Unjuk Rasa Para Pelajar, Harusnya Diapresiasi



Gelombang demo menolak pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) mewarnai wajah negeri yang lusuh ini. Di tengah pandemi, pemerintah bermain api. Pasalnya, RUU Omnibus Law yang banyak ditentang disahkan secara tergesa-gesa dan di waktu pekat malam.  

Para demonstran dihalau dan dihadapkan dengan aparat. Polresta Tangerang mencatat sedikitnya 208 pelajar diamankan dalam aksi demonstrasi tersebut.

Diketahui, pada (8/10/2020) lalu 3.862 orang ditangkap di berbagai wilayah Indonesia. Mayoritas pelajar, yaitu 1.548 orang dari Sulawesi Selatan, Jakarta, Sumatra Utara, dan Kalimantan Tengah (cnnindonesia.com, 14/10/2020).

Aparat mengancam tidak akan memberikan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang biasa digunakan melamar pekerjaan pada pelajar yang terlibat aksi demo tolak UU Omnibus Law. Ancaman itu bertujuan membuat jera pelajar lain dan mencegah keburukan yang dapat merugikan pelajar.

Ancaman aparat kepolisian justru menuai gelombang penolakan baru.  Mulai dari KPAI, Kontras, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), hingga pengamat kepolisian. Pasalnya hal itu bisa membunuh karakter kritis generasi penerus negeri.

Ubaid Matraji selaku Koordinator JPPI menilai rencana kepolisian mempersulit penerbitan SKCK ialah tindakan membatasi gerakan aspirasi para pelajar. Ia menyatakan demonstrasi adalah tindakan mulia, apalagi demokrasi menjamin kebebasan berpendapat. Jika demonstrasi dianggap sebagai tindakan kriminal, hal ini mengonfirmasikan pada publik bahwa aspirasi dibungkam dan dikriminalisasi (tribunnews.com, 16/10/2020).

Sangat berlebihan jika aparat memberi ancaman pada peserta aksi demo penolakan UU Omnibus Law. Sejatinya, negeri yang dilabeli demokratis ini menjunjung tinggi hak asasi manusia, salah satu wujudnya adalah kebebasan berpendapat. Naas sekali jika aparat memberi ancaman yang bertentangan dengan label negeri ini.

Padahal aksi demo para pelajar menunjukkan rasa peduli terhadap bangsa. Mereka berani turun ke jalan menyuarakan aspirasi. Hal itu patut diapresiasi bukan justru dipersekusi dan berujung jeruji. Keberanian dan kepedulian pelajar harus dimotivasi dan diedukasi agar tidak berakhir kericuhan.

Edukasi dan motivasi politik harus diajarkan dengan benar. Politik yang bermakna riayah syuunil ummah, memelihara urusan ummat. Bukan politik mencla mencle di ranah demokrasi yang seringnya terintimidasi.

Demokrasi diam membisu saat ancaman aparat dipertontonkan. Kebebasan berpendapat hanyalah bualan. Tak ada jaminan kebebasan untuk rakyat yang menyuarakan kebenaran dan keadilan. Kebebasan hanya turuntuk orang yang punya modal dan kepentingan.

Jika tindakan semena-mena aparat dibiarkan demi melanggengkan kebijakan rusak, maka cermin generasi mendatang akan lebih rusak dari aparat saat ini. Politik yang diterapkan saat ini akan membentuk generasi mendatang hanya menjadi kacung dan pecundang.

Ajal negeri ada di tangan generasi. Jika generasi lumpuh kekritisan dan kepeduliannya, maka negeri itu sudah dekat dengan ajalnya. Sebaliknya jika generasi bergelora dalam membela urusan ummat dan bangsa, maka negeri akan terus berjaya.

Sementara politik yang benar hanya akan terwujud dalam tatanan pemerintahan Islam. Syariat Islam mewajibkan kholifah untuk memelihara urusan rakyat, termasuk generasi penerus bangsa. Kholifah wajib menjaga keamanan rakyat. Termasuk saat dirinya mendapat muhasabah (kritik dan masukan) dari rakyatnya. Terlebih jika yang memberi masukan dan kritik adalah generasi muda.

Generasi muda memiliki peran strategis sebagai lokomotif utama bagi penyebaran Islam dan tegaknya peradaban. Secara fisik, idealisme dan motivasi mereka sangat kuat. Negara khilafah akan mengapreasiasi kepedulian mereka dan  melindunginya, bukan mengkriminalisasi.

Rasulullah Saw. bersabda:
“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang dzalim.” (HR Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Nasa’i, al-Hakim, dan lainnya)

Demikianlah Islam memberi ruang pada kritis dan pedulinya generasi. Sudah saatnya generasi muda menyuarakan kebenaran, berdiri melawan kedzaliman, serta memaksimalkan semua potensi diri berupa keimanan, kecerdasan, keberanian dan kekuatan fisiknya. Wallahu a'lam.[]


Oleh: Afifah Rasyad

Posting Komentar

0 Komentar