Bela Nabi SAW, Boikot Produk, Boikot Ide



Ramai seruan memboikot produk-produk yang berasal dari Perancis oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, tanpa terkecuali, kaum muslim yang ada di Indonesia yang beberapa waktu lalu, juga melakukan aksi mengajak untuk memboikot produk-produk asal Perancis. Dilansir dari Kompas.com (31/10), Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan imbauan kepada umat Islam di Indonesia untuk memboikot segala produk yang berasal dari Perancis. Masih di laman yang sama, MUI juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk menekan dan mengeluarkan peringatan keras kepada Perancis dengan cara menarik sementara Duta besar Republik Indonesia yang ada di Paris.

Seruan tersebut merupakan reaksi dari kemarahan kaum muslim atas kata-kata Presiden Emmanuel Macron terhadap kematian seorang guru "teroris Islam". Selain itu Macron juga mengatakan bahwa, menggambar Nabi Muhammad SAW sebagai kartun bukanlah hal yang salah (Tribunnews.com, 28/10/2020). Presiden Perancis itu, berargumen bahwa negaranya sangat mendukung kebebasan berekspresi rakyatnya. Jadi tak masalah bagi negara mereka mau menggambar karikatur apapun, termasuk karikatur Nabi Muhammad SAW.. Dari sini,  nampak jelas kebencian negara tersebut terhadap Islam. Padahal, dalam Al-Qur'an telah jelas ancaman Allah SWT kepada mereka yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan.” (TQS al-Ahzab [33]: 57)

Melihat aksi pemboikotan tersebut, menandakan bahwa sesungguhnya dalam diri kaum muslim terdapat cinta yang begitu besar terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW dan juga masih kuatnya perasaan Islam yang melekat di hati kaum muslim. Namun, sekalipun umat Islam satu suara dalam upaya melakukan pemboikotan terhadap produk-produk yang berasal dari Perancis tidak akan bisa menghentikan secara total penghinaan atas Nabi Muhammad SAW, bahkan akan terus berulang mengingat kejadian serupa sering terjadi. Apalagi harapan yang ada pada kaum muslim hanyalah sebatas pada permintaan maaf dari Presiden Emmanuel Macron atas penghinaan yang dilakukannya pada Nabi SAW dan kaum Muslim. 

Bahkan, pendapat Direktur Forecast Global di Economist Intelligence Unit, Agathe Demarais, yang mengatakan bahwa, boikot itu hanya akan berlangsung singkat jika mengacu pada peristiwa yang terjadi di tahun 2015. Saat itu, protes serupa terjadi menyusul adanya pembunuhan 12 orang di majalah satir Charlie Hebdo di Paris atas publikasi kartun yang sama.(CNBC.Indonesia.com (27/10/2020).  

Jika dianalisis, sukelarisme-liberasime dan demokrasi-kapitalisme adalah biang dari segalanya, ide-ide kufur tersebut sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, sekalipun dalam hal melecehkan agama tertentu. Ide-ide kufur tersebut dihasilkan dari kejeniusan akal manusia, namun, sekalipun manusia jenius, tetap saja fitrahnya adalah lemah, terbatas, dan serba kurang. Sehingga, jika manusia berupaya membuat ide-ide atau aturan kehidupan sendiri maka akan menghasilkan perpecahan, perselisihan, pertengkaran, serta kerusakan yang besar bagi manusia itu sendiri. Sebab, Allah SWT sebagai pencipta sekaligus pengatur alam semesta ini sesungguhnya telah menciptakan manusia lengkap dengan pedoman yang mengatur kehidupan ini, baik yang tertuang dalam Kitabullah maupun As-Sunnah.

Maka, ketika kaum muslim menginginkan agar tidak ada lagi penghinaan terhadap Nabi SAW dan agama Islam, pemboikotan harusnya bukan hanya terbatas pada produk-produknya saja. Akan tetapi, harus juga diiringi dengan pemboikotan terhadap ide-ide kufurnya, yakni sekulerisme-liberalisme dan demokrasi-kapitalisme. Karena, ide-ide kufur tersebutlah yang mem-backing seseorang bisa dengan mudah dan bebas menghina agama lain. Dan sampai kapanpun mereka tidak akan pernah ridha terhadap kaum muslim. Allah SWT berfirman yang artinya :

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Melihat permasalahan yang sama terus berulang kali terjadi, maka perlu adanya perisai bagi kaum muslim. Perisai yang bisa melindungi kehormatan kaum muslim, perisai yang menerapkan nilai-nilai keadilan bukan karena hawa nafsu. 

Perisai tersebut adalah Khilafah Islamiyyah, yang akan menerapkan ideologi Islam sebagai sistem atau dasar negaranya, tanpa mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian dari hukum-hukum yang tertuang dalam Kitabullah maupun As-Sunnah. Bahkan, ketika ideologi Islam diterapkan sebagai dasar negara, maka, akan menghasilkan delapan kemaslahatan, diantaranya adalah terpeliharanya agama, terpeliharanya jiwa, terpeliharanya akal, terpeliharanya harta, terpeliharanya keturunan, terpeliharanya kehormatan, terpeliharanya keamanan, dan terpeliharanya negara. 

Sehingga, tidak mudah bagi seseorang ataupun bagi satu negara bisa dengan mudahnya melecehkan agama Islam ataupun agama lainnya. Dan hukum Allah SWT adalah hukum yang tegak di atas keadilan. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Begitu mulia aturan yang berasal dari sang pencipta dan pengatur kehidupan ini, maka mengapa kita tidak mengambilnya secara kaffah sebagai aturan kehidupan kita? Wallahu'alam bishowab.[]


Oleh: Fadila (Aktivis Muslimah Papua Barat)

Posting Komentar

0 Komentar