Kasus Kekerasan Anak Semakin Tinggi, Khilafah Mampu Jadi Solusi



Kasus kekerasan terhadap anak tampaknya masih memerlukan perhatian yang cukup besar. Pasalnya, kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi dibeberapa daerah justru tercatat semakin meningkat. Seperti yang telah dilansir oleh Republika.co.id (10/11/2020), Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengungkapkan masih tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2020. 

Data Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak (Simfoni) mengungkapkan adanya 1.358 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jatim, yang tercatat hingga 2 November 2020. Dalam wawancaranya, Andriyanto juga menyampaikan dugaan bahwa meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan rumah tangga dikarenakan selama pandemi Covid-19, masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah sehingga kasus tersebut banyak terjadi dilingkungan rumah tangga.
Sementara itu, melalui suarajogja.id (08/11/2020), Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bantul Muhamad Zainul Zain menyebut, pada 2019 jumlah laporan yang masuk kepada PPA tercatat ada 155 kasus. Sedangkan di 2020, yang baru dihitung sampai dengan Oktober kemarin, jumlah kasus sudah menembus angka 120 kasus terlapor. Dalam kesempatan itu, Zainul juga menambahkan bahwa kenyataan berkata lain bukan lantas kasus kekerasan anak menjadi lebih menurun, melainkan malah makin meningkat. 
Pada kesempatan lain, Menteri Bintang ajak masyarakat kritis terhadap tontonan anak. Dalam situs resmi kemenpppa.go.id (04/11/2020), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menyampaikan ajakan tersebut pada webinar yang diselenggarakan oleh Lembaga Sensor Film RI dengan tema Film dalam Perspektif Perlindungan Anak dan Hak Asasi Perempuan yang merupakan rangkaian kegiatan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri (3/11). 

Menteri Bintang mengatakan, “Bagi anak tontonan adalah tuntunan. Film bukan sekadar hiburan bagi anak, namun juga sebagai sumber informasi hingga fungsi budaya dan pendidikan. Anak-anak dapat meniru berbagai tokoh yang ditontonnya dan juga berperan dalam pembentukan tren yang kemudian menjadi panutan bagi mereka. Untuk itu, sangat penting bagi produsen dan lembaga sensor film memahami hal ini, sehingga film yang dibuat diharapkan benar-benar dapat memberikan nilai-nilai positif atau ramah anak.” 
Kasus kekerasan terhadap anak yang semakin meningkat tersebut, telah memberikan bukti betapa tidak seriusnya pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini. Terlihat bahwa pemerintah masih belum mampu memberikan solusi terbaik agar kasus kekerasan terhadap anak tidak akan terus mengalami peningkatan. Setelah mengetahui fakta yang ada, kemudian timbul pertanyaan yaitu mengapa kasus tersebut tidak dapat diselesaikan sampai hari ini? 
Pada dasarnya, penyebab terjadinya semua ini setidaknya dilatarbelakangi oleh dua alasan pokok. Pertama adalah buruknya pengaturan sistem sosial saat ini, kondisi tersebut ditandai dengan banyaknya media-media yang semakin masif menebar kerusakan secara bebas dan tidak terkendali. Salah satunya adalah banyaknya tontonan pada stasiun TV yang memberikan contoh tidak baik kepada masyarakat dan anak-anak khususnya. Berbagai figur yang menjadi idola anak pun terus ditampilkan bahkan beragam bentuk permasalahan sosial masih saja dipertontonkan. 

Terkait hal ini, terlihat bahwa pemerintah tampak abai dalam memberikan pengawasan terhadap segala media yang memberikan tontonan tidak tepat serta tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Kedua adalah kurangnya tanggung jawab orang tua kepada anak. Dalam kondisi ini, orang tua memiliki peranan penting untuk mewujudkan keharmonisan dan kenyamanan dalam sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelajaran serta pengawasan kepada anak. Disamping harus memiliki pemahaman agama yang baik, orang tua juga harus mampu memberikan arahan kepada anak serta mampu menciptakan hubungan yang baik dengan anak. Akan tetapi, fakta yang terlihat saat ini justru sangat memprihatinkan. Dimana saat ini banyak orang tua yang justru terkesan seperti tidak memiliki kepedulian terhadap anak mereka. 

