"Ha-eR-eS" dan Romantisme Kecintaan Umat pada Ulama




“Ya Nabi, salam ‘alaika. Ya Rasul, salam ‘alaika. Ya Habib salam ‘alaika. Sholawatullah ‘alaika.” Lantunan sholawat bergema. Menggetarkan jiwa bagi siapapun yang mendengarnya. 

Pun menggairahkan suasana pagi di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, pada Selasa (10/11/2020). Ditingkah takbir bersahutan, lambaian panji tauhid, serta spanduk ucapan selamat datang, ribuan umat Islam antusias menyambut kepulangan Habib Rizieq Shihab dari Arab Saudi.  

Bahagia, takjub, haru. Aneka rasa tampil berpadu kala menyaksikan momentum langka ini. Semuanya bermuara pada satu kata, rindu. Sebuah fenomena luar biasa nan syahdu. Belum pernah ada tokoh atau petinggi negara yang disambut gegap-gempita dengan jumlah kolosal seperti itu. 

Diwartakan oleh okezone.com, Selasa (10/11/2020), Sekjen MUI Anwar Abbas menyambut baik kepulangan imam besar FPI dan merasa takjub dengan penyambutan luar biasa. Bahkan Habib Novel Alaydrus, pimpinan Majelis Imu dan Zikir Ar Raudhah Surakarta rela berjalan sejauh delapan kilometer menuju bandara. Demi mengobati rasa rindunya pada sang cucu Nabi (cirebon.pikiran-rakyat.com, 11/11/2020).

Antusiasme serupa terjadi di sekitar kediamannya. Dari anak kecil hingga orang dewasa memadati Gang Petamburan III, Jakarta Pusat. Karangan bunga hingga baliho penyambutan bertebaran di mana-mana. 

Di dunia maya, banyak warganet mengunggah status selamat datang dan membagikan informasi terkaitnya. Akibatnya, banyak akun yang dinonaktifkan pihak Facebook karena dianggap melanggar standar komunitas mereka. 

Mengapa umat Islam begitu antusias menyambut kehadiran beliau? Padahal Habib Rizieq pernah dijerat beberapa kasus hukum dan hingga kini masih dibayangi tuntutan pengusutan beliau sepulang dari tanah suci.


Tersebab Cinta kepada Sang Ulama     

“Merindukan kepulangan beliau, rindu ilmu beliau. Kami ini adalah pecintanya. Kami siap untuk beliau berjuang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar,” tutur salah seorang penyambut Habib Rizieq. Bahkan andai tak ada satu kata pun terucap, foto dan video penyambutannya telah mengkonfirmasi betapa cintanya umat Islam terhadap sosok ulama ini. 

Di tengah kian menurunnya tingkat trust (kepercayaan) rakyat terhadap penguasa hari ini, umat Islam tentu mendamba hadirmya pemimpin yang mampu memahami kebutuhan dan kondisi kejiwaan mereka. Terlebih di tengah kemelut pandemi yang tak kunjung usai. 

Sementara itu, tak kalah binal dengan virus Covid-19, penguasa justru terang-terangan melakukan akrobat politik dan hukum. Alih-alih memprioritaskan penyelesaian pandemi, rezim legislator justru menyelingkuhi rakyat dengan memproduksi berbagai undang-undang. Tak lagi berpihak pada jelata, semua produk hukum tersebut membela kepentingan kaum oligark. Yaitu para investor dan korporat. 

Wajar, jika kehadiran Habib Rizieq dianggap bagai oase di tengah gurun pasir. Terlebih selama ini ia dikenal sebagai sosok tegas dan lantang menyuarakan kebenaran. Sekaligus menolak berbagai bentuk kezaliman. Keteguhan Habib menyampaikan al haq inilah yang membuat umat Islam rindu sehingga berbondong-bondong menyambut kedatangannya. 

Selain itu, Habib Rizieq juga dipandang oleh umat Islam sebagai tokoh yang melakukan perlawanan terhadap rezim yang berlaku buruk kepada mereka. Meskipun berkali-kali menghadapi kriminalisasi, namun nyala perjuangannya melawan rezim tidak pernah padam. 

