Kebebasan Hak Milik, Untungkah?



Menyandarkan segala urusan kita kepada selain Allah adalah langkah yang salah dan akan menghantarkan kepada kesempitan hidup. Sebagaimana yang kita rasakan kala ini dimana sebagian besar masyarakat masih berpegang teguh terhadap aturan yang bersumber kepada selain dari Allah. Yaitu sistem pengaturan kehidupan yang berdasarkan kepada pemikiran sekulerisme.

Produk hasil buatan dari pemikiran sekulerisme ini adalah perundang-undangan. Tentunya atas nama demokrasi. Sebagai contoh adalah UU CIPTAKER yang baru-baru ini disahkan oleh mereka yang berada di tampuk kepemimpinan. Kemudian, berbagai macam penolakan terjadi hingga demo besar-besaran menuntut keadilan untuk negeri ini. 

Dampak dari disahkannya UU tersebut adalah timbulnya permasalahn di berbagai bidang, salah satunya pada bidang SDA sebagaimana yang terlansir di dalam selasar.co degan tajuk ‘Royalti Tambang Berpotensi Turun akibat Omnibus Law, Isran: Saya Tidak Terlalu Paham’[1]. dan kemudian juga yang terlansir pada  prokal.co dengan judul ‘Hilirisasi Batu Bara Berat, Kata Pengusaha Ngga Menguntungkan..!!’[2].

Adapun demokrasi secara luas menghasilkan berbagai macam peraturan yang bebas. Kebebasan adalah hal yang sangat diagungkan dan diistemewakan dalam sistem ini. Sebagai contoh pengelolaan SDA di negara kita dibebaskan, bagi mereka yang  memiliki dana yang cukup untuk mengurus urusan administrasinya dengan negara.

Tentu jika berpikir secara praktis hal ini akan membawa kepada keuntungan yang sangatlah melimpah dan menguntungkan. Namun perlu kita ketahui, pemikiran yang selalu menomorsatukan keuntungan materi dan menomorsekiankan segala hal adalah pemikiran yang tidak seharusnya kita ambil, karena pemikiran ini adalah salah satu ciri daripada pemikiran kapitalisme. Pemikiran ini sesungguhnya akan merusak keteraturan didalam kehidupan manusia.

Baik itu kehidupan manusia itu sendiri atau bahkan hingga dari segi aspek lain seperti lingkungan juga terkena kerusakan. Harus kita pahami bersama bahwa saat ini konidisi kita bukanlah pada posisi yang bisa dikatakan damai tentram sejahtera. Namun, kita dapat merasakan kesempitan hidup. Oleh karena menyandarkan diri kepada selain daripada Allah.

Artinya baik dari hati, lisan, dan perbuatan kita masih saja tidak menyandarkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah. Berapa banyak ummat islam merasa cukup dengan dirinya yang sudah berbuat baik versi mereka sendiri. Bahkan menggunakan nalarnya untuk menimbang dan memilihi aturan mana yang sesuai dengan keinginannya dan aturan mana yang tidak sesuai.

Padahal Allah menciptakan manusia itu sepaket dengan aturannya yaitu Al-qur’an. Buku pedoman atau petunjuk untuk menapaki kehidupan kita di dunia ini. Sebagaimana firman Allah “Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (TQS an-Nahl [16]: 89).

Maka seharusnya kita kembalikan kepada Allah segala urusan yang saat ini kita hadapi. Sebagai contoh permaslahan di dalam aspek pengelolaan SDA. Islam memiliki aturan yang sudah pasti sempurna dan sangat adil.

Sebagaimana yang sabda Rasulullah saw.:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ
Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).

Menurut aturan Islam, SDA adalah bagain dari kepemilikan umum, maka wajib hukumnya untuk dikelola oleh negara. Hasil darinya akan diserahkan kembali kepada ummat. Kemudian kekayaan ini haram hukumnya jika menyerahkan pengelolaannya kepada individu, kepada sekelompok orang atau bahkan kepada pihak asing.

Sebagaimana sabda Rasulullah 

ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ

Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).

Maka dapat kita ambil kesimpulan keuntungan yang dilandasi dengan pemikiran selain daripada islam adalah akan membawa kepada kerugian. Boleh dikata mereka memiliki banyak sekali materi namun pertanyaannya apakah berkah ? Apakah allah ridho atas harta kekayaan yang telah dimiliki ?

Sedangkan sudah sangat jelas bahwa dalam islam, hukum mengelola SDA haram jika dikelola oleh segelintir kelompok bahkan individu. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa ganjaran daripada perilaku ini adalah mendapatkan dosa. Maka bukan untung yang didapatkan tetapi kerugian yang nyata.

Maka kembalilah kepada hukum Allah agar tidak menjadi orang-orang yang bangkrut di dunia maupun di akhirat. Agar menjadi manusia yang Allah ridhoi. Wallahu ‘alam.[]


Oleh: Annisa Fatimah (Aktivis Mahasiswa)

[1]https://selasar.co/read/2020/10/21/3212/royalti-tambang-berpotensi-turun-akibat-omnibus-law-isran-saya-tidak-terlalu-paham

[2]https://amp-kaltim-prokal-co.cdn.ampproject.org/v/s/amp.kaltim.prokal.co/read/news/378398-hilirisasi-batu-bara-berat-kata-pengusaha-ngga-menguntungkan?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=16035209552254&csi=1&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fkaltim.prokal.co%2Fread%2Fnews%2F378398-hilirisasi-batu-bara-berat-kata-pengusaha-ngga-menguntungkan

Posting Komentar

0 Komentar