Bersatu Menuntaskan Persoalan Pendidikan



Saat pembelajaran via daring (dalam jaringan) di sekolah, dua pekan pertama kita menjalaninya dengan menganggap ini seperti liburan. Namun, setelah dua minggu berlalu, waktu daring belajar ditambah lagi, dan akhirnya jenuh. Seluruh dunia mengalaminya, pendidikan dunia seolah beku tanpa sentuhan sosialisasi dan tatap muka. Berbagai pihak saling menyalahkan, atau merasa risih satu sama lain. Anak yang kurang semangat tanpa teman, orangtua yang kesal karena anaknya tidak semangat ataupun kewalahan karena tugas dari guru datang bersamaan dengan pekerjaan rumah yang belum selesai, ataupun tenaga pendidikan yang merasa tidak difasilitasi dengan baik. Pemerintah dengan segala dalih dan kemampuannya sering dituduh tidak kompeten menangani persoalan pandemi diberbagai aspek. 

Sudah 7 bulan dengan tanpa diduga mampu memakan korban karena depresi, baik orangtua membunuh anak atau bahkan anak membunuh dirinya sendiri alias bunuh diri dalam kondisi berstatus pelajar. 

Terjadi pada 26 Agustus 2020, di sebuah kontrakan di kawasan Larangan, Kota Tangerang, seorang Ibu  gelap mata membunuh anaknya yang masih kelas 1 SD saat sekolah daring karena kesal pada anaknya yang susah dibilangin. (news.detik.com 16/09/2020)

Siswi SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan bunuh diri akibat depresi akibat daring belajar, diketahui karena rumah siswi tersebut mengalami kesulitan akses internet sehingga tugas-tugas sekolahnya menumpuk. (nasional.kompas.com 23/10/2020)

Jadi sesungguhnya siapa yang perlu kita salahkan? Setiap bulan, siswa akan mendapat kuota internet gratis sebesar 35 GB, sementara guru menerima 42 GB. Para mahasiswa dan dosen pun juga mendapatkan kuota internet sebesar 50 GB per bulannya. (suara.com 25/10/2020)

Solusi dari pemerintah adalah memberikan kuota gratis bagi setiap elemen pendidikan yang melakukan PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh) ataupun WFH (Work For Home ) bagi para staf yang mengatur jalannya pendidikan.

Indonesia yang memiliki geografis yang luas tidak cukup dengan sekedar pemberian kuota gratis, harus ada penguatan sinyal provider dan penguatan kemampuan teknologi bagi seluruh elemen pendidikan serta jaringan disetiap lini.

Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan alasan mengapa pihaknya memberikan nilai 55 untuk kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. (nasional.kompas.com 25/10/2020)

Indonesia yang dikabarkan sedang bergerak menuju revolusi industri 5.0 pada kenyataannya, institusi pendidikan yang dikategorikan unggulan di Indonesia pun belum menerapkan sistem industri 4.0. (republika.co.id 22/08/2019)

Sangat suram ketika pendidikan di era pandemi dihadapkan pada kekuatan teknologi yang belum mumpuni. Belum lagi ada rencana-rencana perubahan kurikulum yang sesungguhnya tidak akan menghasilkan apa-apa. 

Dunia harus memahami bahwa kekuatan ilmu pengetahuan harus memiliki tujuan jelas, bukan sekedar untuk sebuah ijazah atau citra diri, tetapi pengetahuan harus bisa menjadi pemecah masalah dalam kehidupan bermasyarakat dan mampu menjadi kekuatan untuk mendakwahkan Islam di bumi. Kaum muslimin pun harus serius dalam menumbuhkan minat belajar karena kita ketahui hari ini teknologi dikuasai asing, dan kita sebagai muslim sejatinya mampu menjadi kekuatan yang besar jika seluruh negeri kaum muslimin bersatu dengan visi-misi yang sama karena Allah anugerahkan pada kaum muslimin SDA ( Sumber Daya Alam ) dan SDM ( Sumber Daya Manusia ) yang cukup yang sejatinya mampu melawan kekuatan asing. 

Bersatunya kaum muslimin hanya adapat terwujud jika seluruhnya menyadari bahwa Islam adalah jalan hidup dan menerapkannya secara menyeluruh diseitiap aspek adalah kewajiban. Dan hal tersebut akan hanya terwujud dengan Khilafah sehingga lingkaran jenuh dalam setiap persoalan manusia bisa menemui titik terangnya, termasuk dalam dunia pendidikan.

 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. al-Anfaal [8]: 60). Wallahu’alam.


Oleh: Yauma Bunga Yusyananda

Posting Komentar

0 Komentar