Islam Ideologis Jawaban Polemik Muslim di Prancis


Perancis telah membuka wajah bobrok ideologi liberalisme yang diembannya sendiri. Ini terbukti dengan pemberian ultimatum kepada Dewan Agama Muslim Prancis (CFCM) untuk menandatangi piagam “nilai-nilai Republik”. Piagam ini berisi penolakan politik Islam dan campur tangan asing dalam negaranya.

Dilansir BBC pada Jum’at (20/11/2020), CFCM telah menyetujui pembentukan Dewan Imam Nasional. Dewan ini akan memiliki hak istimewa yaitu mengeluarkan akreditasi resmi bagi para imam di Prancis.

Namun justru hal ini menimbulkan banyak pertentangan dikalangan masyarakat global. Diduga hal ini akan mencederai hak kebebasan individu yang dipegang oleh Prancis. Dan hal ini kemungkinan besar akan merambat ke negara-negara Eropa lainnya.

Sebelumnya terjadi unjuk rasa besar-besaran di negara mayoritas muslim terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron atas sikapnya yang mendukung penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW. Hal ini pula telah memicu pemboikotan atas barang-barang produk Prancis di negara-negara muslim tersebut. 

Namun hal ini tidak menyurutkan langkah Prancis dalam menyusun strategi menghadapi apa yang mereka katakan sebagai “Separatisme Islam”. Dengan tegas Prancis menolak Islam Politik, yang artinya dengan sangat jelas bahwa Prancis telah mengibiri Hak Asasi Manusia dan Hak Kebebasan berpendapat bagi setiap individu.

Hal ini tidak dapat dibenarkan walaupun dengan dalih melawan Radikalisme. Narasi menyesatkan ini adalah untuk menggiring umat muslim khususnya di Prancis agar tidak terpapar oleh pemahaman Islam Radikal, dan yang mereka perhalus disini dengan mengatasnamakan Islam Politik. Islam politik ialah mencakup ketundukan seluruh pengaturan kehidupan kepada Sang Pencipta sebagaimana yang diyakini di dalam Islam.

Ini merupakan upaya negara-negara Barat dalam menghadang kebangkitan Islam. Setelah mereka tidak berhasil dengan narasi War On Terorism, sehingga mereka beralih kepada narasi War On Radicalism.

Masyarakat global yang kian hari kian menyadari begitu rapuh dan rusaknya sistem pemerintahan yang berjalan saat ini, mulai jenuh dan mencari sistem alternatif yang lebih baik. Dari segi ekonomi saja, sistem ekonomi berbasis kapatalistik ala barat terbukti tidak mampu menyejahterakan seluruh umat manusia. Sistem ini justru semakin menambah banyak angka kemiskinan dan angka kematian akibat kelaparan yang ada di dunia. Tanpa adanya pandemi pun, sistem ini telah mengalami resesi global berkali-kali. Sehingga ketika mereka tidak mampu mengendalikan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, mereka mengalihkan perhatian masyarakat terhadap hal lainnya.

Narasi jahat melawan radikalisme yang di tujukan ke depan hidung umat Islam merupakan salah satu contohnya. Barat dan antek-anteknya sangat ketakutan dengan fakta bahwa sistem aturan Islam Ideologis sangat mampu untuk bangkit dan memimpin dunia untuk kedua kalinya.

Islam menjadi salah satu sistem yang diinginkan diharapkan hadir kembali di tengah-tengah umat manusia oleh masyarakat global. Faktanya adalah Islam mengalami pertumbuhan jumlah pemeluk secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan di Prancis sendiri, ketika Islam mengalami tekanan dan intimidasi seperti saat ini. Jumlah pemeluk Islam semakin bertambah bukan justru sebaliknya.

Islam ideologis bukanlah suatu yang perlu ditakuti. Islam rahmatan lil ‘alamin mampu menjawab berbagai problematika umat manusia. Dan sungguh tidak adil jika Islam dinilai sebagai agama ritual belaka. Padahal Islam diturunkan Allah SWT ke bumi melalui wahyu kepada Baginda Rasulullah SAW, telah mencakup seluruh aturan kehidupan bagi manusia yang lengkap. Hubungan dengan Allah sebagai Pencipta dalam bentuk pengaturan dalam hal ibadah. Hubungan dengan diri sendiri dalam bentuk pengaturan dalam hal akhlak, kebutuhan hidup dan lainnya. Serta hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam bentuk pengaturan dalam hal muamalah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan sebagainya.

Maka dari itu, sungguh merugi manusia jika ingin lari dari aturan Sang Pencipta dan justru mengagung-agungkan aturan dari akal manusia sebagai makhluk yang serba terbatas. Wallahu a’lam.[]

Oleh: Amsina

Posting Komentar

0 Komentar