID-19, serta sulitnya mencari lapangan pekerjaan baru pada akhirnya menjadi beban berat yang harus ditanggung rakyat. Ditambah lagi dengan program pendidikan daring yang digadang-gadang akan mampu menjadi solusi pemenuhan kebutuhan pendidikan anak semasa pandemi malah menjadi malapetaka anak-anak.

Bagaimana tidak? Di saat kondisi ekonomi tengah menghimpit para orang tua selama pandemi, orang tua justru dituntut untuk mendampingi dan menyediakan fasilitas belajar daring bagi anaknya. Hal ini kemudian menjadi poin utama penyebab meningkatnya level stress orang tua, yang banyak di antara mereka melampiaskan kemarahannya pada anak. Inilah salah satu wajah buruk akibat dari diterapkannya sistem buatan manusia, kapitalis sekuler.

Di sisi lain, tidak sedikit anak yang dijejali dengan gadget dan TV oleh orang tua mereka selama pandemi. Banyak orang tua yang mengalihkan aktivitas anak-anaknya kepada gadget dan TV, yang pada akhirnya membuat gadget dan TB menjadi 'sahabat karib' anak sepanjang mereka berada di rumah.

Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa konten-konten yang ada di internet ataupun TV justru banyak mempertontonkon pornoaksi dan pornografi, serta mengandung nilai-nilai keburukan lain semisal adegan kekerasan dan kata-kata yang tidak mendidik. Maka, semakin hancurlah ketahanan keluarga umat oleh gempuran media yang menanamkan nilai-nilai rusak pada anak.

Anak-anak seharusnya mendapat perlindungan terbaik dari negara, salah satunya adalah dengan memastikan hanya nilai-nilai kebaikan saja yang berseliweran di media. Di sisi lain, negara berkewajiban pula untuk segera menyelesaikan pandemi di Indonesia agar persoalan turunan seperti masalah ekonomi dan sosial tidak berlarut-larut terjadi. Selain itu, fakta banyaknya kekerasan pada anak oleh orang terdekat mereka seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi para orang tua. Karena sejatinya para orangtua berkewajiban untuk memberikan rasa aman pada anak.

Namun sayang, nyatanya kasus kekerasan pada anak tidak hanya terjadi di masa pandemi tetapi juga sebelum pandemi COVID-19. Tingginya kasus pun menunjukkan bahwasannya kasus kekerasan pada anak bukan hanya perkara masalah individu keluarga maupun masyarakat, melainkan problem sistemik yang membutuhkan perubahan mendasar. 

Dari sini kita melihat bahwa penerapan sistem kapitalis sekuler membuat keadaan sosial-ekonomi rakyat terpuruk, yang membuat ketahanan keluarga umat luluh lantak dan sulit untuk diperbaiki.

Kasus kekerasan pada anak, yang sejatinya adalah kasus turunan dari ambruknya sistem ekonomi dan sosial masyarakat sekuler kapitalis, justru akan sangat sulit ditemukan ketika Islam diterapkan secara kafah di kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Di masa wabah (pandemi) misalnya, Islam mewajibkan negara untuk fokus menyelesaikan pandemi dari sisi kesehatan dan bukan yang lain. 

Artinya, Islam mengharuskan negara mengutamakan keselamatan nyawa rakyatnya dan bukan malah fokus mendongkrak perekonomian rakyat. Karena sejatinya, perekonomian umat akan mampu dibangkitkan kembali jika virus penyebab pandemi sudah berhasil dihilangkan di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, Islam mewajibkan negara untuk menjamin kehidupan pokok warganya, termasuk dalam penyediaan lapangan pekerjaan, penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terjangkau bahkan gratis. Dengan pemenuhan kebutuhan pokok umat semacam ini tentu saja tingkat stress pada orang tua, yang disinyalir menjadi alasan utama munculnya kekerasan anak di rumah, akan bisa ditekan bahkan dihilangkan.

Tidak hanya itu, sistem pendidikan Islam memfokuskan perhatiannya pada pembentukan individu-individu yang berkepribadian Islam dan bukan hanya sekedar mengejar nilai atau prestasi akademis. Sistem pendidikan semacam ini tentu saja tidak menjadikan anak didik dan orang tua stress ataupun tertekan.

Sistem pendidikan Islam yang mengutamakan pada penanaman akidah dan memahamkan nilai-nilai Alquran dan sunah, secara langsung membentuk generasi orang tua yang paham akan fungsi dan perannya dalam mendidik anak di rumah. Dimana para ibu misalnya, berfungsi sebagai rabbatul bait (pengurus rumah tangga) sekaligus madrasah pertama bagi anak. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya” (HR Muslim).

Dengan demikian, jelaslah sudah bahwa tingginya kasus kekerasan yang terjadi pada anak selama ini justru berawal dari penerapan sistem kapitalis sekuler yang merusak, bukan timbul karena adanya pandemi. Dan solusinya tentu saja dengan menerapkan sistem yang lebih paripurna yakni sistem Islam dalam segala aspek kehidupan. Wallahu'alam bi ash-Shawab.[]

Oleh: Trisna AB
Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar