Boikot Prancis? Jangan Nanggung!


Majelis Ulama Indonesia ( MUI) mengeluarkan imbauan kepada umat Islam Indonesia untuk memboikot segala produk asal negara Perancis. 

Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia. 

Seruan boikot MUI dilayangkan melalui surat pernyataan Nomor: Kep-1823/DP-MUI/X/2020 tertanggal 30 Oktober 2020.
"MUI menyatakan sikap dan mengimbau kepada Ummat Islam Indonesia dan dunia untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Perancis," bunyi salah satu pernyataan dalam surat yang ditandatangani Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi dan Sekjen MUI Anwar Abbas itu.

Seruan boikot ini adalah ungkapan protes kaum muslimin yang menandakan "ruh islam" mereka masih ada. 
Namun, seruan sebatas boikot produk² barang "Made in France" ini tidak akan banyak berpengaruh dalam menghentikan penistaan terhadap Islam. 

Buktinya, penistaan agama Islam dengan dalih kebebasan berpendapat ini tetap saja dibela oleh presiden AS, negara nomor Wahid dalam memerangi Islam. 

Donald Trump menyatakan  dukungannya kepada Perancis dan negara Eropa lainnya untuk melawan tindakan terorisme.  “Amerika Serikat berdiri bersama Austria, Perancis, dan seluruh Eropa dalam perang melawan teroris, termasuk teroris Islam radikal,” tulisnya dalam akun Twitter resminya. (bisnis.com, 3/10/2020) 

Lantas, bagaimana pandangan Islam seputar hal ini? Sejak Islam pertama kali diwahyukan Allah, Allah sudah mengajak umat Islam untuk mewaspadai kebencian sebagian umat Nasrani dan Yahudi terhadap Islam dan umatnya. 

وَ لَنْ تَرْضَى عَنكَ الْيَهُوْدُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيْر

"Dan sekali-kali tidaklah ridha terhadap engkau orang-orang Yahudi dan Nasrani itu, sehingga engkau mengikut agama mereka. Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah, itulah dia yang petunjuk. Dan sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu, sesudah datang kepada engkau pengetahuan, tidaklah ada bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong." (QS. Al-Baqarah: 120)

Perilaku rasis "Islamophobia" yang ditunjukkan oleh pemerintah Barat (Eropa)  terhadap Islam dan umatnya dengan dalih perang melawan Islam radikal ini sejalan dengan benturan peradaban yang diteorikan oleh Samuel Huntington dalam thesisnya "The Clash of Civilizations" (1996), sebuah perang peradaban antara dunia Barat melawan Islam. 

Sikap pemerintah Eropa yang tiada henti menista Islam dan menyinggung perasaan umat Islam, bermuara dari akar sejarah bangsa mereka sendiri yang terlahir sebagai bangsa imperialis phobia Islam. 

Generasi pendahulu mereka telah lama menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Bahkan kebencian mereka sudah nampak saat hegemoni dunia masih dalam genggaman khilafah Islam. 

Di masa kekhilafahan Turki Utsmani, suatu saat Sultan Abdul Hamid berada di Istana Yildiz, Istanbul. Beliau mengutarakan keresahannya kepada beberapa Pasha yang mengelilinginya. Mahmud Pasha pun penasaran dengan kemarahan Sang Sultan. "Untuk apa Sultan marah jika bukan karena komik tersebut. Hunkar (panggilan hormat kepada Sultan Abdul Hamid)?" kata Mahmud.
Sultan Abdul Hamid pun menunjukkan surat kabar Prancis yang dipegangnya, dan kemudian membacakan isi berita kepada para Pasha. Dia menjelaskan, seorang laki-laki menulis pertunjukan teater yang melibatkan Nabi kita Muhammad saw. digelar malam itu, di Kota Paris.

"Ini penghinaan terhadap Rasulullah. Aku tak akan mengatakan apapun. Mereka menghina baginda kita, kehormatan seluruh alam semesta," kata Sultan. 

Sultan Abdul Hamid mengaku, ia tidak peduli jika Perancis menyerang pribadinya. Tetapi, jika mereka menghina agama Islam dan Nabi Muhammad saw., sang sultan siap bangkit dari kematian.
"Aku akan menarik pedang ketika sedang sekarat. Aku akan menjadi debu dan terlahir kembali dari debuku, dan berjuang bahkan jika mereka memotong leherku, mencabik-cabik dagingku untuk melihat wajah Baginda Nabi kita. Melihat wajah Rasulullah di akhirat," kata Sultan Abdul Hamid melanjutkan. 

Kemarahan Sultan belum berhenti. Dia mengatakan, koran yang menggambarkan wajah dan pementasan teater Nabi Muhammad saw. adalah bukti umat Islam berjuang dengan musuh yang tidak terhormat. Dia menegaskan, Khilafah  Utsmaniyah tidak akan pernah menjadi seperti Prancis dalam berperang.
"Tetapi, kita tidak akan menghentikan pertahanan kita. Panggil kedutaan Prancis, segera," begitu perintah Sang Sultan, yang langsung direspon  oleh Tahsin Pasha, selaku orang terpercaya sultan. 

Saat duta besar Perancis memenuhi panggilan Sultan Abdul Hamid di Istana Yildiz, Sultan Abdul Hamid pun menjelaskan,  "Kedutaan, kami umat muslim begitu mencintai nabi kita Rasulullah saw. Kami sangat mencintainya hingga rela mengorbankan hidup kami untuknya. Kami tigak ragu dan rela mati untuknya," ucap Sultan Abdul Hamid.

Sultan mengungkapkan, pihaknya mendapat informasi jika pemerintah Perancis menyiapkan pertunjukan yang niatnya menghina nabi Muhammad saw. Sultan pun menegaskan, jika ia adalah pemimpin umat Islam di Balkan, Irak, Suriah, Lebanon, Hijaz, Kaukasus, Anatolia, dan Payitaht (Istanbul).
"Akulah khalifah umat Islam Abdul Hamid Han! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!" ucap Sultan dengan nada geram sembari melemparkan koran kepada legasi Prancis tersebut.

Tak lama setelah itu, Tahsin Pasha memberi kabar gembira kepada Sultan Abdul Hamid jika orang Perancis akhirnya menghentikan pertunjukan teater. Hal itu tentu saja berkat ultimatum Sultan Abdul Hamid.
Tahsin Pasha melanjutkan, sultan  juga mendapat ucapan terima kasih dari umat Islam di berbagai dunia. Semua negara Islam memuji keberanian Sultan Abdul Hamid yang bisa menghentikan pertunjukan yang diniatkan untuk menista rasulullah tersebut. 

Penistaan demi penistaan terhadap Islam tidak akan berhenti hanya dengan seruan boikot produk barang "Made in France." 
Buktinya, penistaan ini tetap didukung oleh negara sponsor utama perang melawan Islam, AS. 
Penistaan agama Islam akan tetap terjadi selama dunia ini dalam genggaman hegemoni  pemerintah sekuler Barat. Islamophobia tetap mereka lestarikan dalam kekuasaan mereka. 

Boikot Prancis? Jangan nanggung. Seruan boikot tak hanya sebatas produk barangnya, tetapi juga  menyeluruh hingga ke paham kufurnya, yakni boikot ideologi Kapitalisme beserta anak turunannya : Demokrasi,  sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Lebih dari itu, penistaan terhadap Islam hanya bisa dihentikan oleh institusi pemerintahan Islam, khilafah Islam. Wallahu a'lam bishawwab.[]

Oleh: Dian Puspita Sari, Aktivis Muslimah Ngawi

Posting Komentar

0 Komentar