Kapitalisme: Syariah Dicacat, Dana Wakaf Disikat


Dana wakaf digadang menjadi salah satu sumber pemasukan negara. Adanya potensi yang besar dari masyarakat untuk mengembangkan wakaf ini dibaca sebagai peluang oleh beberapa kalangan. Seperti halnya pandangan KH Ma’ruf Amin yang menyebut wakaf tunai dapat dikembangkan menjadi dana besar yang dapat diinvestasikan jangka panjang, tidak hanya untuk masjid, madrasah atau pemakaman (cnnindonesia,25/10/20). Menteri Keuangan Sri Mulyani juga melihat potensi dana wakaf dari besarnya total pengumpulannya tahun ini senilai 217 triliun Rupiah, setara 3,4 persen total Produk Domestik Bruto (PDB).

Berbagai program telah dicanangkan pemerintah guna menyukseskan pemanfaatan dana wakaf. Diantara program terkait hal ini adalah mempersiapkan instrument cash waqf link sukuk atau dana abadi wakaf tunai dan ada juga Gerakan Nasional Wakaf Tunai (GNWT). Keberadaan dana wakaf yang cukup besar jumlahnya diprediksi mampu menggenjot perekonomian dan moneter dalam negeri. Sebagaimana yang selama ini dipraktikkan oleh pemerintah Saudi melalui baitul aisy yakni pengelolaan wakaf dalam usaha perhotelan (liputan6.com,30/10/20).

Dana Wakaf sebagai bagian dari ekonomi syariah diyakini bisa mengurangi kemiskinan. “Hal ini karena dalam perekonomian syariah yang sejalan dengan kearifan lokal Indonesia, seperti nilai kejujuran, keadilan dan tolong-menolong. Serta adanya keberpihakan pada kelompok lemah , dan itu semua dapat membantu pemulihan ekonomi nasional”, tegas Menkeu Sri Mulyani (liputan6.com,24/10/20). Berangkat dari latar belakang ini pula pemerintah mendirikan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) sebagai upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ekonomi syariah membawa satu harapan baru bagi perbaikan kondisi ekonomi Indonesia. Namun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian terkait wacana ini. Jika kita melihat sekilas seolah memang dana wakaf ataupun ekonomi syariah secara umum membawa manfaat bagi pergerakan roda ekonomi. Dalam pelaksanaannya, ekonomi syariah tidaklah berdiri sendiri. Ekonomi syariah merupakan satu pilar diantara pilar lain yang menegakkan syariat Islam secara integral dalam sebuah negara.

Keberadaan ekonomi syariah tidak bisa dipisahkan dengan penerapan Islam kaffah. Konsep Islam kaffah sendiri berulang kali dijadikan sebagai kambing hitam atas permasalahan pelik bangsa ini. Tuduhan makar, anti kebhinekaan, pemecah belah, bahkan hingga disandingkan dengan sosialis-komunis adalah propaganda yang selama ini digulirkan. Terlebih kepada kelompok atau bagian dari umat ini yang konsisten dalam menyampaikan ide seputar penerapan Islam kaffah.

Kapitalisme sejatinya tidak sungguh-sungguh berpihak pada penerapan syariat Islam. Adapun dukungan yang diberikan pada syariat Islam hanya sebatas pada aspek yang dipandang memberikan mannfaat, yakni ekonomi. Ya, ekonomi syariah memang sangat potensial dan tentunya menggiurkan dengan perputaran uang yang fantastis. Disinilah titik kejelasan bahwa kapitalisme penuh dengan intrik dan kemunafikan. Di satu sisi ideologi ini mengancam setiap upaya untuk menegakkan syariat Islam, di sisi yang lain mereka menganjurkannya. Menganjurkan karena itu membawa manfaat bagi kepentingan ekonomi bukan karena alasan yang lain
.
Penerapan syaiat Islam adalah konsekuensi keimanan. Sebagai Muslim kita meyakini bahwa di dalam setiap penerapan syariat Islam pad ada kemashlahatan di dalamnya. Bertolak belakang dengan kapitalisme yang sekuler memandang selama ada kemanfaatan maka sesuatu akan diterapkan. Standar kemanfaatan yang dikembalikan kepada definisi manusia sangat mungkin menjauhkan manusia dari kebenaran. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS: Al Baqarah ayat 216 yang menegaskan boleh jadi sesuatu yang kita sukai itu justru buruk, begitupula sebaliknya, dan hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Kapitalisme menunjukkan kepada manusia bahwa standar kebenaran itu bergantung pada kemanfaatan. Jika ada manfaat maka itu benar dan layak diambil, jika dianggap tidak bermanfaat maka dinistakan. Sedangkan Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa standar kebenaran itu satu yakni yang berasal dari Allah SWT. Syariat Islam yang mewujud dalam penerapan yang sempurna merupakan bagian dari perintah Allah SWT yang wajib untuk diterapkan, baik dalam aspek ekonomi maupun selainnya.[]

Oleh: Ummu Hanan
(Aktifis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar