TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

'Deep Cleansing' Sekularisme



Di dunia kecantikan, istilah deep cleansing dapat diartikan sebagai teknik membersihkan kulit wajah yang tidak hanya menghapus kototan dan make up tebal tetapi juga menghilangkan komedo dan sel kulit mati di bawah lapisan kuit. Deep cleansing meliputi membersihkan wajah, membuka pori-pori kulit, eksfoliasi sel kulit mati dan mengangkat komedo. Eksfoliasi wajah yang paling efektif adalah dengan menggunakan teknik scrubbing

Bila ditransformasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat, istilah deep cleansing dapat diartikan tidak hanya membersihkan "wajah kusam" sebuah tatanan masyarakat atau peradaban akibat berbagai penyimpangan dan tindak amoral lainnya yang tampak di permukaan tetapi juga menghilangkan penyebab penyimpangan dan amoralitas hingga ke akarnya dengan penyelesaian tuntas.

Hari ini misalnya, kita menyaksikan Prancis tengah dihantam badai kecaman dari umat Islam di seluruh dunia. Tak lain karena ulah Presiden Macron yang berkali-kali mengeluarkan statemen dan kebijakan "kotor", menghina Islam dan Pemimpin umat Islam, Muhammad ﷺ. Pernyataannya bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia serta penerbitan karikatur yang menghina sosok Nabi Muhammad ﷺ. di majalah satir Charlie Hebdo menuai kecaman. Kini, kecaman itu berbuntut boikot berbagai produk Prancis dan meminta Presiden Macron meminta maaf kepada seluruh umat Islam. Tak ayal, beberapa hari diboikot, saham milik Prancis pun ambruk. 

Kejadian ini bukanlah kali pertama di Prancis dan di dunia Eropa. Namun berbagai kecaman dan boikot seolah tak pernah membuat mereka jera. Atmosfer kebencian terhadap Islam terus menyelimuti Prancis dan sebagian besar daratan Eropa. Kebencian dan Islamofobia seolah menjadi DNA yang diwariskan kepada anak cucu, keturunan mereka hingga hari ini. 

Prancis menganggap suci ide kebebasan berekspresi kecuali bagi syiar Islam. Akibatnya, Islam dan minoritas muslim mengalami diskriminasi. Macron juga menganggap keramat ide kebebasan berekspresi sehingga bisa dikatakan kebebasan adalah harga mati. Namun sekali lagi, kecuali untuk Islam dan komunitas muslim. 

Limitasi ini menunjukkan betapa hipokrit dan inkonsistennya Macron dan kelompok penganut ide liberal sekuler dalam mengamalkan ajarannya. Ini di satu sisi. 

Di sisi lain, para penguasa muslim, tetap bertahan dengan langgam kuno, hanya melontarkan kecaman dan seruan boikot produk tanpa tindakan nyata yang membuat takut dan jera Prancis serta negara-negara penghina Nabi lainnya. Jelas-jelas upaya yang mereka lakukan itu sama sekali tidak ditakuti oleh Prancis ataupun negara-negara yang pernah melakukan aksi penghinaan serupa seperti Jerman, Belanda, dan Amerika para periode sebelumnya. 

Merespons kejadian ini, Wapres Ma'ruf Amin berharap semoga Prancis menemukan formula yang tepat untuk mengelola kehidupan beragama di sana. Pertanyaannya, seperti apa formula yang tepat itu? 

Perlu dicatat, Prancis adalah negara pioner sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan sudah menjadi watak bawaan, sekularisme tidak akan pernah bisa berdampingan dengan Islam. Selamanya. Jika Macron berkicau hendak menciptakan Islam ala Prancis yang jauh dari karakter radikal dan teroris, sungguh ini hanyalah bualan dari seorang kafir sekuler untuk menjerumuskan kaum Muslim agar berislam sesuai perspektif mereka. Muslim, tapi meninggalkan Islam dan mengimani sekularisme. Itulah tujuan yang dikehendaki. 

