TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

UU Ciptaker Omnibus Law Bukti Matinya Demokrasi



Meskipun mendapatkan penolakan dan pertentangan dari berbagai pihak, UU Cipta Kerja Omnibus Law akhirnya disahkan oleh DPR pada Senin (05/10/2020). Tak ayal lagi, pengesahan UU ini memicu demonstrasi besar-besaran dari berbagai kota di Indonesia. Gabungan massa dari buruh, mahasiswa, dan pelajar bersatu menuntut agar UU ini dicabut kembali karena dianggap kontennya merugikan rakyat.

Bentrok aparat dengan pendemo tak dapat dihindarkan. Video pendemo dikeroyok aparat bertebaran di dunia maya. Darah rakyat tertumpah hanya untuk menyuarakan haknya. Mirisnya, pelakunya adalah mereka yang digaji oleh rakyat. Baju dan perlengkapan yang mereka pakai pun berasal dari uang rakyat.

Rezim berdalih UU Ciptaker ini adalah bentuk tanggung jawab negara dalam menciptakan lapangan kerja. Sayangnya, kontennya justru mendegradasi hak-hak para pekerja. Bahkan, jika dilihat lebih dalam, UU Ciptaker ini lebih memihak para kapitalis. 

UU ini tak layak disebut sebagai UU Cipta Kerja namun lebih tepat disebut sebagai UU Cipta Investasi. Kemudahan dalam membuka lahan dan izin lingkungan tanpa melibatkan pemerintah daerah adalah bukti bahwa UU ini lebih menguntungkan para pemegang modal. Hal ini, tentu memberikan angin segar bagi para kapitalis untuk menggarong Sumber Daya Alam yang seharusnya menjadi hak rakyat. Para kapitalis ini lebih leluasa merampok kekayaan alam karena dilindungi oleh UU.

UU Ciptaker Omnibus Law ini semakin membuka topeng sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri. Kepentingan kapitalis di atas kepentingan rakyat. DPR yang seharusnya mewakili rakyat namun justru membela pemilik modal. Suara rakyat tak di dengar. Jerit dan tangis pun tak digubris. Padahal mereka duduk di kursi empuk berkat suara rakyat. Lalu dimana mantra demokrasi yang terus didengungkan bahwa kedaulatan di tangan rakyat? Ternyata semua hanya ilusi. 

Hari ini kita saksikan matinya demokrasi. Namun anehnya masih banyak rakyat yang merasa nyaman untuk terus dibohongi. Padahal, sudah berkali-kali mereka diberi bukti dan disakiti.

Fakta ini, mestinya menjadikan rakyat menjadi sadar. Bahwa sistem demokrasi kapitalisme yang diterapkan di negeri ini begitu menyengsarakan dan menyakitkan.

Sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar. Semestinya rakyat tidak malu melirik Islam sebagai solusi. Dalam Islam, rakyat bebas mengoreksi penguasa jika melanggar hukum syara. Kekayaan alam negeri ini pun akan menjadi milik mereka. Bukankah setiap orang menginginkan keadilan dan kesejahteraan? Dua hal ini, hanya dapat diraih dalam aturan Ilahi yaitu sistem Islam yang akan menerapkan Syariah secara menyeluruh. Bukan hanya kesenangan dunia, namun kebahagiaan akhirat akan mereka raih karena hanya sistem Islam yang mendapat ridha dari Ilahi. Untuk itu, saatnya rakyat mencampakkan demokrasi dan beralih ke Sistem Islam yang mendapat naungan dari Ilahi. []


Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Harusnya diselesaikan dengan baik dan tanpa berlebih-lebihan. Lama-lama satu negara bisa jadi buruh semua, kecuali pemimpinnya. Pemimpinnya kasih gaji suka-suka, sebelumnya buruh protes cuman dipecat saja akhirnya kalau buruh protes ditembak mati.

    BalasHapus