+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Ahlan wa Sahlan Ya Cucu Nabi SAW


Kabar menggemparkan datang dari salah satu tokoh ulama fenonemal negeri ini. Siapa tak kenal Imam Besar Habib Rizieq Shihab (IBHRS). Selasa (10/11) kemarin tokoh yang banyak disegani sekaligus dikagumi dan dihormati tersebut akhirnya kembali ke tanah air setelah tiga tahun lebih  bermukim di tanah haram Mekah Al Mukarramah. Kepulangannya terang saja dinantikan oleh banyak orang terkhusus jama'ahnya. Tak heran jika terjadi penumpukan massa FPI di terminal penjemputan Bandara Soekarno Hatta yang hendak menyambut Sang imam besar. 

Pro dan kontra pun bergulir terkait peristiwa ini. Jauh-jauh hari sebelumnya Mabes Polri menyebut belum mendapatkan informasi mengenai rencana kepulangan Rizieq Shihab. Namun polisi memastikan tidak menghalangi kepulangannya. Tak hanya itu, polisi juga memastikan tengah melakukan koordinasi terkait sejumlah kasus yang menjerat Rizieq Shihab. 

Kuasa Hukum Rizieq Shihab, Sugito Atmo Prawiro, mempertanyakan sikap kepolisian yang ingin membuka kembali sejumlah kasus hukum yang menyeret nama pimpinan Front Pembela Islam tersebut. Menurutnya, dua kasus hukum yang menjadikan Rizieq sebagai tersangka sudah dihentikan atau SP 3. Selain itu, pernyataan polisi tersebut menurutnya pula hanya untuk menekan posisi Rizieq Shihab yang berencana kembali ke Indonesia. Diapun memastikan, Rizieq Shihab dan seluruh penasihat hukum siap menghadapi persoalan hukum yang akan dibuka. (Kompas.tv, 06/11/2020) 

Meski demikian, kepulangan HRS ke Tanah Air disinyalir mendapatkan restu dari pemerintahan Joko Widodo-KH Maruf Amin. Hal tersebut disampaikan Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Prof Mahfud MD. Pernyataan tersebut terekam dan diunggah uleng oleh akun resmi Front Pembela Islam (FPI) @DPPFPI_ID; pada Senin (9/11/2020). Dalam video tersebut, Mahfud MD menyampaikan kepulangan Habib Rizieq Shihab pada pagi ini merupakan hak warga negara. (Wartakota.tribunnews.com, 10/11/2020) 

Terlepas dari berbagai bentuk pro dan kontra kepulangan IBHRS, euforia penyambutan beliau menunjukkan kepada kita beberapa fakta tak terbantahkan, yaitu:

Pertama, kerinduan umat akan pemimpin yang kharismatik lagi shaleh nampak tak terbendung lagi. Hal ini dibuktikan dengan lautan manusia yang menyambut kedatangan sosok IBHRS. Dorongan apa lagi yang mampu menggerakkan kurang lebih tiga juta manusia jika bukan karena kerinduan mendalam akan pemimpin mereka? 

Kedua, selain faktor kerinduan, rupanya faktor kecintaan akan ulama masih mengakar kuat dalam diri umat, meski persekusi dan pelecehan terhadap Islam dan tokoh ulama masih terus berlanjut. 

Ketiga, sosok IBHRS seolah telah menjadi simbol persatuan kaum muslimin di Indonesia yang diharapkan akan membawa perubahan lebih baik bagi negeri ini. Umat seolah merindukan sosok yang mampu membela dalam ketertindasan dan mengawal dalam perjuangan menegakkan keadilan di tengah maraknya fitnah dan kezhaliman yang dilakukan baik oleh rezim ataupun individu sekuler kapitalistik. 

Sungguh pemandangan yang tak lazim memang jika kita melihat lautan manusia yang menyambut kepulangan pimpinannya. Apalagi bermukimnya IBHRS di Mekah sempat mengundang kontroversi dari berbagai pihak, terutama dari kalangan para pembenci Islam dan ulama di tanah air. Berbagai kalangan pun menilai bahwa kepulangan IBHRS akan mempengaruhi konstelasi politik menjelang Pemilu 2020. 

Gambaran kecintaan umat kepada sosok ulama yang juga pemimpin tentu mengingatkan kita kepada kecintaan kaum muslimin kepada sosok Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam yang juga seorang pemimpin. Hal ini menjadi bukti kebenaran bahwa ulama adalah pewaris para Nabi berdasarkan hadits berikut: 

“Abu Ad Darda berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Daud) 

Semakin sempitnya kehidupan akibat krisis multidimensional menjadikan umat semakin rindu akan kepemimpinan yang mengayomi dan memberikan kesejahteraan. Kepemimpinan yang langka ditemukan di alam kapitalisme sekuler dimana sebagian besar pemimpin negeri-negeri muslim telah 'menyerahkan diri' kepada kepentingan global penguasa dunia demi manfaat duniawi semata. Kepemimpinan ini hanya dapat ditemukan dalam sistem Islam yang menebar rahmat kepada sekalian alam. 

Sudah selayaknya kaum muslimin berada di bawah naungan satu kepemimpinan umum Khilafah Islam yang akan menerapkan Islam secara kaffah di muka bumi ini, sehingga hilanglah berbagai fitnah dan kezhaliman di tengah umat berganti dengan rasa aman dan sejahtera, sebagaimana janji Allah subhaanahu wa ta'aala dalam ayat Alquran berikut ini: 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) ituń∑, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55) 

Ahlan wa sahlan wahai Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Perjuangan masih panjang namun kemenangan sungguh telah semakin dekat. Allaahu Akbar! []

Oleh: Lely Herawati, Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar