Ajengan Yuana Ryan Tresna Beberkan Kerangka Pemahaman Hukuman Bagi Penghina Nabi SAW




TintaSiyasi.com-- Demi menjawab polemik hukuman penghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW), Ajengan Yuana Ryan Tresna mengungkapkan kerangka pemahaman mengenai hukuman penghina Nabi SAW.

Berdasarkan mengkaji (muthala’ah) kitab Al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa bagian ke-4 dalam bab 1 dan 2, ia menjelaskan sebagai berikut.

Pertama, keagungan dan kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala. "Hal itu dijelaskan dalam al-Quran dan banyak riwayat," tulisnya dalam akun Facebook Yuana Ryan Tresna, Kamis (5/11/2020).

Kedua, umat Islam wajib menunaikan hak-hak Rasulullah, di antaranya mengimani, mentaati, meneladani, mencintai, memuliakan, dan bershalawat kepadanya.

Ketiga, menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diancam dengan azab yang pedih dan hukumnya adalah haram.

Keempat, hukum bagi orang yang secara sengaja menghina, mencaci, dan yang menganggap Nabi ada kekurangan adalah hukuman mati (wajib dibunuh). "Perkara ini sudah termasuk ijmak. Tidak ada perbedaan di kalangan ulama," tegasnya. 

Kelima, dalil terkait hukuman mati bagi penghina Nabi adalah Al-Qur'an, Al-hadis dan ijma sahabat.

Keenam, alasan Nabi pernah memaafkan orang Yahudi yang menghinanya sebagai berikut. "Pertama, itu terjadi pada awal-awal dakwah Islam dengan motif dakwah kepada mereka. Kedua, pihak yang berhak memaafkan adalah Rasulullah sendiri (pihak yang dizalimi), bukan orang lain, maka umatnya tidak punya hak mewakili Rasulullah untuk memberi maaf. Ketiga, bagi umatnya, penghinaan pada Rasulullah adalah penghinaan pada Islam bahkan penghinaan kepada Allah, karena Rasulullah representasi mutlak Islam itu sendiri. Maka hukum mati harus ditegakkan apa adanya," bebernya.

Ketujuh, hukuman bagi yang menghina Nabi secara tidak secara sengaja (langsung), yakni hanya lelucon atau meremehkan, maka tetap hukumannya adalah dihukum mati. "Berbeda halnya bagi mereka yang dipaksa melakukan penghinaan, sedangkan hatinya tetap beriman, maka mereka lepas dari hukuman," sanggahnya.

Kedelapan, hukuman bagi yang diduga menghina Nabi dengan ungkapan yang samar dan multitafsir, para ulama berbeda pendapat, antara menegakkan hukuman mati atasnya, atau dengan membiarkannya hidup. Menurutnya, dalam hal ini perlu pembuktian di pengadilan.

Kesembilan, jika pelakunya orang kafir harbi, maka kepadanya bukan hanya terkena hukum bagi penghina Nabi, namun lebih dari pada itu, harus ditegakkan hukum perang, karena hubungan dengan mereka adalah perang (jihad). Menurutnya, negara Islam harus mengumumkan perang (jihad) kepada kafir harbi penghina Rasulullah.

Kesepuluh, jika pelakunya kafir dzimmi, maka ditegakkan hukum mati karena atas mereka sudah tidak ada lagi dzimmah (perlindungan). "Jadi mereka dibunuh karena kekafiran mereka. Apalagi, status dzimmah tidak menghalangi ditegakkannya hadd atas mereka," terangnya.

Kesebelas, jika pelakunya adalah orang Muslim, maka mereka juga dijatuhi hukuman mati. "Namun, para ulama berbeda pendapat apakah karena termasuk pelanggaran atas hadd atau karena kekufuran (murtad). Jika termasuk pelanggaran salah satu hudud Allah, maka pertaubatannya tidak diterima. Ini pendapat Malikiyyah. Namun jika dihukumi murtad (riddah), maka diberlakukan hukuman mati sebagai orang murtad dan pertaubatannya diterima. Ini pendapat Syafi’iyyah," bebernya. 

Keduabelas, hukuman kepada penghina Nabi bisa ditegakkan oleh individu tanpa harus menunggu khilafah, kecuali pada tiga keadaan sebagai berikut. "Pertama, pada konteks hukuman mati atas pelaku muslim yang dihukumi murtad (dalam madzhab Syafi’i diterima pertaubatannya), maka harus ada qadhi  (hakim) atau khalifah. Artinya, jika ditetapkan hukuman karena melanggar hadd (pendapat jumhur), maka bisa langsung dieksekusi. Kedua, pada keadaan hukuman bagi orang yang samar/multitafsir dalam ungkapannya yang diduga menghina Rasulullah, maka harus ada qadhi (hakim) (yang diangkat oleh khalifah/imam) dalam melakukan pembuktian dan eksekusi. Ketiga, pada keadaan memobiliasi jihad (futuhat) kepada negara kafir harbi," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas


Nb: video kajian: https://www.youtube.com/watch?v=OlQZYbUlj2Q dan berkas

Posting Komentar

0 Komentar