Bukan Pemuda Biasa


Tidak hanya bagi orangtuanya, pemuda merupakan sosok yang diharapkan mampu mengisi dan memperbaiki keadaan suatu daerah, bangsa bahkan dunia. Maka adalah sesuatu yang wajar jika pemuda mendapat perhatian khusus karena mereka adalah tonggak estafet dan pewaris peradaban dunia. Baik buruknya keadaan pemuda menentukan kelangsungan hidup didaerah tersebut.

Di era serba digital seperti sekarang ternyata tidak serta-merta memperbaiki kualitas personal para pemuda. Teknologi tinggi yang membantu mempermudah mengakses berbagai macam informasi malah menjadikan mereka candu terhadap gawai, yang bukan hanya menjadikannya lalai tetapi juga tak peka terhadap keadaan sekitar.

Arah Penyaluran Potensi Pemuda

Peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober kemarin, dijadikan momentum penyadaran kepada para pemuda untuk ikut serta dalam pembangunan daerah. Seperti yang dilakukan Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 92 tingkat Kecamatan Situraja, Rabu (28/8/20), "Mereka harus memiliki tingkat pendidikan yang cukup, keterampilan yang tinggi, kepedulian yang baik terhadap lingkungan, serta yang tak kalah penting semangat juang yang besar untuk berpartisipasi dalam pembangunan desa."

Sejak mewabahnya covid-19 ini yang berhasil memukul berbagai sektor terutama ekonomi, daerah Sumedang memprioritaskan pembangunan destinasi-destinasi wisata di desa khususnya tahun 2021. Masih menurut Wabup Sumedang, sebuah objek wisata berbagai hal dapat digali, baik sebagai pendapatan asli daerah, maupun sumber pendapatan warga setempat dan terutama sebagai sarana pengembangan prestasi serta potensi para pemuda.

Menaruh harapan tinggi terhadap peran para pemuda untuk kemajuan suatu daerah adalah suatu yang sangat wajar, namun pemerintah setempat harus juga memfasilitasi, serius memperhatikan peningkatan pendidikan dan keterampilan mereka, terlebih pendidikan agamanya karena jati diri pemuda Indonesia adalah berketuhanan yang Esa. 

Pembelanjaaan dana pendidikan juga harus tepat guna untuk peningakatan keterampilan para pemuda, bukan sekedar tutup buku saja. Seperti kejadian  tahun lalu sebagaimana yang dikutip dari (KAPOL).-Bahwa ratusan sekolah mulai dari tingkat Paud/TK,SD dan SMP di Kabupaten Sumedang, menerima bantuan berupa alat peraga pendidikan berbasis teknologi informasi yang nilainya mencapai puluhan miliar.

Bantuan tersebut, bersumber dari APBD Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tahun 2018. Diantaranya, bantuan berupa sabak digital, smart playing table dan command centre. Menurut informasi, bantuan sabak digital tersebut untuk sebanyak 211 SD di Sumedang, harga satuannya Rp 142 juta maka jumlahnya Rp 30 miliar. Kemudian, bantuan smart playing table Rp 27,5 miliar unTuk 248 TK/Paud yang berarti Rp 110,8 juta/sekolah. Selanjutnya, bantuan alat command centre Rp 13,5 miliar untuk 54 SMP atau Rp 250 juta/SMP.

Menyikapi hal tersebut, Nandang Suherman selaku pemerhati kebijakan pemerintahan menilai jika bantuan alat peraga itu, kurang bermanfaat. "Pembagiannya pun terbatas, hanya satu unit per sekolah. Sementara jumlah kelas lebih dari satu kelas. Sehingga tidak semua kelas siswa bisa menggunakan alat tersebut,” ucapnya, Senin 2 September 2019.

Saat Pemerintah setempat berharap akan kontribusi nyata para pemuda, namun tidak terlihat upaya-upaya serius pemerintah untuk memperbaiki kualitas didik dan mengasah keterampilan mereka, sekalipun disuguhi berbagai peluang pembangunan yang diharap para pemuda yang menggarapnya bisa jadi hanya mimpi semata. Para pemuda yang krisis identitas, penyaluran potensi merekapun semakin bias.

Islam Pencetak Para Pemuda Luar Biasa

Dalam bahasa Arab pemuda disebut syabàb. Merupakan bentuk jamak darisyàb atau syubbàn  yang bermakna kuat, baru, muda, indah dan berkembang.  Pemuda adalah masa dimana mereka memiliki kepekaan yang tinggi, berpikir kritis dan mampu mengoptimalkan setiap potensinya. Karenanya, Islam memberikan perhatian besar pada mereka.

Pemuda lebih dekat dengan fitrah (islam). Saat rumah, sekolah dan masjid yang merupakan sendi-sendi pendidikan utama dihiasi dengan islam maka mereka akan tumbuh menjadi sosok yang unggul, terampil dan siap hadapi tantangan zaman. Ini terbukti di kekhilafahan islam dahulu. 

Berbeda dengan sekarang, sekulerisme yang memasuki rumah, sekolah bahkan masjid-masjid melahirkan generasi yang jauh dari fitrahnya. Masa-masa berkualitasnya tidak diarahkan/di atur oleh aturan Islam, bingung mencari sosok panutan. maka lahirlah dari rahim kapitalis sekuler ini pemuda yang kering identitas, bingung, dan jumud. Mereka tidak tahu dari mana mereka berasal, untuk apa mereka ada di dunia, dan tidak memahami bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan akan di hisab oleh Allah Swt. Potret pemuda seperti ini tidak hanya terjadi di daerah-daerah, tapi juga diseluruh dunia penganut sistem sekuler-kapitalis.

Islam sangat memperhatikan pendidikan para pemuda. Kurikulum, strategi serta tujuan pendidikan berdasarkan akidah islam,pengembangan keimanan sehingga melahirkan amal sholih dan ilmu yang bermanfaat. Memahamkan bahwa ilmu yang dikuasai adalah dalam rangka mengenal Allah sang Khaliq. Ilmu dikembangkan semata-mata mengambil manfaat dengan tujuan beribadah kepada Allah Ta'ala pemilik alam semesta.

Dan terbukti dengan tercatat beberapa lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dari dulu hingga sekarang. Kendati beberapa di antaranya hanya tinggal nama. Namun, nama-nama lembaga pendidikan Islam itu pernah mengalami puncak kejayaan dan menjadi simbol kegemilangan peradaban Islam.

Nizamiyah di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, dan Sankore di Timbuktu, Mali, Afrika. Masing-masing lembaga ini memiliki sistem dan kurikulum pendidikan yang sangat maju ketika itu. Dari beberapa lembaga itu, berhasil melahirkan tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan Muslim yang sangat disegani. Misalnya, al-Ghazali, Ibnu Ruysd, Ibnu Sina, Ibn Khaldun, Al-Farabi, al-Khawarizmi, dan al-Ferdowsi. Yang mana dari para ilmuwan muslim inilah awal mula kemajuan teknologi.

Itulah sempurnanya islam, agama pembawa rahmat bagi seluruh alam. Saat diaplikasikan dalam pendidika n tak akan bingung menyalurkan potebsi-potensi yang terpendam. Agama dan aspek pendidikan menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya. Di samping itu hal yang harus diperhatikan pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum sangat menentukan. 
Wallahu a'lam bish-showàb.[]

Oleh: Siti Aisyah, Sumedang

Posting Komentar

0 Komentar