Ustaz MIY Ungkap Pangkal Ketidakadilan dan Kezaliman

Foto: Ustaz Karebet W (kiri), Ustaz Ismail Yusanto (tengah), dan KH Rokhmat S Labib dalam acara Maulid Nabi 1442 H



TintaSiyasi.com-- Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (MIY) ungkap pangkal ketidakadilan dan kezaliman yang terjadi saat ini. "Jadi pangkalnya ada dua, sistem yang buruk, yang bersumber dari filosofi yang buruk tadi itu dan pemimpin yang buruk, karena dia merujuk kepada sistem yang buruk tadi itu," ungkapnya dalam acara Maulid Nabi 1442 H bertajuk Cinta Nabi Cinta Syariah, Tegakkan Keadilan, Lenyapkan Kezaliman, Kamis (29/10/2020) secara daring.

Ia kembali menegaskan, ketidakadilan dan kezaliman ini akibat menerapkan hukum buatan manusia. "Ketika kita menerapkan hukum yang dibuat oleh manusia, yang terjadi adalah ketidakadilan, kezaliman," tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ketidakadilan dan kezaliman tersebut sudah sangat kasat mata. "Saya kira sudah kasat mata siapa pun bisa melihat," jelasnya.

Selanjutnya, ia menunjukkan berbagai ketidakadilan dan kezaliman tersebut, misalnya:

Pertama, di bidang hukum, yaitu telah tampak jelas adanya perlakuan hukum yang berbeda, hukum itu tajam kepada lawan tumpul kepada kawan.

Kedua, wakil rakyat. Menurutnya, jika sesuai namanya mestinya bekerja untuk mewakili rakyat, berpihak kepada yang diwakili, tapi malah merugikan. "Tetapi dia membuat peraturan perundang-undangan yang justru merugikan yang diwakili, berarti disitu pasti ada ketidakadilan atau kezaliman," paparnya.

Ketiga, pemerintah. Ia mencontohkan, munculnya UU Omnibus Law dan UU Minerba yang mendapatkan protes dari rakyat. Ia merasa, undang-undang ini lebih menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap korporat. Menurutnya, sekarang ini sudah tidak ada lagi demokrasi, tapi korporatokrasi, yang dipastikan dapat menimbulkan ketidakadilan dan kezaliman.

"Nah, makanya orang kemudian mengatakan bahwa ini sebenarnya bukan demokrasi, kedaulatan ditangan rakyat, tapi kedaulatan di tangan pemilik modal, bukan demokrasi tapi korporatokrasi. Nah, ketika itu terjadi, pasti akan timbul apa yang disebut tadi, kezaliman kepada rakyat. Kezaliman dan ketidakadilan," jelasnya.

Kemudian, Ismail juga memaparkan pangkal ketidakadilan dan kezaliman selanjutnya, yaitu pemimpin yang buruk. "Kemudian yg kedua, pemimpin. Nah pemimpin ini dia sebenarnya berpihak kepada siapa?" katanya.

Ia merasa aneh, ketika mendapati seorang pemimpin yang malah pergi, saat rakyatnya datang memprotes. Tapi menurutnya, lebih berbahaya lagi, pelaku kezaliman yang sudah tidak merasa bersalah lagi akibat ketidakadilan dan kezaliman yang banyak terjadi.

"Nah, justru di situ (sudah merasa benar), ketika ketidakadilan sudah begitu rupa, kezaliman sudah begitu rupa, maka yang melakukan kedzaliman itu sudah tdk merasa lagi bahwa dia salah, nah itu sangat berbahaya, apalagi kalau dia sudah tutup mata, tutup kuping, tutup pikiran, sudah selesai itu," jelasnya.

Menurutnya, semua itu menunjukkan buruknya pemimpin akibat keberpihakannya terhadap korporat. "Sebenarnya pangkal dari semua itu apa? Pangkal dari semua itu adalah dirinya, atau berpihak kepada orang yang mendukung dirinya, korporatokrasi itu sebenarnya sebagai sesuatu yang wajar, yang jamak bahwa orang itu akan membuat sesuatu demi kepentingan dia, tidak ada itu yang disebut dengan kepentingan rakyat dalam faktanya sekarang," jelasnya.


Solusi Ketidakadilan dan Kezaliman, Terapkan Aturan Allah

Ismail menunjukkan, pemimpin yang baik itu yang tunduk pada aturan-aturan Allah. Karena itulah yang akan membuat ketidakadilan dan kezaliman tidak akan terjadi.

"Pemimpin yang baik itu, pemimpin yang dia mesti tunduk kepada sistem yang baik, tunduk kepada sesuatu yang memastikan dia akan bisa menjalankan kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Itulah tunduk kepada Allah SWT, tunduk kepada aturan-aturanNya, kan dari Allah SWT. Kezaliman ketidakadilan tdk akan terjadi, karena dia punya pegangan," jelasnya.

Itulah sebabnya, Ismail menyebutkan, dibutuhkan aturan yang kedaulatannya berada di tangan Allah SWT bukan di tangan rakyat.

"Maka sebenarnya bukan kedaulatan di tangan rakyat tapi kedaulatan di tangan sesuatu, yang dia tidak punya kepentingan apa pun di dalam aturan-aturan itu, tidak punya interest, dia tidak butuh segala sesuatu itu, siapa itu? Itulah pencipta manusia, Allah SWT. Makanya mestinya kedaulatan itu bukan di tangan rakyat tapi di tangan Allah SWT, as-siyadatu li asy-syar'iy, kedaulatan di tangan syariah," pungkasnya.[] Reporter: Dewi Srimurtiningsih, Editor: Ika M

Posting Komentar

0 Komentar