Joe Biden, Harapan Baru atau Jalan Buntu?


Hasil Pemilu Amerika Seriat Tahun 2020 menunjukkan unggulnya suara kandidat Joe Biden atas Donald Trump. Hasil ini menghasilkan keputusan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat ke 46 dari negeri Paman Sam tersebut (detiknews, 9//11/2020). Terpilihnya Joe Biden sebagai presiden baru beserta seluruh kebijakannya, diharapkan dapat membawa angin segar bagi perekonomian dunia. Termasuk Indonesia yang berharap mendapat cipratan keuntungan atas hubungan bilateral keduanya.

Ada beberapa skenario yang sudah diperhitungkan akan dihadapi Indonesia atas kemenangan Joe Biden sebagai presiden baru Amerika Serikat. Pertama, diharapkan dapat membawa perubahan bagi perekonomian global dengan menurunnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat - China, yang kemudian mampu mendorong nilai komoditas dan stabilitas pasar keuangan global. Sehingga ke depannya Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kegiatan ekspor dan impor. Setelah pada pemerintahan Amerika Serikat atas Donald Trump, nilai ekspor-impor Indonesia yang tergolong rendah.

Walau pada sisi lain, justru hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia akan mengalami kerja sama yang ketat. Akibat kebijakan perdagangan regional yang diusung Biden, dibanding perjanjian kerja sama bilateral di luar kawasan Amerika Serikat. Skenario lainnya yang mungkin terjadi yaitu adanya perpindahan investasi (investment diversion) oleh Amerika Serikat dari China kepada negara-negara berkembang, yang ke depannya mampu menjadi penambah gas bagi perekonomian negara. Harapan baru yang diwacanakan berupa keuntungan hubungan bilateral tersebut yaitu semakin menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Indonesia berekspektasi tinggi atas kerja sama bilateral dengan Amerika untuk memperbaiki perekonomian dalam negeri, setelah dihantam badai resesi masa pandemi. Dimana bukan hanya untuk penambah pemasukan negara saja, namun juga menjaring sumber daya manusia ke dalam pasar tenaga kerja. Begitu juga ambisi atas peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pada pembangunan ekonomi negara dapat dicapai.

Harapan Baru atau Jalan Buntu

Pada faktanya, ada beberapa hal yang luput dari perhitungan pemerintah pusat atas harapan kerja sama bilateral ini. Dimana semua yang dipikirkan pemerintah masih dalam bentuk kemungkinan yang belum pasti realitanya. Kalaupun terjadi, belum tentu sesuai dengan harapan yang sudah digantungkan. Hal lainnya yang luput dari perhitungan yaitu hubungan politik adalah suatu yang tidak ada jaminan dan kepastian di dalamnya, juga tidak terlihat tipu muslihat di baliknya. Sekalipun hubungan bilateral kedua negara telah terjadi kesepakatan.

Sebuah lagu lama hubungan bilateral yang terjadi di negeri ini, pada akhirnya hanya membawa kesengsaraan dan ketidakadilan bagi rakyat. Seperti realita-realita di lapangan di mana kekayaan alam Indonesia justru dikuasai oleh perorangan, bahkan asing pun tak tinggal diam untuk ambil bagian. Kini negeri ini tak ubahnya sebagai pundi-pundi keuntungan bagi para investor serta para pengusaha. Dimana sumber daya alam dikeruk besar-besaran tanpa balasan setimpal, bahkan memberi dampak negatif bagi rakyat dan ekosistem. Begitu pun sumber daya manusia dalam negeri yang tak lagi bernilai dihadapkan pemerintah. 

Justru rakyat menjadi saksi bisu atas perselingkuhan pemerintah dengan para pengusaha maupun investor. Bergesernya prioritas kebijakan atas rakyat beralih diperuntukkan bagi pengusaha dan investor saja. Kesejahteraan rakyat yang selama ini digadang-gadang oleh pemerintah tidak lain hanya bualan belaka. Karena pada realitanya, orang-orang berkepentingan beserta pihak terkait saja yang mendapatkan kesejahteraan. Negeri yang harusnya dimiliki rakyat, kini tak lagi berada dalam genggaman mereka.

Sistem Kapitalis: Harapan Kesejahteraan yang Miris

Jika kita lihat lebih jauh, fakta-fakta yang terjadi di masa sekarang bukanlah suatu hal mengherankan di tengah sistem yang digunakan dalam hidup kini. Dimana materi dijunjung sedemikian rupa dengan penghalalan segala macam cara. Yang mana, sejatinya sistem ini tercipta dari suatu pandangan hidup atau biasa disebut ideologi. Ideologi yang menuhankan materi di dalamnya yaitu kapitalisme yang sudah menjadi rahasia umum dan sampai kini sedang mencengkeram kehidupan. Dimana segala sesuatu dipandang dari sisi materi. Semua kesepakatan dan kerja sama yang dibangun antar negara tak lain dan tak bukan hanya untuk materi atau keuntungan yang didapat.

