AS Berganti Presiden, Akankah Perdamaian Dunia Tercipta?



TintaSiyasi.com--Amerika Serikat (AS) baru saja selesai melaksanakan Pemilihan Presiden (Pilpres). Hasil perolehan suara terbanyak diperoleh Joe Biden, mengalahkan petahanan Donald Trump. 

Ucapan selamat pun berdatangan dari berbagai kepala negara dan tokoh masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara adidaya yang tak bisa dipungkiri pengaruhnya pada tatanan kehidupan internasional, termasuk dalam persoalan perdamaian terhadap negara yang berada dalam konflik. 

Dilansir dari, REPUBLIKA.co.id, 8/11/2020. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Marsudi Syuhud berharap Joe Biden sebagai pemenang dalam Pemilu Amerika Serikat ke depannya bisa membangun kerja sama dengan Indonesia untuk menciptakan perdamaian dunia, khususnya di negara-negara Islam yang dilanda konflik.

Harapan itu bukan tanpa alasan, rekam jejak pergerakan politik Biden sebagai pemimpin partai Demokrat. Disinyalir memiliki kebijakan yang sama dengan pendahulunya yaitu Mantan Presiden Amerika Serikat, Barak Obama sebagai sosok berpengaruh saat itu dalam Partai Demokrat.

Mungkinkah Perdamaian Terwujud? 

Kemenangan Joe Biden tak terlepas dari bayang-bayang pemerintahan Obama, bukan hanya berasal dari partai politik yang sama tetapi juga jabatan Biden sebelumnya merupakan Wakil Presiden saat Barack Obama menjabat.

Setidaknya ada tiga bukti kegagalan yang menjadi doktrin Obama dalam mengatasi kebijakan luar negeri, diantaranya:

Pertama, di Suriah, para pemberontak yang dilatih AS meyerahkan pasokan dan amunisi kepada kelompok perlawanan yang memiliki hubungan dengan al-Qaidah.

Kedua, di Irak, pertempuran antara pasukan pemerintah yang didukung AS dan ISIS menemui jalan buntu.

Ketiga, di Afghanistan, untuk kali pertama sejak disingkirkan pada 2001 Taliban berhasil merebut satu ibukota provinsi.

Maka, perdamaian yang diharapkan tampaknya tak bisa juga diwujudkan dalam pemerintahan Obama. Konflik diberbagai negara masih menjadi pembahasan dunia internasional, seperti konflik di Suriah, Irak, dll. 

Sebab Gagalnya Perdamaian Dunia

Untuk menjalankan suatu pemerintahan negara, tak terlepas dari pengaruh ideologi yang diadopsi. Sebagai negara asal sistem kapitalisme, AS senantiasa memiliki peranan penting dalam suasana perpolitikan baik dalam negeri maupun hubungan dengan luar negeri. 

Ideologi kapitalisme memiliki fikroh (konsep) yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) ke seluruh dunia. Menjadikan pandangan hidupnya sebagai pemikiran yang memimpin dunia.

Adapun thariqah (metode) yang diambil oleh ideologi Kapitalisme untuk mengimplementasikan fikrah-nya, adalah dengan penjajahan (imperialisme), yaitu dengan pemaksaan dominasi politik, militer, budaya, dan ekonomi atas bangsa-bangsa yang dikuasai untuk dieksploitasi. 
Thariqah ini, yaitu penjajahan, bersifat tetap dan tidak berubah-ubah meskipun terjadi perubahan rejim-rejim kekekuasaan dan pergantian undang-undang. 

Mengenai perubahan uslub penjajahan, telah dikenal apa yang dinamakan “penjajahan gaya lama” yang terpusat pada dominasi militer. Kemudian berkembang menjadi apa yang dinamakan “penjajahan gaya baru (neo imperialisme)” yang bertumpu pada hal-hal lain. AS bertumpu pada aspek ekonomi, semisal utang luar negeri dan apa yang dinamakan “rencana pembangunan”, para ahli (expert), dan lain-lain, di samping tekanan politik dan embargo-embargo. AS menggunakan cara dominasi militer atas berbagai bangsa dan umat untuk menundukkan mereka di bawah pengaruh dan kehendaknya. 

Maka, berharap terwujudnya perdamaian dunia pada sistem kapitalisme merupakan sesuatu yang tak akan mungkin terjadi. Meninggalkan hegemoni kapitalisme dalam menciptakan perdamaian dunia harus dikubur dalam-dalam. 

Hanya Islam Berikan Kedamaian Dunia
Sebelum Islam datang suku Aus dan Khazraj di Yastrib itu memiliki tali persaudaran. Namun, karena suatu hal konflik perselisihan diantara kedua suku tersebut pun tidak bisa diatasi. Bahkan perang saudara tak bisa dihindari, hal itu berlangsung lama.  

Berkat dakwah Rasulullah kala itu untuk mengajak kaum khazraj pada agama Allah yang ketika itu sedang berada di Mekkah, sehingga mereka ridlo untuk memeluk agama Islam. 

Hingga Rasulullah mengutus Mus'ab bin Umair untuk dakwah di kota Yatsrib, pada saat itu pula pemimpinnya Sa'ad bin Muadz dan penduduknya menerima dakwah Islam. Dan mereka melupakan konflik yang terjadi diantara mereka. 

Rasulullah dan para sahabat pun hijrah ke Yatsrib atau Madinah, dengan mudah Rasulullah mempersatukan mereka kaum Anshor dan kaum Muhajirin di Mekkah. Walaupun mereka berasal dari suku yang berbeda, tak pernah kenal, dan berhubungan. Namun mereka dipersatukan oleh ikatan yang kuat dan tulus yaitu ikatan akidah Islam. 

Semua itu adalah gambaran tatkala Islam menjadi sebuah Ideologi suatu negara, dimana saat itu Madinah yang merupakan titik awal Islam diterapkan secara menyeluruh. Rasulullah sebagai Khalifah atau kepala negara dan sistem kenegaraan di Madinah bernama Khilafah Islamiyah. 

Perdamaian dunia yang tergambar dari perjuangan dakwah Islam tanpa meneteskan sedikitpun darah apalagi nyawa manusia. Patut menjadikan kerinduan seluruh umat manusia untuk mengadopsi Islam, menerapkan seluruh hukum-hukum yang telah Allah turunkan melalui Alquran dan As-Sunnah. 

Sebagaimana firman Allah Swt. 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali 'Imran [3]: 103).[]

Oleh: Sri Astuti Am.Keb (Aktivis Muslimah Peduli Negeri) 

Posting Komentar

0 Komentar