+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Joe Biden, Negaramu Pabrik Produksi Kezaliman



Pemilihan Presiden Amerika Serikat menjadi pusat perhatian dunia. Ada Donald Trump sang petahana melawan Joe Biden dari Demokrat. Mengapa pilpres AS menarik untuk disimak? Karena AS adalah negara pengusung ideologi yang mempengaruhi konstelasi politik dunia saat ini.

Trump dan Kekecewaan Rakyat

Gaya kepemimpinan Trump yang selalu kontroversi membuat tak nyaman penduduk Amerika. Perang dagang dengan China, berdampak ekonomi pada Amerika. Mendukung pemindahan ibu kota Israel ke Jerussalem, membuat AS mendapat kecaman dunia Islam. 

Trump juga dinilai gagal menangani wabah covid di AS khususnya. Dan dalam kasus rasisme, Trump tak mampu menjadi pemersatu. Ketika unjuk rasa kematian George Floyd, warga kulit hitam, pecah di berbagai kota. Trump justru mengerahkan pasukan seolah mengadu aparat dengan rakyat sipil.

Sebagai polisi dunia, AS yang dipimpin oleh Trump telah tak adil pada dunia Islam. Diamnya Trump saat umat muslim India didiskriminasi. Ketika muslim Rohingnya terusir dari tanahnya, terombang-ambing di lautan, Trump pun bungkam. 

Ketika Israel mau mengakuisisi wilayah tepi Barat Palestina, Trump juga diam. Terakhir, dukungan Macroon pada penghina Nabi Muhammad Saw pun didiamkan oleh Trump yang sibuk mempertahankan kedudukannya.

Joe Biden Harapan Baru?
Hadirlah Joe Biden membawa janji manis pada dunia Islam. Jika menang, akan mengisi jajaran stafnya dengan orang Islam. Seraya mengutip hadits Rasulullah Saw. tentang melawan kezaliman.  

Menggandeng Kamala Harris, wanita berkulit hitam, peranakan India dan Jamaika, sebagai calon wakil presiden. Membawa Joe semakin terlihat hadir untuk warga minoritas. Kemenangan pun diraih oleh pasangan Biden-Harris ini.

Di pidato kemengannya, Biden berjanji menjadi pemersatu, bukan pemecah belah. Tidak ada negara bagian merah, dan negara bagian biru, yang ada hanya Amerika. Ia juga memuji koalisi terbesar AS yang telah memenangkan suaranya hingga menjadi terbesar dalam sejarah pemilihan presiden Amerika. Sebanyak 74 juta suara diperoleh oleh Biden dari berbagai koalisi. Diantaranya Demokrat, republikan, independen, moderat progresif, konservatif, suburban, rural, gay, straight, transgender, warga Latin, Asia hingga asli Amerika.

AS dan Dunia Pasca Kemenangan Biden
Apakah kemenangan Biden membawa perubahan pada AS dan dunia? Kemenangan yang digadang-gadang sebagai kemenangan kaum minoritas, termasuk muslim. Penting untuk kita menganalisisnya.

Pertama, berarsal dari partai demokrat, pasti akan mempertahankan sistem demokrasi. Padahal demokrasi adalah biang masalah. Siapapun pemimpinnya, Trump ataupun Biden, demokrasi tetap harga mati. Demokrasi ini yang melegitimasi sikap menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Termasuk ringannya lisan untuk berjanji. Urusan bukti, bisa saja diakali agar mampu mengelak dari janji. 

Jangankan calon pemimpin non muslim di negeri minoritas muslim. Sedangkan yang nyata-nyata muslim di negeri mayoritas muslim pun kelakuannya seragam, ingkar janji. Berbeda sikap dan pendapat saat sebelum masuk sistem dan setelah tercicipi jabatan di sistem demokrasi. 

Teringat pendapat seorang profesor yang lantang berucap bahwa malaikat masuk sistem demokrasi akan jadi iblis. Dan memang terbukti apa yang disampaikan oleh si profesor tadi. Demokrasi memang bukan sistem yang manusiawi.

Demokrasi dengan empat pilar kebebasannya justru akan melahirkan kezaliman. Karena sejatinya, kebebasan seseorang akan memgancam kebebasan orang lain. Sebagaimana kebebasan seekor serigala akan mengancam hidup seekor domba. 

Lihatlah majalah Charlie Hebdo, atas nama kebebasan, justru telah menyakiti hati kaum muslimin. Dan kebebasan perilaku seks menyimpang akan mengancam eksistensi hidup manusia.

Kedua, kapitalisme masih menjadi ideologi yang diusung oleh Amerika. Ideologi yang melegalkan manusia memiliki apapun asalkan memiliki modal, telah melahirkan kesengsaraan hidup dan kerusakan lingkungan.

Ditopang oleh ekonomi ribawi, ideologi kapitalisme telah memeras rakyat, mengumpulkan uang hasil kerja keras rakyat, demi memberikan modal bagi para kapital. Berkelindannya sistem pemerintahan demokrasi dengan ideologi kapitalisme melahirkan kebijakan pemerintah yang pro kapital dan zalim pada rakyat.

Kapitalisme memberikan karpet merah kepada pemilik modal untuk menguasai sektor publik dan SDA. Pantai dan laut serta hutan dan gunung pun bisa diprivatisasi. Lahan pertanian milik rakyat bisa diambil paksa jika ada investor yang berminat mengembangkan usaha di sana.

Mengeruk SDA dengan rakus untuk menumpuk kekayaan justru mendatangkan ketidakseimbangan alam. Longsor, banjir, hujan asam, hingga tercemarnya air tanah merupakan dampak dari eksploitasi alam yang rakus.

Merujuk pada dua hal di atas, maka patut diduga bahwa kondisi dunia akan sama saja. Sistem pemerintahan demokrasi dan ideologi kapitalisme adalah pabrik kezaliman. Siapapun pemimpinnya.

Berharap Hanya pada Khilafah
Sebenarnya umat Islam memiliki agenda tersendiri. Melihat kezaliman yang semakin meningkat. Kondisi lingkungan semakin rusak. Dan tak satupun pemimpin negara yang mampu menangani pandemi dengan manusiawi. Semua akibat ideologi kapitalisme.

Hanya satu harapan umat muslim tentang arah perubahan dunia, yaitu Khilafah. Ibnu Khaldun telah menyebutkan tanda-tanda perubahan dunia diantaranya terjadi bencana yang bersifat global. Dan para pengamat juga banyak berpendapat tentang perubahan tatanan dunia baru.

Kemenangan Biden pun bisa jadi geliat kegelisahan rakyat terhadap kondisi saat ini. Namun karena masih belum memiliki konsep kebangkitan yang benar, terjebaklah pada perubahan semu.

Modal keimanan akan janji Allah dan bisyarah Rasulullah semestinya membuat umat muslim semakin fokus pada perjuangan penegakan syariah dan khilafah. Karena hanya khilafah yang terbukti mampu mengatur dunia dengan baik bahkan mampu menghilangkan kezaliman. Hanya khilafah yang menjamin kesejahteraan dan terpenuhinya rasa keadilan. 

Penerapan syariat Islam yang bersumber dari Allah SWT, sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Menjamin keberkahan hidup bagi manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-A'raf ayat 179. Wallahu a'lam. []

Oleh: Yasmin Ramadhan
(Komunitas Muslimah untuk Peradaban)


Posting Komentar

0 Komentar