Apresiasi Bantuan Cina, Membantu atau Mempersulit Keadaan?



Baru-baru ini Bupati Deli Serdang HM. Ali Yusuf Siregar, mengatakan pihaknya sangat bersyukur atas bantuan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Rakyat China (Konjen China) di Medan.

Apalagi konsulat kabarnya menyerahkan bantuan yang beragam kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang berupa sembako sebanyak 300 paket. 

"Kebersamaan seperti ini sangat indah dan menunjukkan adanya strong partnership, terlebih dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19," ungkapnya dalam acara serah terima 300 paket sembako yang diadakan melalui konferensi video di Aula Cendana. lantai I Kantor Bupati Deli Serdang, Rabu (22/10/2020).

Bersama dengan itu Ali juga menyerukan seluruh pihak untuk bersama-sama melibatkan diri dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Kita harus senantiasa membangun optimisme karena hanya dengan jalan dan cara inilah kita akan berhasil memenangkan peperangan melawan pandemi Covid-19," ujarnya seperti keterangan tertulisnya.
Sembari  mengucapkan terimakasih kepada konjen China atas bantuannya.

Sementara, Konsul untuk Konjen China Qiu Weiwei menyatakan, negaranya dan Indonesia adalah tetangga yang bersahabat.

Ia menuturkan bahwa sejak pandemi, Chin dan Indonesia saling membantu satu sama lain serta terus memperkuat kerjasama dalam upaya bersama melawan pandemi dan pemulihan ekonomi.

Konsul untuk Konjen China Qiu Weiwei juga mengatakan agar bantuan yang diberikan bisa bermanfaat bagi warga Deli Serdang dan berkontribusi dalam kegiatan penanganan pandemi di Indonesia," tuturnya.

Saat pandemi Covid-19 yang belum melandai kerjasama antar dua negara ini nampaknya semakin di eratkan. Hal tersebut terbukti banyaknya perjanjian kerjasama yang terjadi, padahal faktanya ekonomi kian merosot. Bukankah perjanjian yang terjalin semakin memperparah keadaan.

Hal tersebut tersiar ketika Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan sekaligus sebagai utusan khusus presiden,  bertemu dengan Anggota Dewan Negara yang sekaligus merangkap sebagai menteri Luar Negeri China, Wang Yi.

Keduanya bertukar pendapat dan mencapai konsensus dalam hal kerjasama untuk memerangi pandemi dan pemulihan ekonomi.

Konsul untuk Konjen China juga mengungkapkan, Deli Serdang sebagai kabupaten terbesar di propinsi Sumatera Utara memiliki industri yang melimpah ruah dan ruang pengembangan yang menguntungkan.

Menganggap kabupaten Deli Serdang telah lama memelihara hubungan kerjasama yang baik dengan China dibidang konstruksi infrastruktur, pertanian, dan kerajinan tangan. Dan bersedia memperkuat hubungan kerjasama dengan Deli Serdang, dengan mendorong kerjasama yang pragmatis antara kedua pihak. Sekaligus mendorong pengembangan hubungan persahabatan yang mendalam. (Tribunmedan.com, Kamis, 22/1/0/2020).

Sudah menjadi tabiat sekuler kapitalisme hubungan yang terjalin antar negara yang ada berdasarkan asas manfaat belaka. Sehingga bantuan yang menyilaukan mata menutupi kedok asli sang pemberi bantuan. 

Apalagi bantuan yang diterima faktanya tidak sepenuhnya sampai kepada masyarakat. Di lapangan  membuktikan jika masyarakat masih banyak yang mengeluh atas kesulitan yang dihadapi selama pandemi.  Sebelum pandemi saja banyak rakyat yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan primer. Apalagi sekunder dan tersier? Hanya saja hal tersebut banyak yang tidak tersentuh pemerintah.

Belum lagi bantuan yang diberikan berujung kepada Sumber Daya Alam (SDA) yang ada menjadi incaran para kapitalis yang rakus.

Sudah banyaknya terbukti kekayaan alam negeri ini terkuras bahkan terjual dengan harga yang murah demi kepentingan sang investasi baik Asing maupun Aseng. Seakan tidak memperdulikan aspirasi masyarakat. Dimana kekayaan alam sudah seharusnya dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kepentingan masyarakat.

