TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Benarkah Joe Biden Pro Islam?


Pemilihan presiden Amerika Serikat baru saja digelar. Pesta demokrasi Amerika serikat itu telah memilih Joe Biden sebagai presiden terpilih dan Kamala Harris sebagai wakil presiden terpilih. Kini Joe Biden berada di tampuk kekuasaan dan  secara resmi mengalahkan calon petahana Donald Trump dalam memperebutkan kursi Presiden Amerika Serikat. Joe Biden juga akan mencatatkan sejarah sebagai presiden Amerika serikat tertua saat dilantik dalam sejarah negara tersebut.  Begitu pula dengan Harris menjadi wanita pertama yang menjadi wapres dalam sejarah Amerika serikat.

Kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris telah membawa sejumlah harapan perubahan khususnya bagi  umat Islam di seluruh dunia. Banyak di antaranya kaum Muslim yang menggantungkan harapannya terhadap presiden terpilih Joe Biden, menyusul pernyataannya yang akan mencabut larangan perjalanan dari 13 negara. “Pada hari pertama, saya akan mengakhiri larangan Muslim inkonstitusional Trump,” ujar Joe Biden. (suarajogya.id, 07/11/2020)

Sebagaimana dilansir dari Aljazeera Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi advokasi dan hak-hak sipil Muslim terbesar di AS, mengucapkan selamat kepada Biden atas kemenangannya. Direktur eksekutif nasional CAIR, Nihad Awad mengatakan bahwa mereka berharap Biden akan menepati janji pemilihannya. “Presiden terpilih Biden telah berjanji untuk mengakhiri larangan Muslim pada hari pertamanya menjabat, termasuk Muslim di setiap tingkat pemerintahannya dan mengatasi masalah diskriminasi rasial dan agama,” ujar Nihad.

Harapan besar itu disemaikan pada Joe Biden karena Umat Islam masih teringat pernyataan Joe Biden ketika mengutip hadist Nabi Muhammad Saw. untuk menyindir kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai kurang tepat pada Juli 2020 ketika kampanye.

Pernyataan tersebut diungkapkan Joe Biden dalam pertemuan puncak online yang diselenggarakan oleh organisasi 'Engage Action'. "Sebuah hadis dari Nabi Muhammad Saw. memerintahkan, Siapa pun di antara kamu melihat kesalahan, biarkan dia mengubahnya dengan tangannya, Jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika dia tidak bisa, maka dengan hatinya," katanya membacakan kutipan hadits seperti dikutip Hops.id--jaringan Suara--, Sabtu (7/11/2020).

Biden sengaja mengucapkan kutipan hadist Nabi Saw. tersebut sebagai respon atas dukungan dari pemimpin Islam di Amerika Serikat kepadanya saat hendak maju dalam pilpres pada 3 November 2020. Bahkan, Biden telah mengungkap janjinya untuk mengatasi kebutuhan dan keprihatian komunitas Muslim Amerika jika terpilih menjadi presiden.

Dirinya juga tidak sungkan memuji Islam sebagai salah satu agama yang agung. Pada kesempatan tersebut dirinya berharap sekolah-sekolah di AS mengajarkan lebih banyak tentang Islam, pernyataan tersebut dikemukakan kepada peserta pertemuan online million muslim votes. "Salah satu hal yang saya pikir penting, saya berharap kami mengajar lebih banyak di sekolah kami tentang iman Islam," terangnya.

Lebih jauh ia juga mengkritik petahana Presiden Donald Trump karena “memperbesar api kebencian”. Dengan dukungan tersebut, Biden juga berjanji akan mengangkat tokoh muslim sebagai bagian dari pemerintahannya dan mengakhiri larangan perjalanan bagi warga negara muslim yang sebelumnya telah dilarang sejak 2017.

"Jika saya mendapat kehormatan menjadi presiden, saya akan mengakhiri larangan Muslim pada hari pertama, hari pertama," ujarnya.

Joe Biden adalah Wakil Presiden Amerika mendampingi Barack Obama sebelum mengajukan diri sebagai calon presiden. Joe Biden adalah senator Delaware yang paling lama. Berbagai startegi kampanye tengah dibuat Biden dalam menghadapi lawan politiknya.

Dalam jejak pendapat secara nasional, Biden mendapat simpati yang cukup besar dibanding pesaingnya yang maju di pilpres. Keunggulan inilah yang akan dipertahankan Biden dengan berbagai kampanye yang mengutarakan pada kebijakan fleksibel. Salah satunya yakni dengan menghapus beberapa aturan yang telah dibuat Presiden Trump, dan melonggarkan muslim di Amerika Serikat. Janji tersebut akan dipenuhinya jika dirinya menjadi presiden Amerika Serikat.

Joe Biden dan Kontelasi Politik Amerika Serikat

Keterpilihan Joe Biden sebagai presiden AS ke-46 setidaknya menumbuhkan harapan bagi Umat Islam  baik di dalam maupun di luar Amerika Serikat. Padahal rakyat Amerika serikat memilih Biden bukan karena dia luar biasa. Dia menang hanya karena publik AS muak dg arogansi dan kesembronoan Trump mengurus negara, serta ketidakmampuannya menjaga posisi AS dalam konstelasi global. 

Trump secara rutin menggunakan retorika Islamofobia, memperjuangkan apa yang disebut larangan Muslim yang memblokir masuknya imigran dan pengungsi ke AS dari beberapa negara mayoritas Muslim, maupun mendukung sejumlah kebijakan federal termasuk program pengawasan yang secara tidak proporsional merugikan Muslim Amerika.

Terlihat jelas, kecenderungan warga Muslim Amerika Serikat memilih Partai Demokrat dalam Pilpres AS 2020 sangat dimanfaatkan dengan baik oleh Joe Biden lewat upaya mengedepankan kepentingan warga muslim. Jadi untuk memenangkan pertarungan politik pemilu kali ini, Joe Biden mencoba mengambil hati kaum minoritas yaitu warga Muslim dan mendulang simpati para pemimpin negeri-negeri muslim yang selama ini selalu didiskriminasikan oleh negara barat. 

Joseph R. Biden, Jr.  Atau yang dikenal dengan Joe Biden adalah antitesis dari Presiden Trump, baik secara pendirian maupun latar belakang politik. Lebih santun dalam berbicara dan lebih  ramah dengan muslim Amerika.  Terlebih lagi, Beliau adalah veteran politik nasional Amerika Serikat. Sejak 1972, Beliau sudah berkiprah dalam politik tanpa henti sampai sekarang. Walaupun demikian Biden adalah politisi  yang selama ini mendukung kebijakan-kebijakan Amerika serikat contohnya invasi militer Amerika serikat terhadap Irak. Joe Biden pun mempunyai hubungan erat dengan Israel.

Biden pun mengaku sebagai Zionis dan telah menghadiri banyak pertemuan kelompok lobi pro-Israel, seperti Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC) dan J Street. ( republika.co.id, 9/11/2020)

Terpilihnya Joe Biden sebagai presiden, tidak terlepas dari konstelasi politik Amerika. Amerika Serikat adalah negara yang tampil sebagai pemenang Perang Dunia II. Ia menjelma sebagai ultimate power tunggal sebelum akhirnya harus berhadapan langsung dengan Uni Soviet (Rusia) berikut Blok Timur sekutunya mulai dekade 1950 hingga runtuhnya komunisme (Soviet) pada tahun 1991. Dan sekarang menjadi negara utama kapitalisme global.

Pastinya, siapa pun pemenang pilpres AS, wajah politik internasional Washington sebenarnya tidak akan berubah drastis. AS sendiri memiliki ideologi yang khas, yang disebarkannya ke seluruh penjuru dunia, bahkan hampir di sebagian belahan dunia mengadopsi ideologi yang diemban oleh AS, yakni ideologi yang dikenal dengan nama kapitalisme. Tetap saja sistem kapitalisme akan tetap dijalankan oleh negara gedung putih tersebut. 

Kapitalisme adalah sebuah ideologi yang berasaskan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sistem Pemerintahannya disebut demokrasi. Sistem ekonominya disebut sistem ekonomi kapitalis yang berbasis bunga (riba). Saat ini kepemimpinan kapitalisme dipegang oleh Amerika Serikat. Kapitalisme mempunyai berbagai produk pemikiran turunan seperti: Demokrasi, nasionalisme, permissivisme (budaya serba boleh), hedonisme, kebebasan tanpa batas, feminisme, dan lain-lain. Karena yang paling berkembang dan menonjol dalam ideologi ini adalah modal (capital) maka, kapitalisme-lah yang dijadikan patokan dalam penyebarannya. 

Bila kita analisa Amerika serikat dengan   kapitalismenya sejatinya adalah penjajah.   Penjajahan Ekonomi Kapitalis lebih memudahkan AS untuk mempengaruhi Negara-negara lainnya dan mempertahankan National Interest negaranya melalui penjajahan ekonomi. Penjajahan ekonomi ini nampaknya terlihat tidak berbahaya dibandingkan dengan penjajahan kolonialisme dan imperialisme gaya lama. Namun akibat yang ditimbulkan sangat mengerikan dan sejatinya lebih berbahaya karena mengeruk kekayaan alam negeri-negeri muslim dan pencetus perang di berbagai negara.

Joe Biden hanya dipakai oleh Negera penjajahan ini untuk menyelamatkan muka Amerika serikat yang selama ini dicoreng oleh Donal Trump. Terutama setelah Trump secara serampangan dan arogan memberikan instruksi untuk menyerang pangkalan udara di Irak yang mengakibatkan, Jenderal Qossem Sulaemani beserta beberapa pengawalnya tewas. Begitu pula Trump mengklaim bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel yang menimbulkan kemarahan umat Islam. Apalagi kantong pemerintah Amerika serikat saat ini defisit.  Pada tahun 2019 APBN mereka lagi bobol karena mengalami defisit anggaran yang mencapai US $ 984 miliar atau sekitar Rp 13.000 triliun dan defisit itu juga disebabkan oleh politik Amerika yang agresif dan konfrontatif. 

Terlebih, hegemoni Amerika Serikat di dunia didasarkan pada dominasi di Asia dan Eropa, dan dominasi Negeri Paman Sam ini sepertinya akan segera berakhir. Para pengamat cenderung setuju bahwa, cepat atau lambat, “momen unipolar” akan memberi jalan bagi sistem internasional yang dihuni oleh lebih dari satu negara adidaya. Kemungkinan Rusia merebut Eropa, China menguasai perdagangan dunia, umat Islam bersatu dalam "the new caliphet" akan mengakhiri dunia unipolar Amerika serikat seperti yang kita kenal saat ini.

Seharusnya kita tidak berharap kepada Joe Biden akan membawa perubahan kepada Umat Islam. Karena Al-Quran telah mengingatkan umat Islam tentang karakter musuh-musuh Islam yang tidak akan berhenti membenci umat Islam dan ajarannya. Untuk itu umat Islam harus bersikap memahami hal ini  

Allah SWT berfirman :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا بِطَانَةً مِّنۡ دُوۡنِكُمۡ لَا يَاۡلُوۡنَكُمۡ خَبَالًا ؕ وَدُّوۡا مَا عَنِتُّمۡ‌ۚ قَدۡ بَدَتِ الۡبَغۡضَآءُ مِنۡ اَفۡوَاهِهِمۡ  ۖۚ وَمَا تُخۡفِىۡ صُدُوۡرُهُمۡ اَكۡبَرُ‌ؕ قَدۡ بَيَّنَّا لَـكُمُ الۡاٰيٰتِ‌ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti." (TQS. Ali Imran ayat 118).

Perlu kita sadari bahwa presiden terpilih  AS Joe Biden tidak akan mengubah kebijakan pemerintahan AS terhadap umat Islam. Joe Biden hanya mengambil hati warga muslim Amerika serikat untuk memilihnya. Mengutip hadist nabi Muhammad Saw seakan-akan pro Islam. Di sisi lain,  Joe Biden mengaku dirinya mempunyai hubungan erat Israel musuh Islam. Inilah karakter sejati pemimpin yang dihasilkan oleh demokrasi. Dalam sistem demokrasi, politik adalah kepentingan. Tidak ada kawan abadi dalam berpolitik. Demokrasi hanya memberikan pemimpin janji manis. Umat Islam hanya dijadikan batu loncatan untuk meraih kekuasaan. Inilah wajah demokrasi buatan manusia. Masihkah kita berharap dengan demokrasi?

Sesungguhnya di tengah ketidakmampuan sistem kapitalisme sekuler menyelamatkan manusia dari pandemi virus covid-19 dan diikuti berbagai kerusakan di muka bumi, seharusnya makin menyadarkan umat Islam bahwa saat ini kita membutuhkan sistem baru yang tidak pernah mengkamuflase umat Islam. Sistem yang tidak menipu umat Islam dengan kampanye manis mengutip hadist Nabi Saw. seperti Joe Biden. Yaitu Khilafah Islam.[]

Oleh: Alin FM, Praktisi Multimedia dan Penulis

Posting Komentar

0 Komentar