Demokrasi Produk Manusia, Tak Layak Diharapkan


Permasalahan dunia tak kunjung mereda. Wabah belum mampu diselesaikan sampai detik ini. Sudah hampir 9 bulan tak kunjung mereda penyebarannya, hingga banyak masyarakat yang jumud menilai kinerja pemerintah tak kunjung maju. Memang unik sistem dunia ini. Kapitalis namanya.

Menelisik dari kacamata ekonomi tak ada titik terang juga. Resesi pun tak bisa dihindari. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) RI pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy).  Dengan demikian Indonesia resmi masuk ke jurang resesi, setelah pada kuartal II-2020 ekonomi RI juga terkonstraksi alias negatif. (Kompas.com)

Aspek ekonomi lain pun menjadi perbincangan hangat. RUU Cilaka membawa celaka. Ini masih berbicara dua aspek dan masih banyak lagi aspek lainnya yang masih amburadul di dunia ini. Semua dipimpin oleh sistem yang berakhiran “isme”, yakni Kapitalisme.

Sungguh ironi jika masih ada yang berharap pada sistem Demokrasi-Kapitalisme. Track record nya sudah tak bisa dipercaya lagi. Sehingga tak pantas bagi masyarakat terlebih seorang muslim untuk berhapa pada ideologi ini. Berakhiran ‘isme’ pertanda bahwa ideologi ini dibuat oleh manusia. Ideology ini adalah hasil fikiran manusia yang terbatas dan berusaha menetapkan aturan pada semua masyarakat. Jelas ini adalah kesalahan fatal.

Demokrasi, Produk Akal Manusia
Akal manusia sangat terbatas. Tidak pantas akal manusia dijadikan sebagai standar dalam kehidupan. Sesuatu hal yang terbatas akan menghasilkan banyak keterbatasan. Wajar demokrasi-Kapitalis banyak keterbatasan menyelesaikan problematika kehidupan. Secara mendasar demokrasi bertentangan dengan Islam. menurut asal katanya demokrasi berarti “rakyat berkuasa” atau goverment rule the people (kata Yunani demos berarti rakyat, kratos atau karatein berarti kekuasaan atau berkuasa). Demokrasi menjadikan kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, peraturan berasal dari pendapat manusia terbanyak sehingga disebut suara mayoritas adalah suara Tuhan. Saat ini demokrasi diagung-agungkan dengan lantang menyuarakan pemisahan agama dari kehidupan (sekuler). Agama hanya diakui dalam aspek ibadah ritual semata sedangkan aspek lainnya aturan Islam disingkirkan bahkan dihinakan dengan tuduhan-tuduhan nista.

Berbeda hal nya dengan Islam. kedaulatan tertinggi berada di tangan syara’ yang bermakna setiap apapun persoalan dalam kehidupan akan dikembalikan pada hukum tertinggi yaitu Islam. sudah sepatutnya Islam mnjadi pedoman dalam setiap aspek kehidupan. Sungguh tidak layak manusia membuat aturan dalam kehidupannya sendiri karena manusia adalah makhluk yang terbatas, lemah dan ketergantungan dengan yang lainnya. Oleh karena itu sudah sepatutnya manusia membutuhkan aturan dari Dzat Yang Maha Segalanya untuk mengatur setiap aspek kehidupan. 

Allah swt. berfirman:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

"Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa saja yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim." (TQS al-Maidah [5]: 45)

Allah SWT pun tegas berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

"Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa saja yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang kafir." (TQS al-Maidah [5]: 44)

Jika kita membaca tafsir ayat di atas, tentu tidak luput pernyataan Ibnu Abbas ketika membantah orang Khawarij yang mengkafirkan khalifah waktu itu. “Itu bukanlah kekafiran yang mereka pahami. Itu bukan pula kekafiran yang mengeluarkan dari agama. ‘Siapa saja yang tidak memutuskan menurut apa yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang kafir (QS al-Maidah [5]: 44)’ adalah kufr[un] duna kufr[in] (kekufuran di bawah kekufuran).”

Allah sudah mencukupkan Islam sebagai solusi dalam segala hal. Islam bukan lah sumber bencana bagi bangsa dan negara. Sebaliknya Demokrasi sekuler lah yang menjadi sumber bencana di negara ini karena mengingkari aturan Allah dalam aspek bernegara. Saatnya mencampakkan Demokrasi dan menerapkan syariah Islam Kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam bi ash-showab.[]

Oleh: Dhiyaul Haq
(Pengajar di Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang)

Posting Komentar

0 Komentar