Bahkan jika negara sampai harus menyodorkan sumber daya alam yang pada fungsinya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat demi tercapainya kesejahteraan. Karena dalam pandangan kapitalisme, hanya para pemilik modal lah yang dapat mengakses kesejahteraan tersebut. Sejalan dengan slogan yang selama ini melekat pada kapitalisme, “Menjadikan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin”. Sehingga, kesejahteraan dalam pandangan kapitalisme adalah sesuatu yang semu.

Para pemilik modal tidak terbatas pada negara saja, namun juga para pengusaha yang dapat menguntungkan negara di dalamnya. Negeri ini ibarat hidup dalam lelucon, dimana para pengusaha ini seperti dibukakan pintu kuasa atas sumber daya yang ada. Mereka dapat memilah dan mengeksplorasi sumber daya -baik alam maupun manusia- di dalam negeri. Manfaat yang mereka berikan bahkan tak sepadan sedikit pun dengan keuntungan yang mereka dapatkan. Inilah gambaran kacaunya negeri ini, bahkan global, dalam cengkeraman kapitalisme.

Dunia Butuh Penyelesaian, Sistem Islam Solusi Permasalahan

Untuk menumbangkan hegemoni kapitalisme dalam kehidupan, perlu diadakan tandingan yang sesuai. Dimana ia adalah suatu ideologi yang memuat segala peraturan dalam hidup, sampai pada negara yang mengatur rakyatnya. Islam, bukan hanya sebatas pada pengaturan Tuhan dan hamba-Nya, namun juga pengaturan dalam hidup. Karena pada faktanya, ajaran yang ada di dalam Islam bukan hanya terbatas pada individu saja atau ibadah ritual belaka, tapi sampai pada pengaturan negara yaitu seluruh bidang-bidang dalam kehidupan. 

Satu keunggulan mutlak Islam atas ideologi kapitalisme, yaitu ajaran yang datangnya dari Sang Pencipta dunia dan negeri akhirat. Dimana pencipta, Allah, tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Islam juga memiliki sistem pemerintahan yang layak diterapkan dalam sebuah negara. Sebagaimana yang tertulis pada catatan sejarah, bahwa hegemoni Islam yang bernama Khilafah di muka bumi dapat bertahan hingga 14 abad dengan penjaminan kesejahteraan bagi rakyat dalam negeri, baik muslim maupun kafir sekalipun.

Politik dalam pandangan Islam bukan terbatas pada kedudukan, kekuasaan ataupun keuntungan belaka. Tetapi sebagai konsep berarti yang mengurusi urusan umat dalam naungan ketauhidan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk penjaminan kesejahteraan rakyat di dalamnya. Sektor-sektor penting dalam hidup yang dapat memenuhi kebutuhan orang banyak, akan dikuasai negara guna memenuhi kebutuhan rakyatnya, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api" (HR. Abu Dawud).

Khilafah: Kesejahteraan Baru, Lahir dari Sistem yang Mutakhir

Adapun kepemilikan individu jelas harus diatur. Semua pihak yang mengancam rakyat segera ditindaklanjuti agar tidak membahayakan kehidupan. Hubungan luar negeri di luar Kekhilafahan, tentu ada pembatasan dan penjagaan. Khilafah akan sangat berhati-hati jika menyangkut hubungan luar negeri, seperti hutang dan investasi negara dari pihak perorangan atau kelompok pun akan dihukumi dengan hukum Islam. 

Selain itu, negara juga tetap menjaga agar tidak terjerat dalam permasalahan hutang, yang sebenarnya bisa menjadi jalan dari pihak lain berupa akses untuk menguasai dan mempengaruhi atas kebijakan maupun sumber daya berupa alam maupun manusia. Kesejahteraan negeri dalam naungan Islam merupakan tanggung jawab negara, dimana negara wajib untuk menjamin dan memenuhinya. 

Bukan hanya sampai pada pemanfaatan sumber daya alam namun pengelolaannya untuk memenuhi kebutuhan hidup umat, serta terjaringnya penduduk dalam dunia kerja. Negara akan berusaha agar menjamin keterbutuhan pekerjaan bagi yang mencarinya. Sehingga perwujudan kesejahteraan dalam penerapan Islam bukan hanya sebatas pada angka-angka belaka, maupun harapan baru semata, namun lebih pada pembuktian secara riil pada masyarakat. 

Negara dalam pandangan Islam bukan hanya sebagai penyelenggara pemerintahan, namun juga sebagai pelayan umat yang mengurusi kebutuhan dari masyarakat. Dunia masih mempunyai harapan untuk hidup yang lebih baik lagi, yaitu dengan kembalinya diterapkan Islam sebagai pengatur kehidupan manusia. Wallahu ‘alam bishawwab.[]

Oleh: Rizki Annisa

Posting Komentar

0 Komentar