Analis Senior PKAD Bongkar Penyebab Politik Identitas di Amerika



TintaSiyasi.com-- Menyikapi pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono yang mengungkapkan Joe Biden akan akhiri politik di Amerika Serikat (AS), Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Hanif Kristianto membongkar penyebab terjadinya politik identitas di AS.

"Nah, karenanya akar masalahnya itu jelas, demokrasi yang berasas dari kebebasan serta meninggalkan aturan agama dari kehidupan," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Selasa (10/11/2020).

Menurutnya, politik identitas ini lahir dari sebuah ideologi dan sistem tertentu. "Karenanya kalau di Amerika jelas politik identitas itu adalah demokrasi," tegasnya.

Menurutnya, akibat dari politik identitas adalah merasa lebih tinggi atau sombong dari kelompok lain dan hal ini berpotensi menindas kelompok lain.

"Adapun demokrasi itu menjunjung kebebasan dan siapa pun boleh menentukan suara. Itu memang nyata hanya pada teori, bukan praktik. Seringkali ini memunculkan fenomena baru, yakni ada yang di tertindas dari politik identitas ini," ungkapnya.

Jika ia mengamati yang berkuasa di AS adalah kalangan kulit putih yang identitas mereka yaitu menjunjung tinggi kebebasan, HAM (Hak Asasi Manusia), kebebasan berpendapat, dan sebagainya. Sehingga menurutnya, atas dasar kebebasan ini mereka menindas kelompok lain. "Dan kita paham bahwa Amerika adalah dedengkotnya demokrasi," imbuhnya.


Sistem Politik Islam Mampu Akhiri Politik Identitas

Ia mengungkapkan, hanya dengan sistem Islam politik identitas dapat diakhiri. "Kalau di dalam Islam semua orang dipandang sama, baik dalam hukum ataupun yang lain. Orang yang terbaik di antara manusia itu kan apa? Yang baik takwanya," ujarnya.

Menurutnya, ciri dari karakteristik sistem politik Islam adalah mengurusi urusan umat dari dalam negeri dan luar negeri. "Serta penerapan Islam secara menyeluruh, itu identitasnya," imbuhnya.

Ia menegaskan, muncul atau tidaknya politik identitas tergantung dari ideologi dan sistem yang menaunginya. 

"Kalau identitas itu buruk, tentu kita harus tolak. Sebagaimana juga yang dimunculkan oleh sistem politik demokrasi liberal dan juga sistem politik dalam sosialis komunis," paparnya.

Ia menjelaskan, dalam sistem demokrasi liberal atau sosialis komunis, tidak akan bisa mencegah munculnya politik identitas.

"Nah, kalau kita mengacu pada kedua (demokrasi liberal dan sosialis komunis) sistem ini. Demokrasi liberal itu jelas ini tidak akan pernah bisa mencegah kemunculan politik identitas, sebab identitas ini menjadi penting bagi kelompok pengusung demokrasi dan liberalisme ini," tandasnya.

Begitu juga dengan sistem sosialisme komunis, menurutnya, tidak akan mampu menghapus politik identitas. "Nah, sama juga dengan komunis dan sosialisme, nah ini beda dengan model sistem politik Islam," pungkasnya. [] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar