Irfan Abu Naveed: Film 'My Flag-Merah Putih vs Radikalisme' Mendorong Memusuhi Simbol Islam


TintaSiyasi.com-- Film pendek My Flag-Merah Putih vs Radikalisme yang diunggah kanal YouTube NU Channel dinilai Peneliti Kajian Tsaqafah Islamiyyah, Tafsir dan Balaghah Irfan Abu Naveed mendorong permusuhan pada simbol-simbol Islam, seperti cadar Muslimah.

"Miris melihat film pendek yang secara provokatif mendorong pada ashabiyyah sekaligus permusuhan pada simbol-simbol Islam (cadar Muslimah, dsb)," tulisnya dalam akun Facebook pribadinya Irfan Abu Naveed, Senin (26/10/2020).

Awalnya ia mengira, film ini hendak menyampaikan pesan kepahlawanan yang lantang menolak imperialisme dan simbol-simbolnya yang selama ini mencengkeram negeri ini. Selain itu, ia menambahkan, imperialisme secara nyata menimbulkan dharar (bahaya) di depan mata, seperti komunisme, kapitalisme dan simbol-simbolnya, serta para pengembannya.

"Kelihatannya kan 'gagah' membela negeri, ujung-ujungnya kok malah memprovokasi memusuhi sesama anak negeri? Film provokatif, mendorong pada kebencian dan permusuhan seperti ini jelas film berbahaya dan tidak ramah, tidak menggambarkan ajaran Islam dan norma ketimuran yang 'ramah'," bebernya.

Ia menegaskan, film tersebut ternyata salah alamat. Karena menurutnya, film itu justru malah memusuhi kaum Muslim dan syi'ar Islam

Ia menyarankan, seharusnya sebelum membuat film mengkaji dulu kitab dasar soal adab dan akhlak pada sesama Muslim. "Termasuk kitab dasar semisal kitab Syarh Sullam Taufiq-nya Syaikh Nawawi al-Syafi'i, sebelum membuat narasi soal kepahlawanan dan umat Islam," ungkapnya.

Ia mengutip Al-Qur'an surah al-Araf ayat 96, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’râf [7]: 96).

"Negeri ini, negeri yang diamanahkan Allah kepada kaum Muslim seluruhnya, wajib dimakmurkan dengan syariat Islam, bukan selainnya. Kuncinya jelas, kaji menggunakan balaghah arabiyyah semakin jelas," terangnya.

"Islam harga mati, tanpa Islam negeri di mana pun mati harga," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar