Charlie Hebdo Bukti Kebebasan yang Kebablasan


Seruan boikot produk Prancis masih ramai diperbincangkan, yang berawal dari Emmanual Marcon, Presiden Prancis menyatakan persetujuannya untuk mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad. Hal ini membuat hampir seluruh kaum muslim di seluruh dunia mengecam tindakan Presiden Marcon, termasuk kecaman dari warga 62+. Berbagai macam aksi warga +62 dalam menyalurkan kecamannya pada Presiden Marcon, diantaranya menginjak poster bergambarkan wajah Emmanual Marcon yang disediakan di beberapa tempat. Tidak sedikit pula dari mereka turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa.

Namun dibalik persetujuan publikasi karikatur Nabi Muhammad, terdapat pernyataan mengejutkan dari Presiden Marcon. Dia mengungkapkan bahwa tindakannya tersebut dilakukan sebagai bentuk kebebasan berekspresi.

Kebebasan berekspresi bukanlah diwujudkan dengan bebas menghina agama lain, karena menghina agama lain-lah yang justru dikatakan intoleran karena tidak membiarkan orang lain patuh terhadap ajaran agamanya. Seperti halnya patuh terhadap perintah bahwa Islam melarang mengekspresikan wujud Allah Swt. dan Nabi Muhammad SAW dalam bentuk apapun.

Nyatanya Islamophobia selalu subur dalam sistem demokrasi sekuler, sistem yang mengajarkan kebebasan dan kerap menganggap Islam sebagai musuh negara sehingga selalu membebaskan atau membiarkan para anti Islam tetap aktif dalam menghina Islam. Tidak jarang pula yang menyuarakan ajaran Islam justru jadi sasaran kriminalisasi. 

Hal ini disebabkan ketakutan barat terhadap kebangkitan Islam. Barat sangat memahami bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang pernah menjadikan Islam sebagai penguasa peradaban, dan barat memahami pula bahwa peradaban Islam itu akan kembali saat tegaknya sistem khilafah di muka bumi, sistem yang dapat meruntuhkan kapitalis. Dari ketakukan itu, maka barap pun semakin gencar menghina Nabi dan menghujat Islam di berbagai media untuk mempengaruhi orang-orang menjadi menjadi anti terhadap ajaran Islam atau Islamophobia.

Berbeda dengan sistem demokrasi sekuler yang membiarkan penghina Nabi berkeliaran, dimasa kekhilafahan dahulu justru wajib melakukan penyerangan terhadap penghina Nabi Muhammad. Seperti di masa kekhilafahan Utsmaniyah, dimana Inggris pernah merencanaka pementasan drama teater yang berjudul “Muhammad atau Kefanatikan”. Mengetahui hal itu, Sultan Hamid II, pemimpin saat itu segera mengecam dan memerintahkan Inggris untuk menghentikan pementasan tersebut, lalu pemerintah Inggris menolak dengan alasan melanggar prinsip kebebasan rakyatnya. Setelah mendengar jawaban itu, Sultan Abdul Hamid II pun mengatakan: “Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar)”. Akhirnya Inggris pun serta merta membatalkan pementasan drama itu.

Maka inilah bentuk pembelaan negara terhadap Islam ketika negara tersebut dinaungi sistem khilafah Islamiyah. Pemimpin berbasis aturan Islam akan tegas membela Islam dan memberi sanksi bagi siapa yang mengkriminalisasi ajaran Islam maupun menghina Nabi Muhammad.

Seperti yang diungkapkan oleh Usman bin Affan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang  tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.”

Atau seperti yang ditulis oleh Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad : “Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar. Agama merupakan pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi maka akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hilang.”[]

Oleh: Luthfia Fadillah
(Mahasiswi Surakarta)

Posting Komentar

0 Komentar