Kaum Muslim hanya punya satu jalan keluar. Bukan dengan mengulang jalan boikot dan kecaman, melainkan dengan khilafah dan jihad. 

Ibarat noda, sekularisme telah menutup wajah peradaban Prancis dengan kebencian terhadap Islam. Kebencian yang amat pekat ini masuk hingga ke lubuk hati yang dalam. Prancis berupaya mempromosikan kepada dunia bahwa apa yang mereka lakukan terhadap Nabi Muhammad dan umatnya adalah bentuk kebebasan berekspresi, titik. 

Noda sekularisme yang membandel di jiwa kaum liberal Prancis telah mencemari sebagian kaum muslim di negeri-negeri Islam. Akibatnya, ada sekelompok kaum muslim yang tidak merasa gusar ketika Nabi Muhammad ﷺ dinista lewat sebuah karya. 

Jika hal ini dibiarkan, sama saja membiarkan kemungkaran. Dan pelakunya disebut sebagai setan bisu, bahkan dikatakan sebagai juru bicara setan. Naudzubillah min dzalik. 

Disebutkan Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim bahwa Abu Ali Ad-Daqqooq An-Naisaburi Asy-Syafi’i berkata, “Barang siapa yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithan Akhraos (yakni setan yang bisu dari jenis manusia).”

Oleh karena itu, pesan Macron pada dunia itu harus direspons oleh umat Islam dengan memberi notifikasi jihad dari Khilafah kepada Prancis. Hanya ini yang dapat membuat Prancis kebat-kebit dan jera selamanya. 

Kunci semua itu adalah kesadaran masyarakat dan pertolongan Allah SWT. Agar masyarakat sadar, dibutuhkan amar ma'ruf nahi mungkar. Scrubbing pemikiran masyarakat dari paham sekuler dan menggantinya dengan paham Islam kafah. Selama ide kebebasan masih bersarang, selama itu pula Islam akan bebas dihinakan. 

Meski teknik scrubbing pemikiran bisa jadi membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Islam telah mencontohkan lewat Baginda Nabi Muhammad ketika mengubah masyarakat Arab jahiliyah. Demikian pula para Khalifah sesudah beliau. Ketika melakukan futuhat dan perluasan Islam ke negeri-negeri di luar jazirah Arab, Islam tidak datang kecuali untuk melakukan cleansing kemusyrikan, baik dari segi akidah maupun aturan. 

Ketika itu, Irak yang penduduknya campuran dari Nasrani, Masak, dan Zoroaster berhasil dibebaskan. Persia yang berpenduduk orang 'ajam, sedikit Yahudi serta Romawi dan semuanya menganut agama Persia juga dibebaskan. Lalu Syam yang berbudaya Romawi dan beragama Nasrani juga dibebaskan. Mesir, Afrika Utara, Sind, Khawarizm, Samarkand, Spanyol juga dibebaskan. Berbagai negeri itu memiliki beragam adat istiadat, kebiasaan, kebudayaan dan undang-undang. Sehingga secara alamiah memiliki beragam pola pikir dan pola sikap. 

Islam datang untuk membersihkan negeri-negeri itu dari belenggu kemusyrikan dan kekufuran serta penerapan aturan hidup jahiliyah. Hal ini merupakan upaya yang sangat sulit dan melelahkan. Namun, keberhasilan upaya tersebut merupakan perkara yang luar biasa dan tidak pernah terjadi untuk selain Islam, juga tidak akan pernah terjadi kecuali dengan Khilafah Islam yang mengemban dakwah dan jihad. 

Oleh karena itu, upaya penegakan Khilafah harus menjadi agenda utama umat Islam. Dengannya, umat Islam memiliki perisai dan kekuatan untuk mengobarkan jihad melawan kesombongan negara-negara kafir penghina agama Allah dan Rasul-Nya. Khilafahlah yang akan membersihkan peradaban kotor sekularisme dari daratan Eropa hingga ke Timur Jauh Indonesia. InsyaAllah.[]

Oleh: Pipit Agustin R. (Koordinator JEJAK)

Posting Komentar

0 Komentar