Tercatat ada 17 kasus yang ditimpakan pada Habib. Dari sekian banyak itu adalah kasus-kasus kriminalisasi yang sejatinya tidak ia lakukan, seperti chat mesum, dan sebagainya. Meski difitnah dan ditekan sedemikian rupa, Habib tidak mau tunduk. Tak hanya tekanan, tawaran menggiurkan seperti uang dalam jumlah besar pun tidak menghentikannya untuk melawan rezim. 

Konsistensi beramar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan Habib inilah yang membuat umat Islam jatuh hati kepadanya. Tentu saja, golongan umat yang telah memahami hakikat benar salah dari berbagai fragmen yang terjadi di negeri ini. Terlebih ia adalah keturunan Nabi Saw. Dalam tubuhnya mengalir darah manusia mulia, teladan sepanjang zaman.  

Dan bukankah umat Islam memang semestinya mencintai para ulama? Karena mereka adalah pewaris para Nabi, dicintai oleh ahli langit dan orang yang paling takut kepada Allah Swt di antara hamba-hamba-Nya. 

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Orang yang bisa mengambil ilmu mereka, telah mengambil kebaikan yang sangat besar.” (HR. Abu Dawud)

Maka, sungguh hina bila kita menjumpai orang yang membenci atau menghina ulama. Hal ini bisa terkategori pelecehan terhadap agama. Sebab, agama senantiasa diperjuangkan oleh ulama. Bukan hanya itu. Penghina ulama seolah juga menentang Nabi Saw. Karena Nabi Saw jelas memerintahkan umatnya agar memuliakan ulama. 


Ulama dan Idealitas Perjuangan

Konsistensi Habib Rizieq dalam beramar ma’ruf nahi mungkar memiliki peluang mengumpulkan kekuatan umat dalam satu komando. Pun keistiqomahannya melawan penguasa buruk juga akan menjadi energi umat dalam melawan kezaliman. 

Dengan karakter kepemimpinan yang dimilikinya, akan menambah keoptimisan umat memandang perjuangan ke depan. Kekuatan perjuangan kaum muslimin in syaa Allah akan berlipat. Terlebih, ada kemungkinan, saat ini rezim sedang berposisi dilematis. Jika mereka berkehendak melanjutkan kriminalisasi terhadap Habib, tentu mereka akan berhadapan dengan umat yang sudah jengah dengan kondisi kepemimpinan yang ada. 

Alangkah indahnya, jika keunggulan Habib dan para ulama lainnya berpadu dalam satu langkah menuju persatuan umat secara hakikat. Bersinergi dengan komponen umat lainnya, tugas ulama di era sekarang adalah:

Pertama, berjuang mewujudkan sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang islami yaitu menegakkan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Khilafah adalah jaminan penerapan Islam secara menyeluruh sebagaimana perintah Allah Swt kepada mukmin untuk berislam kafah. 

Maka, ulama bersama kaum muslimin bahu-membahu mewujudkan ini. Ulama harus mengingatkan umat akan kewajibannya menerapkan hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dakwah, ulama membina umat dengan pembinaan terarah atau mengarah kepada tujuan yang dimaksud. 

Ini adalah semulia-mulia perjuangan. Adakah perjuangan yang lebih mulia dari mewujudkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi? Apa tugas ulama sebagai waratsatul anbiya, bila bukan mewujudkan cita-cita tersebut?

Kedua, jika kehidupan islami dalam naungan khilafah telah terbentuk, tugas ulama berikutnya ialah menasihati, mengingatkan, mengoreksi penguasa serta umat secara umum agar senantiasa berjalan dalam rel Islam dan melaksanakan hukum Allah SWT.  

Dalam konteks kehidupan Islam, para ulama berusaha berijtihad untuk memecahkan segenap problem kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Sehingga kehidupan umat terkendali dan berkembang dalam arah benar. Ulama dalam hal ini juga berperan sebagai mujtahid.

Kerinduan umat Islam terhadap kehadiran Habib Rizieq telah terpenuhi. Terpautnya hati umat dan ulama menjadi bekal menapaki jalan perjuangan selanjutnya yang bisa jadi akan kian terjal dan berliku. 

Semoga hati dan pikiran kaum muslimin selalu disatukan dalam kecintaan pada Allah Swt dan ketaatan pada syariat-Nya. Mudah-mudahan terwujud sinergi energi demi mewujudkan persatuan umat sejati dalam naungan khilafah islamiyah ala minhajin nubuwwah.[]


Oleh: Puspita Satyawati
Analis Politik dan Media



Posting Komentar

0 Komentar