Demokrasi Pasti Mati, Khilafah sebagai Pengganti



Beberapa waktu lalu, sempat viral buku How Democracies Die yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Viralnya buku tersebut lantaran postingan foto Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di jagat twitter. Mungkin jika yang upload bukan beliau, tak seviral sekarang ini.

Yang menarik adalah respon dari netizen. Ada yang mencibir, ada yang membela. Contohnya PDIP DKI yang menganggap Anies terlalu banyak gimik. Sementara Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria mengatakan bahwa Gubernur Anies Baswedan memang sosok yang suka membaca buku.

Terlepas dari semua itu, demokrasi sebagai sebuah hasil pemikiran memang pasti mati. Faktor-faktor yang menyebabkan kematiannya sudah banyak dikemukakan oleh para ahli. Termasuk dalam buku How Democracies Die yang viral itu.

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa penyebab matinya demokrasi dalam suatu negara dimulai dari kotak suara. Artinya, demokrasi akan mati di tangan penguasa terpilih dan pejabatnya. Meskipun yang menjadi titik fokus penulisnya adalah Amerika Serikat dan Eropa, namun sepertinya tak jauh beda dengan yang terjadi di sini.

Demokrasi yang mengagungkan kebebasan dan hak asasi sudah tercoreng di negeri ini. Pencabutan BHP HTI, penangkapan para aktivis hingga kriminalisasi HRS membuktikan analisis Levitsky dan Danial. Sehingga wajar bila keduanya menganggap demokrasi sudah mati sejak akhir perang dingin silam.

Pada hakikatnya, faktor utama yang menyebabkan kematian demokrasi adalah karena demokrasi merupakan sistem buatan manusia. Lahir dari akidah sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Menegasikan peran tuhan dalam mengatur manusia. Maka tentu saja bermasalah, tak akan bertahan lama dan pasti akan mati sendiri.

Jika demokrasi terbukti gagal dan dianggap mati, lalu sistem apakah penggantinya? Jawabannya, Khilafah Islamiyah. Sistem pemerintahan Islam warisan nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam ini sudah teruji selama 13 abad dalam sejarah, mampu menyejahterakan umat dan menjadi Rahmat bagi sekalian alam.

Berbeda dengan demokrasi buatan manusia yang lemah, Khilafah merupakan sistem yang diwajibkan Allah Ta'ala sehingga dijamin terjaga dari kekeliruan dalam aturannya. Demokrasi yang sudah dipastikan mati berbeda dengan Khilafah yang dikhabarkan Rasulullah akan berjaya sebelum hari Kiamat.

“dan akan kembali Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)

Olehnya itu, saatnya meninggalkan sistem sekarat demokrasi dan beralih kepada sistem Khilafah yang dijanjikan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Al Azizy Revolusi
(Editor dan Kontributor Media)

Posting Komentar

0 Komentar