Jadi tidak sepatutnya bantuan tersebut menjadi sesuatu yang dibanggakan. Sementara rakyat sendiri kurang diperhatikan. Rakyat harus berjuang sendiri mengatasi kesulitan hidup di masa pandemi.

Ketidakberdayaan pemerintah dalam mengatasi pandemi hingga berujung datangnya berbagai bantuan yang sebenarnya perlu diwaspadai bantuan tersebut atas motif apa? Sehingga tidak menjadi beban negara dalam upaya politik balas budi suatu saat nanti.

Istilah "tidak ada makan siang yang gratis" seharusnya jadi bahan renungan untuk tidak ceroboh dalam menerima bantuan meskipun terkesan tanpa pamrih. Namun asas manfaat yang lahir dari sistem sekuler memungkinkan ada ambisi dibalik bantuan yang diberikan.

Lagipula Islam melarang hal tersebut. Kesalahan politik fatal yang sering terjadi pada umat Islam umumnya meminta bantuan asing dari negara-negara imperialis. Karena meminta bantuan dari negara-negara imperialis dalam bentuk apapun merupakan bunuh diri politik. Bunuh diri yang menghancurkan umat Islam sendiri. Karena pengalaman tersebut telah tertoreh dalam sejarah umat Islam.

Apalagi bantuan ekonomi berupa hutang luar negeri telah digunakan oleh Barat sebagai alat intervensi kepentingan mereka dalam dunia Islam.

Dengan berhutang juga membuat negara bergantung terhadap asing. Apalagi bunga yang mencekik sehingga sulit keluar dari jeratan hutang sehingga mau tidak mau harus menjadi pembebek terhadap aturan asing. Karena inilah yang memang dikehendaki asing. Dengan ideologi kapitalisme yang mereka anut berintikan al isti'mar (penjajahan,). Dengan segala cara dilakukan demi merealisasikan  kepentingan mereka walau dengan merampok negara lain. Atau menguras sumber daya alam yang menjadi incaran para kapitalis liberal yang rakus dan serakah.

Untuk itu umat Islam harus benar-benar menolak campur tangan asing dalam bentuk apapun. Dan seharusnya Umat Islam bersedia menjadikan negara nya yang independen yaitu negara Khilafah. Karena menurut Al-'Allamah Syaikh 'Abd al-Qadim Zallum menyatakan bahwa agar berhasil menegakkan Khilafah harus memenuhi empat syarat:

1. Kekuasaan wilayah tesebut bersifat independen. Dan hanya bersandar kepada kaum muslim atau tidak dibawah cengkeraman negara asing/kafir.
2. Keamanan kaum muslim diwilayah tersebut dalam keamanan Islam dan bukan keamanan kufur. Sehingga kekuatan kaum muslim sebagai kekuatan Islam yang murni.
3. Menerapkan Islam secara total, revolusioner dan menyeluruh.
4. Siap mengemban dakwah Islam.

Atas dasar empat syarat tersebut menjadikan umat Islam bisa dapat bangkit dan terbebas dari penjajahan. Sehingga kedaulatan negara dapat selalu terjaga.

Sehingga ketika khilafah benar-benar terwujud pihak imperialis tidak mudah menggoyahkan ketangguhan sebuah negara khilafah. Dengan kedok bantuan atas  dasar nilai kemanusiaan. Padahal faktanya mereka adalah penjahat penjajah yang tangannya telah terkotori dengan kebiadaban mereka menghabisi kaum.muslim di negeri kaum muslim itu sendiri seperti Palestina, Myanmar, Uighur, Suriah dan banyak lagi yang lain.

Maka sudah selayaknya kita malu dan bukan bangga atas bantuan yang diberikan pihak asing dan beralih kepada seruan kepada sistem Islam yaitu khilafah. Karena pada dasarnya bantuan yang diberikan  merupakan kedok untuk menutupi tabiat asli mereka sebagai penjajah. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Anja Sriwahyuni

Posting Komentar

0 Komentar