Biden, Forbidden!




TintaSiyasi.com--Joe Biden dipastikan melenggang ke Gedung Putih setelah menang pemilu AS dengan perolehan 290 suara elektoral. Mengalahkan petahana, Donald Trump yang baru meraup 214 electoral votes. Dengan demikian, Joe Biden resmi menjadi presiden AS, mengakhiri kepemimpinan 4 tahun Donald Trump. 

Joe Bidden sebetulnya bukan orang baru dikancah politik AS. Dia sudah malang melintang dengan berbagai posisi strategis dipemerintahan. Karir politiknya sudah dimulai semenjak tahun 1972 sebagai senator untuk negara bagian Delaware selama enam kali masa jabatan.

Sebagai politisi ambisius, dia sudah menjadi calon presiden dari Partai Demokrat sebanyak tiga kali. Tahun 1988 ia terpaksa mundur dari pencalonan setelah menjiplak pidato pemimpin Partai Buruh Inggris, Neil Kinnock. 

Pada tahun 2008 ia bersaing dengan Hillary Clinton dan akhirnya menjadi pemenang sebagai wakil presiden mendampingi Barack Obama. Bersama Obama dia menjabat sebagai Wakil presiden dua periode tahun 2008 dan 2012. 

Kemenangan Biden, pastinya kemenangan para pendukungnya. Bukan kemenangan seluruh masyarakat AS. Faktanya, hingga kini terdapat penolakan masyarakat terutama dari pendukung Trump diseluruh AS, yang berbasis di Selatan. 

Penolakan tersebut semakin panas karena berbagai cuitan dari masing-masing pendukung tentang kemungkinan akan terjadi perang saudara seri kedua di AS. Setelah perang saudara seri pertama selama empat tahun dari tahun 1861 hingga 1865.

Kemenangan Biden juga bukan kemenangan dunia. Sebab, sebagai politisi flamboyan, Joe Biden sudah bersenyawa dengan denyut nadi politik AS yang liberal dan imperialis. Yang sudah terbukti menyebabkan kebangkrutan dan malapetaka ekonomi dan kemanusiaan diberbagai belahan dunia.

Kemangan Biden tentu juga bukan kemenangan umat Islam. Maka, tidak pantas kaum muslim berharap pada Biden untuk memperbaiki kondisi umat. Bukankah sebelumnya, kaum muslim juga menyambut gagap gempita kemenangan Barrack Obama?

Masih segar dalam ingatan kita, betapa Obama sangat fenomenal diawal masa jabatan. Selain warga kulit hitam pertama yang menjadi presiden di negeri yang sangat rasial. 

Dengan kemampuan retorika, Obama juga berhasil menciptakan "janji surga" untuk mengeluarkan rakyat Amerika Serikat dari krisis ekonomi dan menghentikan kebijakan perang di berbagai belahan dunia.

Euforia terjadi dihampir seluruh negeri muslim ketika Obama terpilih jadi presiden. Apalagi dengan nama lengkap Barrack “Hussein” Obama, membuat harapan umat kian membuncah. Umat berharap Obama akan memperbaiki kondisi mereka setelah sebelumnya luluh lantak oleh George W Bush melalui kompanye _global war on terrorism._

Bagi sebagian kalangan di Indonesia, Obama bahkan dianggap sebagai keberhasilan pendidikan Indonesia karena Obama pernah sekolah di SD 01 Menteng. Tidak tanggung-tanggung untuk menyambut kedatangannya ke Indonesia di Menteng dibuatkan patung Barrack Obama. Karpet merah terbuka, semua petinggi negeri memberikan pujian setinggi langit pada Obama. 

Apakah harapan khususnya harapan umat Islam terhadap Obama menemui kenyataan? Sama sekali Tidak!

Bersama Joe Biden, Obama menghentikan bantuan kemanusiaan ke Somalia selama masa Kelaparan pada tahun 2011, sehingga menyebabkan kematian lebih dari 200.000 penduduk Somalia, yang merupakan kelaparan terburuk dalam sejarah modern.

Bersama Joe Biden, Obama tidak memenuhi janjinya mengakhiri invasi sangat keji AS ke Irak dan Afghanistan dimasa Bush. Bahkan, dengan alasan membantu pemulihan stabilitas keamanan di negara tersebut Obama justru meningkatkan jumlah pasukan keamanan AS di Timteng. Korban warga Irak mencapai setengah Juta orang.

