Gaduh Politisasi Agama di Negeri Demokrasi




Pada Rabu (9/12/2020) nanti rakyat Indonesia di sembilan provinsi akan melakukan pemilihan calon kepala daerah serentak (tirto.id, 25/11/2020). Di tengah masa kampanye sekarang ini, beberapa tokoh negeri berpendapat terkait politisasi agama yang sering jadi jurus meraup suara (antaranews.com, 19/11/2020).  Memang, setiap masa kampanye pemilihan baik legislatif maupun eksekutif sering dijumpai upaya politisasi agama. Fenomena penggunaan sentimen agama untuk meraih simpati dan suara masyarakat agar suatu kelompok politik menang bukanlah hal baru. 

Setiap pemilu atau pilkada akan sangat mudah didapati kontestan yang duduk mengadakan dzikir atau ibadah bersama, sowan ke pesantren dan para kiyai, minta doa para ulama dengan basis massa besar, dan masih banyak lagi. Sayangnya umat beragama yang dirayu saat masa kampanye agar suaranya dimenangkan, seringkali bahkan senantiasa tidak didengar lagi suaranya ketika kontestan menang pemilu atau pilkada. Kebijakan yang para pemenang tadi ambil selalu mengedepankan sponsor dana politiknya ketimbang rakyat yang dirayunya saat kampanye. Habis manis sepah dibuang, kursi didapat rakyat ditinggal.

Politisasi agama saat pemilihan pelaksana pemerintahan pasti akan selalu terjadi di sistem demokrasi. Hal tersebut tidak akan bisa dihindari. Sebab proses memilih pemimpin di sistem ini bentuknya adalah kontestasi politik yang berebut suara terbanyak agar dapat kursi kekuasaan. Demi memenangkan kursi, berbagai cara akan ditempuh sekalipun harus manipulasi. Asal bisa berkelit dari regulasi, apapun caranya tidak akan menjadi soal. Contohnya di Amerika sana, Biden berusaha memikat suara pemilih muslim dengan mengutip hadits (republika.co.id, 06/11/2020). Apalagi di Indonesia yang jumlah muslimnya mayoritas. Meski cara ini membuat warga menjadi muak ketika melihat agama yang dihubungkan dengan politik. Penggunaan simbol agama untuk meraih simpati memang paling ampuh selain money politics.

Jauh berbeda dengan sistem Islam. Khilafah akan menjauhkan warganya dari politisasi agama. Tidak akan dijumpai fenomena eksploitasi simbol agama hanya untuk meraih kekuasaan dalam Khilafah Islamiyah. Sebab, Khilafah justru akan menjadikan sistem perpolitikan didasarkan pada aturan agama, yakni Islam. Islam memandang politik sebagai masalah periayahan atau pengurusan segala urusan umat yakni warga negara Khilafah muslim maupun bukan. Seluruh jajaran pemimpin bahkan pegawai pemerintahan Khilafah wajib menjalankan amanahnya sebagaimana penggembala domba ketika mengurus dombanya (muslimahnews.com, 03/01/2019).

Tidak ada rebutan suara yang penuh dengan manipulasi sebab para calon pemimpin paham betul beratnya pertanggungjawaban atas amanah tersebut di hadapan Allah SWT. Warga negara Khilafah pun dipastikan paham kriteria wajib yang harus ada dalam sosok calon pemimpin yang akan dipilih karena semuanya tertuang dalam syariat Islam. Tidak ada kebingungan memilih yang membuat warga hanya bergantung pada simbol agama yang melekat di calon pemimpin saja. Melalui sistem pendidikan Islam, seluruh warga dipahamkan sejak dini sosok pemimpin seperti apa yang harus dicari untuk meneruskan tonggak perjuangan penyebaran Islam menjadi rahmat bukan hanya untuk negerinya, tapi untuk seluruh alam.

Maka, Indonesia sebagai negeri ciptaan Allah SWT yang telah dianugerahkan-Nya pada bangsa ini seharusnya dievaluasi. Bangsa ini harusnya instropeksi diri. Padahal sejak lama dihadiahkan kemerdekaan oleh Tuhannya, tapi mengapa belum juga mau menerapkan aturan-Nya? Umat beragama di Nusantara juga harusnya bermuhasabah. Sudah paham jika terus “ditipu” dengan kedok politisasi agama yang selalu berakhir kekecewaan karena buruknya sistem demokrasi, lantas mengapa masih mau menggunakan sistem yang disetir oleh hawa nafsu manusia? Padahal Pencipta seluruh alam telah mengatakan “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96). Wallahu a’alam bis shawab.[]


Oleh: Monicha Octaviani

Posting Komentar

0 Komentar