Katanya Film Cinta Negeri, Tapi Kenapa Berisi Islamofobia?


Di saat Muslim dunia marah dengan penghinaan terstruktur sebuah negara terhadap Rasulullah SAW yang dilakukan majalah Charlie Hebdo Prancis. Umat Islam dalam negeri  malah tambah dibuat geram dengan video pendek yang ditayangkan oleh akun YouTube NU Channel (23/10/2020), My Flag -Merah Putih VS Radikalisme. Lagi-lagi stigmatisasi negatif oleh para pengusung Islamofobia terhadap ajaran Islam, menjadi pesan dari film provokatif tersebut.

Dalam film berdurasi pendek ini hendak dinarasikan sebentuk kecintaan dari sekelompok remaja santri   kepada negeri. Dijunjungnya bendera dan begitu dihormatinya sampai-sampai dikatakan bahwa tidak boleh ada bendera lain selain merah putih. Namun di menit 3.10 sampai dengan 3.40, selama sekitar 30 detik, menampilkan adegan perkelahian antara kelompok  remaja santri yang membawa bendera merah putih dengan sekelompok santri dan santriwati bercadar yang membawa bendera hitam putih. Dalam adegan tersebut digambarkan pula bahwa santri dan santriwati yang menjunjung merah putih berhasil memukul mundur lawannya serta mencabut cadar dan mencampakkannya. Adegan ini tidak menjelaskan apa-apa kecuali pencitra burukan ajaran Islam cadar dan celana cingkrang. Mengindentikkan ajaran Islam sebagai simbol radikalisme yang berbahaya bagi Negara.

Tayangnya film ini sangat disayangkan bukan hanya oleh orang awam akan tetapi juga kalangan ulama. Bahkan ulama dari Nahdatul Ulama pun turut memberikan masukan, pandangan, serta kritikan. Utamanya terhadap adegan tawuran yang terkesan mengadu domba sesama muslim untuk saling mencurigai, juga melecehkan ajaran Islam yakni syariat cadar dan bendera Rasulullah ar-Roya dan al-Liwa dengan mengkaitkannya pada radikalisme.

Menanggapi film tersebut, Lebih lanjut Buya Yahya menganggap NU kurang bijak lantaran ingin menanamkan jiwa patriotis dan nasionalis tetapi dengan cara yang tidak tepat dengan menyudutkan pihak lain. (jakbarnews.pikiran-rakyat.com, 28/10/2020)

Setidaknya ada lima tanggapan yang Achyat Ahmad Direktur An Najah Center Sidogiri sampaikan dalam tulisan tersebut. Di antaranya, bahwa film tersebut digarap dengan modal yang sangat-sangat minim. Bukan modal dana atau peralatan, melainkan modal pengetahuan. Yang ke dua masih karena keterbatasan pengetahuan dan minimnya modal ilmu itu tadi, pembuat film juga gagal memahami hakikat radikalisme yang mereka klaim sebagai ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena gagal memahami esensi radikalisme, akhirnya mereka terjebak oleh simbol-simbol yang sebenarnya tak ada kaitannya sama sekali dengan radikalisme.

Alih-alih memberikan pemahaman akan bahaya radikalisme secara akurat, pembuat film justru mengidentifikasi cadar dan celana cingkrang sebagai representasi dari radikalisme. Tindakan itu tidak saja jauh dari akurat, namun lebih dari itu juga terkesan lucu dan cupu. Memang apa kaitannya? Sejak kapan orang bercadar menjadi simbol penghinaan pada negara dan ingin membubarkan NKRI?.  Ungkapnya. Lebih jauh beliau menyampaikan film ini adalah susupan dan bukan berasal dari NU.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat tentang hukum memakai cadar bagi perempuan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa cadar ajaran Islam karena berasal dari pemikiran Islam. Berdasar pada dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka tidak selayaknya kemudian dicitra burukkan dan dikaitkan dengan radikalisme, pun demikian dengan celana cingkrang. 

Adapun bendera hitam putih bertuliskan kalimat tauhid merupakan berdera nabi yang dibuktikan dalil-dalil sunnah dan atsar, dirinci penjelasannya oleh para ulama mu’tabar. Para ulama dari masa ke masa senantiasa mengulas bendera dan panji yang dijuluki Al-Liwa dan Ar-Rayah ini, berikut karakteristik, kedudukan dan fungsinya yang sangat istimewa. Ia memiliki karakteristik dengan khath

لا إله إلا الله محمد رسول الله

Artinya: “Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah,Muhammad Rasulullah”

Ar-Rayah berukuran lebih kecil daripada Al-Liwa dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (kata’ib), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.

Banyak dalil-dalil sunnah yang menjelaskan tentang Al-Liwa dan Ar-Rayah, diantaranya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ

“Bendera (Liwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu :

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani).

Maka secara syar’i bendera Rasulullah ini merupakan bagian dari Islam dan tidak pantas untuk direndahkan bahkan dijadikan ancaman yang membahayakan.

Sudah semestinya bagi seorang muslim yang mencintai  bangsa dan negeri, kembali menyadari musuh nyata bersama yang sangat membahayakan bagi bangsa Indonesia, tidak lain yaitu ideologi kapitalisme dan sosialisme. Kapitalisme menyuburkan segala macam kerusakan yang mengancam ketentraman fitrah manusia untuk hidup selaras dengan sunnatullah. Korupsi yang merajalela  salah satu buah dari ideologi rusak ini, kemiskinan, kerusakan moral generasi bangsa, pendidikan yang materialistik, politik yang opportunistik, hukum yang pandang bulu, dsb. Inilah yang nyata-nyata kita rasakan akibat penerapan sistem yang salah dari landasan yakni sekulerisme. 

Bahaya latin kebangkitan sosialisme-komunisme pun tak boleh disepelekan, mengingat rekam jejaknya yang sangat barbarian merusak tatanan kehidupan. Maka sudah saatnya kita mengambil Islam sebagai jalan hidup bermasyarakat dan bernegara agar ketakwaan individupun turut terjaga, sehingga tidak terombang-ambing oleh propaganda para pembenci Islam untuk berjaya. Wallahu a’lam bisshowab.[]

Oleh: Rahmi Ummu Atsilah

Posting Komentar

0 Komentar