Ditambah lagi dengan kondisi pandemi yang telah meluluhlantakan perekonomian masyarakat, secara tidak langsung memberikan dampak buruk kepada para orang tua dan anak. Kondisi tersebut membuat para orang tua menjadi kehilangan pekerjaan mereka, sehingga hal ini juga berdampak pada pola asuh anak. Apalagi saat ini proses belajar harus dilakukan secara online dirumah, akibatnya para orang tua harus memikirkan biaya pendidikan untuk anak yang semakin bertambah. Keadaan ini akhirnya membuat para orang tua mengalami tekanan yang cukup berat sehingga tak jarang emosi mereka pun sulit untuk dikendalikan.

Pada dasarnya, kebebasan yang dijamin dalam demokrasi menjadi sumber masalah utama dalam meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak saat ini. Kedok kebebasan telah membuat orang-orang menjadi tunduk kepada hawa nafsu dan keinginann mereka sendiri. Selain itu, keberadaan konsep kebebasan juga telah menyebabkan rendahnya tanggung jawab orang tua kepada anak. Apabila orang tua masih benar-benar meyakini konsep kebebasan, maka tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi serta menghentikan mereka untuk melakukan berbagai macam perbuatan terhadap anak-anaknya sekalipun itu kekerasan.

Berbeda halnya dengan Islam, konsep kebebasan seperti yang dijamin dalam demokrasi saat ini akan digantikan dengan konsep tanggung jawab. Tanggung jawab yang dimaksud adalah tanggung jawab terhadap diri dan keinginan sendiri yaitu tanggung jawab dihadapan Allah SWT. Orang tua telah dibebankan tugas untuk membina anak-anak mereka, sebagaimana firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Q.S. At-Tahrim:6).

Melalui ayat ini, Allah ingin menegaskan bahwa yang seharusnya menjadi perhatian utama orang tua adalah kepentingan anak-anaknya. Perhatian utama orang tua harus diarahkan pada usaha-usaha agar anak-anak mereka mendapatkan kebahagiaan di surga serta terhindar dari siksaan api neraka. Orang tua harus mendidik anak-anak mereka tentang perkara keimanan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta mengajarkan berbagai hal yang wajib dikerjakan sebagai seorang muslim.

Selama kebebasan dalam sistem kapitalis-demokrasi saat ini masih terus dipakai, maka kasus kekerasan pada anak, kekerasan pada perempuan dan kasus lainnya akan sangat sulit untuk diselesaikan. Hanya dengan sistem sosial dan pergaulan Islam dibawah naungan Khilafah saja lah yang mampu memberikan kebahagiaan dan kenyamanan dalam keluarga. Karena Khilafah akan memberikan pengawasan penuh agar para orang tua dapat menjalankan hak dan kewajiban mereka kepada anak-anaknya dengan baik. 

Selain itu, di dalam Khilafah tidak boleh ada seorang pun yang bebas memanfaatkan serta menyalahgunakan hak dan kewajiban tersebut dengan seenaknya. Dengan demikian, sebuah bangunan keluarga yang kokoh dapat direalisasikan, diatas landasan saling menghormati dan memiliki hubungan yang baik. Wallahu ‘alam Bishawab.[]

Oleh: Eka Yustika, SP (Muslimah Peduli Umat)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Jazakillah khairan "Eka Yustika" atas pencerahannya. Semoga semakin banyak orang tua yang faham betapa pentingnya Khilafah dalam penerapan Syariah Kaffah. Sehingga bisa menjadi solusi terhadap kekerasan anak dan perempuan. khususnya Lembaga PPA.

    BalasHapus