Bersama Joe Biden, Obama tetap memelihara Israel. Blockade Israel terhadap Gaza terus berlanjut; pembangunan pemukiman di wilayah Palestina oleh Israel juga terus terjadi; pembantaian terhadap warga Palestina juga tidak berhenti. Dimasa Obama, Israel tetap menjadi anak manjanya AS untuk mengamankan politik AS di Timteng.

Bahkan dalam suatu pidato Obama menyatakan "kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL (ISIS), termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar." Kalimat tersebut membuka mata dunia bahwa ternyata yang membentuk ISIS adalah AS dibawah presiden Obama.

Bersama Joe Biden, Obama mendukung pernikahan LGBTQ. Hampir bisa dipastikan ketika Biden menjadi presiden, LBGTQ akan segera legal di seluruh AS. Sebagai Negara adidaya, AS juga akan mengekspor nilai-nilai yang legal di AS keseluruh dunia, termasuk eksport LGBTQ.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika kunjungan Obama ke Indonesia. Para petinggi negeri ini menyambut dengan sorak sorai pidato Obama di Universitas Indonesia. Dalam podatonya Obama menyebut kedatangannya ke Indonesia dalam rangka “pulang kampung”. Semua yang mendengar meleleh dibuatnya.

Saat itu, HTI menjadi satu-satunya komponen umat yang tak tertipu dengan mulut manis Obama, dan mengingatkan bahaya Obama terhadap Indonesia dan negeri-negeri muslim. Sehingga ketika Obama berkunjung ke Indonesia hanya HTI yang menyuarakan penolakan secara tegas.

Apa yang Obama dapatkan dari pulang kampungnya? Di dalam istana Obama mendapatkan sugahan Bakso, Nasi goreng dan Kerupuk. Diluar istana, Obama berhasil mendapatkan (mengamankan) kontrak Blok Cepu, Freeport dan berbagai perusahaan multinasional AS yang beroperasi di Indonesia. Dia juga berhasil menjadi makelar pesawat yang laku sebanyak 230 unit di beli Lion Air. 

Persis seperti yang diingatkan HTI saat itu, Obama adalah presiden Negara imperialis. Artinya siapapun presiden AS tidak akan mengubah karakter AS sebagai Negara pengemban Ideologi Kapitalis, yang memiliki matode baku imperialisme.

Oleh karena itu, umat jangan lagi masuk ke dalam lubang yang sama. Jika Obama yang secara tampilan terlihat lebih “bersahabat” sudah terbukti sangat destructive dan eksploitative, apalagi Biden yang ambisuis!

Umat mesti sadar, bahwa mereka adalah anak cucu generasi terbaik yang pernah mengurus bumi dengan risalah mulia yakni Islam. Mulai dari kalangan Sahabat yang Mulia hingga Muhammad Alfatih, Sultan Sulaiman Al Qanuni, Salahahuddin Al Ayubi, dll.

Ditangan umat ada petunjuk hidup paripurna yang berasal dari pencipta langit dan bumi. Mereka adalah pewaris risalah Al Musthofa Muhammad SAW. 
Dengan risalah itu, kakek mereka dahulu berhasil mengenggam dunia. Tidak pernah kaum muslim bergeser dari posisi mereka sebagai adidaya dunia selama mereka berpegang teguh pada Islam secara kaffah.

Berharap pada Biden hanya akan membuat kaum muslim pindah dari mulut ular ke mulut buaya. Seperti presiden AS sebelumnya, Biden akan berusaha melanggengkan imperialism AS atas dunia termasuk di negeri ini. Bagi AS, Indonesia adalah permata berharga, kekayaan alam Indonesia menitikkan air liur AS untuk dieksploitasi dan dikeruk.

Satu-satunya cara untuk kaum muslim bangkit adalah dengan cara awal pertama kali mereka bangkit. Yakni menjadikan ajaran Islam sebagai satu-satunya kepemimpinan berfikir. Melepaskan keterikatan, kecenderungan dan perasaan terhadap berbagai ajaran diluar Islam baik yang berasal dari Kapitalis-Sekuler maupun Sosialis-Komunis. 

Terhadap kemenangan Biden, ucapkan saja forbidden! Tanpa perlu pesta hura-hura, karena pasti akan kecewa.
Wallahu’alam.[]



Oleh: Dr. Erwin Permana 
(Peradaban Muda Institute)

Posting Komentar

0 Komentar