TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ancaman Sana-Sini, Suara Aspirasi Ditekan Mati



Isu tentang Undang-Undang (UU) Omnibus Law memang sedang ramai diperbincangkan oleh media, sejak tersiar kabar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia resmi mensahkan UU ini, ribuan masyakarat baik dari kalangan kaum buruh, mahasiswa bahkan pelajar secara massif turun ke jalan untuk melakukan aksi penolakan terkait UU tersebut. Pasalnya UU Omnibus Law ini dinilai tidak berpihak kepada rakyat terutama para buruh, selain itu masyarakat termasuk para pengamat politik menilai pemerintah terlalu terburu-buru, tidak transapan, bahkan mengenyampingkan pendapat mayoritas masyarakat mengenai UU ini. 

Ditengah panasnya aksi demo yang dilakukan oleh masyarakat dari berbagai macam kalangan tersebut, petugas keamanan Negara yaitu Kepolisian Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan baru untuk memberikan “efek jera” terutama kepada para pelajar yang terbukti melanggar hukum saat sedang berdemonstari berupa mempersulit pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), dimana SKCK ini merupakan prasyarat yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat ketika melamar pekerjaan di sebuah sektor formal. 

Kebijakan ini tentu menjadi kontroversi dan menambah suasana panas di masyarakat, banyak dari kalangan masyarakat menilai pihak kepolisian tidak berpihak pada masyarakat pribumi yang sedang menyuarakan hak-hak mereka. Seperti dilansir dari bbc.com Komisioner KPAI Jasra Putra, menyebut kebijakan tersebut akan mempersulit para pelajar bekerja di sektor formal, dan semestinya ada upaya lain yang diberikan untuk memberikan efek jera kepada para pelajar yang melakukan demonstrasi. 

Senada dengan Komisioner KPAI Jasra Putra, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar, menyatakan kebijakan dari kepolisian “kurang tepat” dan justru memberi stigma dan lebelisasi pada anak. Nahar juga mengungkapkan bahwa tiap anak memiliki "hak partisipasi" untuk menyampaikan pendapatnya. (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54505759)

Sementara itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada mahasiswa melalu pimpinan perguruan tinggi agar mahasiswa tidak melakukan aksi demonstrasi tolak omnibus law ini dengan alasan untuk menjaga kesehatan para mahasiswa karena pandemi belum berakhir. Kemendikbud menghimbau agar mahasiswa melakukan kajian-kajian akademis objektif atas UU tersebut. Serta memberikan aspirasinya melalui mekanisme yang ada dengan cara-cara yang santun. (https://news.detik.com/berita/d-5208323/kemendikbud-terbitkan-surat-edaran-imbau-mahasiswa-tak-demo-omnibus-law)

Para pemuda baik dari kalangan pelajar maupun mahasiswa memang memiliki potensi yang luar biasa, tercatat dalam sejarah pemuda kerap kali melakukan perubahan-perubahan besar serta revolusioner untuk kepentingan khalayak umum. Namun sayang, upaya-upaya yang dilakukan para pemuda saat ini terkesan ditekan oleh pemerintah. Pemerintah kerap kali memberikan kebijakan-kebijakan diberbagai sector yang semakin menjauhkan pemuda dari jati dirinya sebagai agent of change. 

Para pemuda baik pelajar maupun mahasiswa kerap kali disodorkan dengan tugas-tugas yang semakin menjauhkan mereka dari realitas yang tengah terjadi di masyarakat. Sementara itu, mereka yang mengeluarkan aspirasinya yaitu untuk menentang adanya regulasi Kapitalistik yang sangat menindas masyakarat selama puluhan tahun justru diberikan stigma negatif bahkan sanksi hukum tegas. 

Inilah realitas hukum yang sedang kita hadapi saat ini, negeri yang menganut sistem Demokrasi dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat,dan untuk rakyat rupanya memang hanya sebatas slogan yang tertulis dalam buku-buku pelajaran. Tak sampai disitu, kebijakan ekonomi yang Kapitalistik semakin memperjelas bahwa negeri kita dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa ini tengah dijajah oleh para korporasi.

Hal ini tentu berbeda dalam Islam, dalam Islam pemuda dibentuk sebagai sosok yang taat kepada penciptanya, bekepribadian Islam, dan menjadi sosok yang cerdas serta pejuang yang tangguh. Ia tidak akan segan-segan menentang kemunkaran yang menyebabkan kekacuan ditengah masykarat, sekalipun kemunkaran tersebut dilakukan oleh para penguasa negerinya. Dan yang terpenting ia lakukan semua itu hanya karena alasan yang satu, yaitu ridho dari Rabbnya. Inilah yang telah hilang dalam jiwa pemuda saat ini, mereka melakukan demonstrasi tanpa keimanan yang kokoh, bermodalkan semangat muda yang menggebu-gebu, sehingga aksi-aksi yang mereka lakukan kerap kali mudah dipatahkan karena penguasa bisa membaca gerak-gerik mereka.

Dalam Islam, akan memberdayakan peran pemuda sebagai agent of change tanpa disetir oleh pihak asing, sehingga selama menempuh pendidikan yang terbentuk dalam dirinya bukan untuk mengejar posisi yang enak dalam pekerjaan, melainkan pure menuntut ilmu yang nantinya dari ilmu tersebut akan bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Begitulah Islam dan khilafah (negara dalam Islam) mengarahkan potensi sesuai fitrah penciptaan yakni untuk mengabdi pada Sang Khaliq dan memberi manfaat bagi umat. Wallahua’lam bisshawab.[]

Oleh: Rahmawati (Mahasiswi)

Posting Komentar

0 Komentar